LINCHPIN: Are You Indispensible (Tak Tergantikan Kah Anda?)

(Photo ndak tau kopikanan punya siapa, googling. Kalau diminta turunkan ini akan didelete ;))

— Begin Story

Seorang pria disebuah kereta kelas pertama menuju spanyol, merasa girang bukan kepalang. Soalnya duduk didepannya sang maestro, sang jenius lukis, PABLO PICASSO.

http://www.biography.com/people/pablo-picasso-9440021

Ndak lama, setelah mengumpulkan keberaniannya, pria tsb bertanya..

“Hi Señor Picasso, you are a great artist, but why is all your art, all modern art, so screwed up? Why dont you paint reality instead of these distortion?”

Sedikit enggan tuan Picasso malah bertanya “So what do you think reality looks like?” Gegas dia mengeluarkan dompet dan menunjukkan photo istrinya. “Ini adalah realitas, bukan kubus kubikal yg tdk menarik utk dilihat..”

Picasso tersenyum “Benarkah? Istri anda mungil dan juga biasa.” Kalimat yg reaktif ditangkap oleh sang pemuda seolah Picasso marah. Padahal tidak sama sekali.

— end story

Cmiiw banget. Adalah salah ketika bertanya kenapa memilih kubisme abstrak daripada ikut kekinian dgn memilih surealisme yg merupa (melukis) realita. Iyah, kinda dogma, seringnya sensitif utk ditanyakan.. ^_^

Audiobook “LINCHPIN: Are You Indispensible”, yg dibacakan langsung tuan Godin saya drag ulang beberapa kali dan keterkaitannya dgn subjudul lain baru faham maksudnya Picasso ini. Besides, harap maklom, nginglishnya jg pas-pasan.. 😉

Ada beberapa yg bisa disimpulkan, dan ini sok taunya saya saja. Jadi silahkan ditambah atau malah dikurangin.

1. Reality Ain’t Reality!

Maksudnya tuan Picasso menjelaskan realitas tiadalah absolute, apa yg dianggap realitas sama sang pria belum tentu realitas bagi yg lain. Melihat kedepan. Kemajemukan dari tingkatan kubus lukisan inilah yg menggambarkan probabilitas realitas.

Realitas yg terlihat belum tentu realitas yg sesungguhnya. Means, sebagai marketer juga salesman wajib melihat lebih dalem apa sih yg di-mau pelanggan? Cantik adalah relatif. Bagus & jelek kurang lebih sama.

Apa bisa bilang “Hesty Klepek-Klepek” lebih unpopuler dibandingkan “Wali Band” sementara realitanya Hesty lebih banyak dipirsa dibanding Apoy dan kawan-kawan? ✌😍

2. Seeing The Future (Sustainability)

Jadi salesman saat ini ndak gampang. Ndak kayak waktu kecil dulu diminta ibu saya jualan kue. Ada yg beli kasih, terima uang. Kue habis then pulang.

Nah kalau sekarang beda. Jual, review, then see daya tahannya. Wajib melihat kedepannya indeks kekayaan merk (BEI) masih bagus ndak? Pusing sudah pasti. Aktifitas menjual serampangan malah bisa mencederai brand. Iyah, ini umum memang tapi acap ndak semuanya faham.

Apakah “linchpin” selalu baik dan apakah kalimat “indispensible” bukannya kalimat suicide yg harusnya diganti “enrichment”? Kalau mampu ntar dishare lagi yg menarik lagi. Puasa soalnya hehe..

#PleaseShootYourCommentsHere
#AndLemmeKnowYourBriliantIdeas

✌️😁

– – with Dimas [iNyong], Bayu Syahrial, Aris, Bagus, and Ardee at Kota Lubuklinggau

View on Path

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s