167. Jalan-jalan ke Blog yang lain.. 100kata!

B-Readers.. Membaca yuks..!!!

Pelacur Itu

Gadis itu masih muda. Usianya lima belas tahun mungkin. Mengingatkanku pada anak perempuanku.

Empat belas tahun lalu, kutinggalkan istri dan anakku. Tergoda tubuh seorang pelacur. Yang mampu memuaskan hasratku di tempat tidur, melebihi istriku yang perempuan desa biasa.

“Om?”. Suaranya membuyarkan pikiranku. Dia berdiri di depanku, menadahkan tangan.

Ku keluarkan selembar uang. Disambarnya uang itu dengan cepat dan melangkah pergi.

Aku baru saja tidur dengan seorang pelacur. Lagi.
Aku berdiri. Ada sesuatu di lantai. Selembar foto tua. Mungkin terjatuh dari tasnya tadi.
Di foto itu ada sebentuk wajah. Istriku. Dan seorang gadis kecil.

Di balik foto tertulis, “Aku dan ibu”

—– ||| —–

Aku Mencintainya

Aku mencintainya.

Apapun kata orang tentang dia. Mereka cuma iri melihat kami. Melihat kebesaran cinta kami. Dia pun hanya mencintaiku. Tak pernah berakhir.

Aku mencintainya.

Apapun kabar yang disampaikan orang tentangnya. Bahwa dia berselingkuh. Dia berkencan dengan berbagai wanita.

Aku harus menjaganya. Dari gunjingan orang. Dari kabar burung yang dihembuskan orang. Dari iri dan benci orang-orang yang tidak senang melihat cinta kami. Bahagia kami.

Malam ini kubuktikan kebesaran cintaku. Malam ini kuperlihatkan kepada dunia bahwa dia hanyalah milikku.

“Aku mencintaimu, suamiku”, bisikku sambil mencabut pisau yang kuhujam ke dadanya, sesaat setelah ku gorok leher perempuan yang tidur di sampingnya.

Dia milikku.
Aku mencintainya.

—– ||| —–

SMS

Dia : Aku kangen
Aku : Aku juga
Dia : Kita ketemu yuk
Aku : Tidak hari ini. Suamiku di rumah.
Dia : Tapi aku rindu. Persetan dengan si bangsat itu.
Aku : Jangan katakan itu. Kau tahu dia suamiku.
Dia : Kenapa kau pilih dia. Bukan aku.
Aku : Karena aku lebih dahulu bertemu dengannya.
Dia : Aku lebih kaya dari dia, lebih muda, dan lebih bergairah.
Aku : Jangan sombong! Tanpa dia kita tidak akan bertemu. Tanpa dia aku bukan siapa-siapa. Kau bukan siapa-siapa.
Dia : Tapi karena dia, aku tidak bisa bebas bercinta denganmu. Jadi, persetan dengan si jahanam itu.
Aku : Jangan sebut Bapakmu sendiri dengan panggilan itu.

—– ||| —–

Istriku

Istriku menghilang.
Sudah tiga bulan tidak pulang.

Ayah, dan ibunya pergi mencari ke seluruh negeri, bahkan ke luar negeri.

Kakak-kakaknya berkeliaran ke semua rumah sakit dan kantor polisi, bahkan rumah pelacuran, dan gedung-gedung kosong.

Tetangga-tetangga kami membantu menyebar informasi lewat internet, mailing list, web site, dan menempel poster di setiap batang pohon dan tiang listrik yang mereka temui.

Hampir setiap hari mereka mengunjungiku. Menghiburku. Merawatku.

“Sabar ya, tetaplah berdoa”. Demikian mereka berkata.

Aku tidak bisa berbuat apa-apa.
Yang bisa kulakukan hanyalah menatap ke rimbunan bunga lily kesukaan istriku, di kebun belakang.

Tempat kukuburkan tubuhnya, setelah kuhabisi nyawanya tiga bulan lalu.

—– ||| —–

Cincin

Berlian itu berkilauan tertimpa cahaya lampu
Perempuan yang begitu sempurna. Yang begitu kucintai. Yang begitu mencintaiku.

“Cincin ini sangat sempurna. Cantik. Sangat cocok untuknya.”, kata Jack, sahabatku sejak kecil, ketika aku perlihatkan cincin itu kepadanya kemarin siang.

Malam ini akan kubuat kejutan untuk kekasihku. Malam ini aku akan melamarnya. Dia mengira aku ke luar kota malam ini.

Saat ini aku terpaku di dalam mobil. Dari seberang jalan kulihat dia. Di teras depan rumahnya. Dan Jack. Berdua. Berpelukan. Berciuman mesra.

Kuputar setir dan kuinjak pedal gas kuat-kuat.

Yang terakhir kulihat adalah wajah terkejut mereka, melihat mobilku melaju menghantam tubuh mereka.

Gelap.

—– ||| —–

Setia

“Pagi, sayang” ucapku sambil menatap wajahnya.

“Hari ini kamu kelihatan manis” pujiku. “Sumpah! Aku tidak bohong.”

