Kira-kira seminggu yang lalu saya terima surat (ya surat bukan e-mail) dari TEMPO.
Surat tersebut secara singkat menjelaskan kalau masa berlangganan Saya akan habis di edisi 3631 (24-09-2007). Dengan nomer langganan 029835 (a.n. Abdi Januar Putra).
Memang sih kalau diingat-ingat lagi sudah setahun saya berlangganan Majalah Tempo ini. Surat ditanda tangani oleh B. Demiat S. Dasuki (Ka.Sie. Customer Service). Untuk memperpanjang silahkan hubungi Customer Service TEMPO, Lt. 4, Jl. Pal Merah Barat No.8 Jakarta Selatan – 12210.
Begitu dapat surat tersebut (ya, ya, ini surat bukan e-mail), saya langsung e-mail (ya, ini saya email bukan ngirim surat) ke cs@tempo.co.id seperti yang ada tertulis di suratnya (ya you know, ini surat gitu loah). Saya tuliskan melalui e-mail kalau saya akan memperpanjang langganan Majalah Tempo untuk satu tahun ke depan. Yeah, untuk 3 hari e-mail saya tiada berbales. Dalem hati saya, walah, ini tempo jangan-jangan harus dikirim ’surat’ bukan ‘e-mail’ ahaaa.. hareee geneee!
Sebenernya supaya tidak bertele-tele, sebelum saya mengirim e-mail, saya sudah coba tilpun langsung ke jalur panas (baca hotline) mereka 021-5360409, tapi tiada suara sedikitpun. Mesin IVR nya tiada respons secuilpun (halah). Besuknya saya coba tilpun lagi en still no words/voices. Ini tilpun saya yang dodol atau layanan CS Tempo yang jenang (konco-nya dodol hihi..). Tapi yang pasti sampai sini TEMPO MENGECEWAKAN saya ihiks.. ihiks.. (nangis dipojokkan) (more…)
Ramadhan Datang.. Alam pun Riang..
Akhir-akhir ini saya sedikit grogian nyetir.
Sebenernya akika agak malyu juga mau nulis thread ini, bok. Gak ada gagah-gagahnya gitu loah! Masak LAKI-LAKI nongtong
Semua mengalir lancar dari penilaian “eksekutor”, dan tiga orang yang masuk zona kritis akan divote oleh 100 juri votelock. Unsur subjektifitasnya masih ada, yah tapi betterlah dari program musik lain saya fikir.
Dapet timpukan dari dua orang sekaligus,
“Bener pak, Saya tidak bohong. Saya dari Telkomsel”
Saya lagi di pantry mau ngambil aer-putih ketika si Emma sang resepsionis dateng. Iyah, haus sekali. Ya, saya baru makan lontong pecel yg rasanya moy dan agak peudas. Lontong pecelnya dibeli otong, OB kantor, didepan PLN Wilayah katanya, dan sampek sekarang saya gak tau letaknya dimana? Udah pernah searching bareng si fanny tapi gak nemu juga. Siyal, kita hujan-hujanan kemaren nyari tuh lontong pecel eh, udah ngider-ngider kebasahan tetep juga sosok warung yg digambarkan si Otong belum keliyatan juga. Akhirnya pulang beli mie dicampur kuah gado-gado di dekat pasar Aceh. Slurrp.. eunak euy!