Month: November 2015

Listening to Salam Alaikum by Harris J.

Ini lagunya asik..

“Salam Alaikum”

Ndak salah kalau jadi “Hot Track” Apple Music pagi ini. Suaranya renyah bin iramanya pas nenanglan jiwa.. ^_^

Assalamu Alaikum semua sahabat..

Listening to Salam Alaikum by Harris J. with Fanny at Bengkulu

Preview it on Path

Advertisements

Welcome Back Pak Andi Kristianto

Guys,

This post tributes to Pak Andi Kristianto. A telco professionals, pendakwah technology, also a blogger yg baru saja kembali dari hiatus.. ^_^

https://andikristianto.wordpress.com/2015/11/28/inovasi-reality-bites/

Back for good.. 😊

Seperti yg selalu saya sharing ke team Telkomsel Bengkulu & Team MitraAD disini.

Bingung waktu accidentally ditunjuk jadi Manager sama perusahaan. Satu hal, biasanya selalu eksekusi tanpa mikir strategic & managerial things. And, karena dah “terlanjur” jadi manager should be aware to those things.

Googling di Yahoo! then nemu buku bagus “WINNING”. Yang maraton dua kali dibaca selama bulan pertama di Bengkulu.

Membaca buku Winning Jack Welch ini ndak serta merta mampu nerapkannya di Branch Juara. Perlu pandangan lain yg meng-collaborate plus elaborate what mr. welch said dan terapannya kira-kira gimana. And this question leads to blog-nya Pak Andi.

I already wrote what his preach here:

https://abepoetra.wordpress.com/2015/09/28/what-leaders-are-made-of-ala-branch-bengkulu/

Dan memang, beberapa kali isi blog beliau jadi rujukan kita di Branch Bengkulu ini ketika saya menutup session “KOPI ISI” (kompor budaya Area1, kebiasaan kita berbagi tentang apa saja termasuk buku).

Ada beberapa insight yg menginfluence saya dan saya sudah saya share disini:

1# Yang menjelaskan kenapa “CANDOR” dan “RESPECT” jadi pegangan branch ini dari awal. The key selalu “ndak usah pusingkan kompetitor, kalau masalah utamanya adalah berkomunikasi secara internal”.

2# Kalimat “What Leaders Do” yg berulang-ulang saya share kenapa “semua orang bisa menang”, dan ndak bisa dikuantifikasi sehingga sebenernya ini related to “mindset”. This one awesome. Sama kalimat “leaders celebrate” yg kadang lupak.

3# Kenapa selalu ibu “Nancy Duarte” yg selalu digadang ke all team terkait penjelasan tentang presentasi. Iyah, padahal saya sendiri nervous tiada terkira setiap berdiri utk delivery. Dan itu titik awal kenapa “slide:ology” dan “resonate” saya coba baca juga dan share disini. Belakar bareng sih tepatnya.. 😉

4# Dan, yang hari ini dishare di YOT http://mobile.youngontop.com/yotacademy tentang mengenali diri sendiri. Topik yg suka banget saya dan orang2 dibranch ini bahas.

5# Kenapa Bad Boss itu bukan salah boss-nya tapi lebih sering “instropeksi diri” yg tidak dalem dilakukan. Melihat yg tidak kasat itu susah, but diamond won’t shine brighter kalau ndak diasah itu benar adanya.. ^_^

6# Berkaitan dengan senioritas itu “obsolete”, dan how to make your bos jadi lebih pinter, teamnya jadi genius bukan solo genius, dan perusahaan jadi lebih kompetitif itu karena ide dan insight yg kita gagas. Itu yg harus dilakukan utk “Melebihi Ekspektasi”.

Ah banyak lagi sih, ndak muat lini masa ini kalau ditulis semua. If you do love reading, then you can visit Pak Andi’s blog and resonates there :

https://andikristianto.wordpress.com

After scattered words from me, once again, WELCOME BACK Pak Andi, dari hiatus yg panjang hihi..

Hampir 2 taon lho pak.. ✌️😁

– – with very_kisel, Tomi, Bagus, Andi, Gioliano, Mei , Damitri, Dona, MUKHLIS, Bayu Syahrial, Deddy, Sigit, Oka, Indah, Ardee, Dimas [iNyong], Moehammad, Ernysril, Arie, wahyudanto , Kar, Cisentiya, ridho, Aris, Rofik, Wirahadi, Doan, Bambang, Erik, Wynda, Rebecca, Syahruna, and Fitri at Bengkulu

View on Path

Why We Should DIVE to Digital?