“Hei, kamu pikir aku, suamimu, bohong?” sambil menunjuk mukaku sendiri. “Aneh, ya? Mungkin karena aku jarang memujimu. Aku pun sudah lupa kapan terakhir kali aku memujimu.”

“Ya, sudah kalau tidak percaya.” kataku sambil tersenyum. “Satu lagi, aku juga ingin kamu tahu kalau aku bahagia sekali. Bahagia meski harus pulang larut dan letih karena seharian bekerja.”

“Tahu kenapa?” tanyaku. “Karena kamu……akan selalu ada di sini. Kamu akan selalu menantiku sampai aku pulang.”

“Aku pergi dulu.” Kukecup keningnya, sebelum menutup perlahan lemari pendingin yang menyimpan tubuhnya.

—– ||| —–

Pufhh.. Menarik bukan?

Gw selalu bilang kalau membaca adalah hobby yang sampe sekarang gw tekuni! hehe.. walaupun itu cuma membaca komik! Teros gw juga selalu bilang kalau bagi gw menulis adalah berbagi dengan orang lain! hehe.. walaupun cuma menulis BLOG aja gape’ nya.. sing penting iso nulis.. iya gk seh?

Kalau buat cerita pendek gw mungkin bisa! TAPI kalau membuat cerita dengan hanya 100 huruf? Wah.. kelihatannya gw harus kasih 4 jempol ke mereka yg nulis deh! hihi.. buat B-Readers yg pengen baca semua cerita yg ada silahkan jalan-jalan ke 100 kata dan iqra’ atau bacalah.. Salut gw haturkan untuk penulisnya.. kapan gw bisa yah ngepasin cerita pendek jadi hanya 100 huruf saja? Kebanyakan malah gw pengen nulis pendek eh.. jadinya malah berlembar-lembar folio! Pengennya nulis beberapa baris saja eh.. malahnya jadi ber-paragraf-paragraf.. Auk ah.. 🙂

100 kata? fiuh.. interestin..

Abe Poetra
*Membaca adalah Hobi..
*Mendengar adalah keharusan..
*Menulis adalah berbagi..
*Keep reading.. Keep Listening.. Keep Writing.. Abe!

Advertisements

7 thoughts on “167. Jalan-jalan ke Blog yang lain.. 100kata!

  1. Hari ini, teringat setahun yang lalu

    Saat kau berdiri di pintu rumahku, dan bilang, “Jangan pergi jauh, Mima. Tinggal saja di sini, di hatiku”
    Aku terdiam lama, menyimpan ragu
    “Kau tidak pernah sanggup membuat hatiku mencinta,” jawabku dalam hati
    “Ya, tentu saja. jangan khawatir,” seruku mantap
    Dan kau pun pergi, dan berjanji akan datang lagi secepatnya, diiringi tanyaku untuk Sang Khalik,
    “Yaa Allah, mengapa dia?”
    Dan cerita pun bergulir………
    Hingga suatu waktu, beberapa ratus hari ke depan
    “Aku mau pergi, Mima. Ada dia yang sanggup membuat kekosongan yang kau cipta di antara kita terisi oleh kehangatan ketulusannya,” ucapmu
    Aku hanya bisa terdiam, berucap dalam hati
    “Pergilah, sebab ikatan di antara kita, tidak akan bisa membuatku menikmati senyum dari RUMAHkoe, pemilik hatiku sesungguhnya”
    Aku terisak pelan, membuatmu membelai tanganku, dan berucap,
    “Jangan menangis, Mima. Cinta tak harus selalu memiliki. Lupakanlah aku”
    Aku memang tidak pernah mengingatmu, karena setiap inchi hatiku dipenuhi oleh senyum, tawa, cerita, dan semua tentang RUMAHkoe, si pemilik hatiku. Tidakkah kau mampu rasa????
    “Aku mengerti, Sia***. Pergilah, kau pasti bahagia,” kataku pelan
    Dan kau pun beranjak menjauh. Aku tersenyum. Kau adalah duri di tengah cinta yang aku miliki diam-diam untuk RUMAHkoe.
    Hari ini, yah…hari ini
    Seperti biasa, RUMAHkoe datang menyapa
    Waktu berputar cepat, tiba waktunya aku harus pamit
    Kucium RUMAHkoe, sedikit di pipinya, lalu beranjak pergi
    “Jangan pergi jauh, Mima. Tinggal saja di sini, di hatiku”
    Aku menoleh, menggigil walau pagi tak lagi penuh embun dan kabut
    Aku tidak tau harus menjawab apa
    Cuma bisa menelan ludah yang tiba2 terasa pahit
    Yaa Allah, semoga ini bukan pertanda.

  2. abis baca ceritanya dalam hati…………..
    GEDUBRAKKK
    ending ceritanya selalu megejutkan
    aku bener – bener suka

  3. wuah,,,seru tuh,,,keren hanya seratus kata and ceritanya lucu abisssss,,,,semangat terus ya cerita pendek:razz: seratus kata yang lebih,,,lebih…dan lebih…:lol:

Comments are closed.