Tentang Candor atau Berterus Terang – Winning Jack Welch

Guys, ini izin berbagi.. ^_^

Ndak tau jg yah, mungkin ini nuduh. Eventhough you’ve already read “Winning Books” couple times dari manusia cerdas nan bijaksana named, Jack Welch, tetap aja mempraktekannya ndak gampang.

Chapter by chapter coba iqra. Suwer. I’ll bet all on my words, sulit jendral.. 😂

Sepanjang tahun 2014 lalu kita coba bahas tentang buku ini with all team Bengkulu. Yah, berdasarkan pemahaman kami. Dan dgn kesadaran belajar bersama. Bukan satu arah monolog saya ke team, but dialog.

# Talking About CANDOR

Oke, lanjot. Bagian yg paling menarik adalah “berterus terang” atau “candor”. Satu kata saja dan dibahas sama tuan Welch di chapter tersendiri. Iyah, betapa pentingnya.

Selalu yg kita sepakati challengenya bukan bicara apa adanya, tapi lebih pada kata “santun” atau tidaknya dalam penyampaian kalimat apa adanya tadi.

KENAPA sih kata CANDOR jadi penting?

Kalau melihat dari halaman 27, kalimat yg paling atas dari buku winning yg saya capture-kan ini. One that intriguing me. Berkomunikasi internally. Coba saya tulis ulang kalimatnya:

“FORGET outside competition, when your own worst enemy is the way you communicate with one another internally”

~ Jack Welch, Winning.
___

Ini pernyataan yg sederhana, but poor me ndak sederhana dieksekusinya.. 😉

#Terapan dari CANDOR (Berterus Terang)

Saya dan kawan-kawan disini ndak faham juga bagaimana bentuk “terus terang” yg baik itu bagaimana. We figure it out by doing. Ngalir aja, dan dilead oleh saya manager yg arogant dan sounds kitsch.

And it works, minimalnya diantara kami. Minimalnya “collaborate” yg digadang atasan saya ndak hanya dibibir saja atau ndak cantik dideck presentasi beliau saja. We do believe that & die trying.. ^_^

Menurut penilaian saya, bisa jadi naif, all the team here have moved to the “better communication”. Ndak hanya sales and network, but our parent company (TELKOM) juga. We try to make “solid” bukan hanya berhenti dikata saja tapi jg perbuatan.

Gambaran utk CANDOR misalnya berikut:

About “Finonacci Project”, kenapa kita sepakati sebagai eksekusi dari arahan “Kolaborasi Internal” dari atasan?

Bukan pada esensi “how to work on it & gaining revenues” akan tetapi lebih pada pentingnya “memahami satu sama lain secara khaffah sales & network”.

Bagaimana saya salesman yg egois ndak blaming network jika achievement turun. Dan tepul dada ketika menjadi nomer satu. Bercermin utk diri sendiri adalah susah. Ini kenapa sales duluan yg mulai candor-things.. 😉

Dus, candor is the essence utk membuat project ini jalan. Mengentaskan rikuh, grogi, gamang, dan perasaan ndak enak. Apapun namanya yg paling penting adalah “kolaborasinya” bukan pada pekerjaannya.

THEN AGAIN, about “NSAD Project” yg mana sebenernya adalah konsep “ekonomi berbagi”. Perwujudan dari yang disebut atasan saya waktu itu “kolaborasi eksternal dgn mitraAD”. Iyah before doing sales, internal dan ekstenalnya harus closed dulu guys.

It needs candor; tentang sanggup atau tidaknya mitra AD kami. Tentang berterimanya persyaratan mitraAD tentang KPI dan growth bisnis mereka, di saya & team. Komitmen dua arah, kesepakatan bersama, yg tentunya wajib menang-menang (win-win solution). 😉

NSAD Project adalah konsep penambahan network support yg saya ceritakan ke Pak Marwan, Owner Sinar Telekom di Lahat dan Pak Artiko, Direktur Arifindo di Puncak waktu team Arifindo gathering. Dan ternyata berterima. Alhamdulillah disupport.

Bukan pada kata “egois” yg membuncah ndak juntrungan atau gagah-gagahan supaya kelihatan hebat diatasan saya atau management Telkomsel, AKAN TETAPI kayak Prof Hiro Tugiman dosen saya di Tel-Univ, economic sharing untuk mencapai tujuan dgn hasil yang lebih baik.

Berkolaborasi dari semua yg dipunya. Perhitungan yg logis dan berterima didua sisi.

Sehingga, ketika kalimatnya “Kami sebagai mitra setuju banget pak, wlaau ndak ada dalam PKS. Anu, tapi siapa yg membina ini Network Support by AD? Soalnya kami ndak punya kompetensi network, Pak Abie?”.

See my point, bukan pada budget yg ndak ada tapi kekhawatiran siapa yg nge-training & managed outsource network yg mereka bayar. Saya langsung jawab “Bapak ndak usah khawatir, you have budget sir and we have knowledge that you worried about”.

Hihi, bukan saya yg managed tapi teamnya bg syahruna. Saya kecipratan hasilnya saja. Assurance bagus, qualitynya bagus, then menjual experiences yg kami coba gadangkan bisa dideliver. Semoga.

Okeh itu aja dulu, mungkin kalau ada waktu, saya akan coba explore lagi. Ndak janji.. 😉

And please dikomentari yah. Semoga jg ndak salah ucap, eh slaah kteik. Pun kalau salah dari segenap hati ini saya mohon maaf!

Semangat hari minggu duhai kawan-kawan yg ditagging, yang berhasil berkomunikasi secara internal..

Be candor and respect! ^_^

– – with Oka, Aris, Rofik, Dona, Tomi, Dimas [iNyong], Ardee, Arie, wahyudanto , Erik, Moehammad, Rebecca, Bagus, Deddy, ridho, Bayu Syahrial, Doan, Syahruna, Bambang, and Gioliano at Bengkulu

View on Path

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s