(Image taken from projection number #4 Branch Bengkulu, Designs & Projections 2016)

# Weareables, Disruptive, & Digitalize

Ketika “wearables” (kalau begawan wiki, ivan lanin bilang “sandangan”), become famous dan menjadi trending, ndak bisa dipungkiri ini mendisrupt yang manual. Sebagai contoh adalah “JAM TANGAN”.

Those days are gone. Pasar dan pemasaran yg kata tuan Peter Fisk “market as we know it” sudah berubah. That’s why we need disrupt or to be disrupt. Iyah, “game changer” seperti genius marketer itu bilang.. ^_^

Pertanyaannya bisa jadi kayak gini:

Apa kita butuh “Solid Gold Rolex” kalau “Rose Gold Apple Watch” bisa nginfokan schedule appointment dan juga bisa nginfokan karbo yg kebakar pas exercises dikantor atau menghitung miles ketika berlari?

Atau yg paling epic..

Apa kita butuh “Patek Phillipe” yg harganya bermilyar-milyar yg bisa diturunkan sampai cucu dan cicit sebagai warisan sementara bisa beli puluhan “Android Wear” yg trendy dan dipenuhi banyak aplikasi?

http://www.okewatch.com/blog/jam-tangan-patek-philippe-ini-dilelang-rp-260-miliar/

(Please ndak usah dibayangkan, kalau itu uang dibelikan mobil listrik Tesla, bisa bejejer 185 mobil)

Dan jawabannya juga pasti beragam. Apalagi bicara terkait collectible items. Akan tetapi, bisa dipastikan inovasi disruptif ini mengganggu revenue produsen jam tangan. Dan itu juga kenapa Switzerland mulai pro aktif mengajak semua produsen jam famous disana utk meng-campaign digital.

Wearables tentunya can’t be denied. Pilihannya sedikit, ikutan to be digitalized atau ngotot campaign utk mempertahankan captive market yg sudah susah payah diconstruct dari awal? Hehe, saya ndak mampu predict, ndak nyampek ilmunya. Silahkan dijawab masing-masing.. ^_^

Oiyah, this posting tributes to all team Bengkulu. Sengaja ini ditagging team juara yg lagi “bermain & belajar”. Belajar kalau next year should DIVE to DIGITAL. Bermain untuk lebih rilex dan mingled.

APAPUN. Iyah apapun yg akan di-passing oleh HQ terkait broadband & digital akan kita goalkan dimarih.. ^_*

Seperti pak beye bilang: BERSAMA kita pasti B15A. Hope this universe conspires to help us achieve all target.

Aamiin.. 🙏😍

– – with very_kisel, Tomi, Bagus, Rofik, Gioliano, Mei , Damitri, Dona, MUKHLIS, Bayu Syahrial, Deddy, Rebecca, Oka, Indah, Ardee, Dimas [iNyong], Ernysril, Arie, wahyudanto , Kar, Cisentiya, ridho, Aris, Moehammad, Wirahadi, Doan, Bambang, Erik, Wynda, Sigit, Syahruna, and Fitri at Lahat

View on Path

Resensi Buku Team Genius – The New Science of High-Performing Organizations

Seperti biasa, senin kemarin, kita melakukan Kompor Budaya. Kalau di Sumatera Area-1, namanya KOPI ISI atau “Kumpul ngObrol PagI, menampung aspIraSI”.

Well, intinya berbagi.. Dan giliran saya berbagi senin kemarin. Iyah, bisa dipastikan semua peserta pada ngantuk dan kalaupun mendengarkan karena saya managernya bukan karena contentnya wkwkkw.. Dan saya cuek! 😉

Here we go..

Pertengahan bulan,17 Juli 2015, buku ini saya beli di Amazon versi Kindle-nya. Dan baru selesai baca dua bulan setelahnya. Iyah, so many books and too little times. Dan buku karangan “Rich Karlgaard” dan “Michael S Malone” sangat layak utk dibaca dua kali.. 😉

http://www.amazon.com/Team-Genius-Science-High-Performing-Organizations/dp/006230254X

Again and again, never explained that wording untuk “Reading” dengan “Comprehension”‘itu berbeda, jujur saya masih “baca” tapi yah Alhamdulillahnya masih “ndak faham”.

Heran juga saya, ketika princess Ecca bilang “she already knows that book from swa magazine”. Dan memang bener kayak Ecca bilang, majalah SWA yg belum sempat tak baca padahal udah didownload 2 hari, ada resensi tentang buku TEAM GENIUS ini.

Okeh, to make long story short, ada catetan yg bisa di takeaway utk saya dan team Bengkulu. Berikut 4 hal tentang team genius:

TEAMS: TOMORROW’S NEW PERFORMANCE LEVER

#First, your teams must be capable of surviving whatever today’s brutal economy throws in their path.

#Second, your teams must be designed to work with, not against, your members’ brain structures.

#Third, your teams must be given the support they need to reach their full potential—rather than putting too much faith in any one individual in your organization.

#Fourth, the size and composition of your teams matter greatly when setting strategic goals. We will show you that when teams fail, they are almost always too big.

Yang kami noted disini adalah “Kegagalan team itu karena jumlahnya terlalu besar”.

— lengkapnya please iqra sendiri

Yang menjadi catetan adalah “yes, you can’t work alone”. Dan mengandalkan “solo genius” adalah salah. Banyak yg fokus pada individu yg jenius, tapi sebenernya yg membuat berhasil tidaknya organisasi yah wajib “teamnya yg genius”.

NUMBER DOES MATTER.

Sama kayak Dunbar’s number utk 150 batasan pertemanan. Iyah kayak Path zaman dulu. Selebihnya, based on research, ndak akan bisa dikelola pertemanannya dgn baik.

Angka duo as the power of pair. Let’s say Steve Jobs & Wozniak, Sergey Brin & Larry Paige, atau Pierre Omidyar & Jeffrey Skoll foundernya E-Bay.

Then why 7+2 important. The wild bunch. Inget angka ini “Four Hobbits, One Human, One Dwarf, & One Elf”. Iyah “Lord of The Rings”. And remember guys “The Seven Samurai”. Harry Potter juga sama. Tuan Potter and his four brother (plus the twins) at Hogwarts. Disadari atau angkanya 7 euy.. 😉

Yeah rite, kalau ndak salah tangkep, it ain’t about serendipity, juga bukan happenstance, atau sirkumstansi-nya, sesuatu hal yg baik tentunya wajib yg kata bg Eric, VP Saya, “THIS IS HAPPENED BY-DESIGN”.

Memang udah dirancang sebelumnya, dan bukan by luck.. ^_^

Semangat pagi all team genius sak branch Bengkulu. Walau managernya abal-abal, tapi kalian iyah kalian team-nya jenius. Manager ecek-ecek ini juga kelihatan strong..

Ah beruntung banget punya team kayak kawan-kawan semua.. Izinkan saya menjura untuk semuanya.. 🙏😁

– – with very_kisel, Tomi, Bagus, Gioliano, Damitri, Dona, MUKHLIS, Bayu Syahrial, Deddy, Sigit, Oka, Indah, Ardee, Dimas [iNyong], Ernysril, Arie, wahyudanto , Kar, Moehammad, ridho, Cisentiya, Aris, Rofik, Wirahadi, Doan, Bambang, Erik, Wynda, Rebecca, Syahruna, and Fitri at Telkomsel Grapari Bengkulu

View on Path

Titian Setambang, Seribu Kata, Majalah TEMPO

Dan ini alesan yg akan saya katakan, kalau saya punya suara. Jauh mending bangun jembatan untuk mereka ini daripada bangun kereta cepat Jakarta Bandung yg katanya lewat Sumarrecon misalnya. Ini misalnya lho.. 😉

Warga desa simpur jaya, kecamatan ketambe, kabupaten Aceh Tenggara, Aceh.

Jembatan tempat anak-anak sekolah pulang pergi, dus, jembatan utk para petani membawa hasil panen. Ah, been there, saya pernah disana. Menyedihkan memang. Iyah, timpang kadang keadaannya.

Salah siapa? Saya bingung juga. Entah salah pemerintahnya atau bisa jadi salah kita warganya yg sekarang diberi kehormatan bisa menjadi “citizen journalism” tapi ndak memanfaatkan.

Entah penting atau tidak, entah ngaruh atau tidak, ini saya crossposting ke Path, Fesbuk, dan Twitter. Seminimalnya sama-sama jadi tau.. ^_^

TITIAN SETAMBANG, from TEMPO Magazine, seribu kata, 23-29 November 2015.

*tagging manager aceh ah..

Selamat pagi semuanya!

– – with DENNY ATJEH at Telkomsel Grapari Bengkulu

View on Path

Artinya Lagu Marvin Gaye – Charlie Puth

Guys..

Suka banget sama lagu ini. Dan baru faham maksudnya. Coba dengerin deh..

“Lets MARVIN GAYE gettin on..”
“You got the healing that I want..”

See full videos Marvin Gaye here:

Bukan karena “Meghan Taylor” yg memang agak mbulet nggemesin dgn karakter suara yg crunchy didenger. Bukan juga karena “Charlie Puth” yg suaranya emas banget, yg buat saya tertarik sama lagu ini.

Akan tetapi judulnya “Marvin Gaye” itu yg attracts me much. Penasaran itu kenapa jenius musik keemasan periode 80-an, producer, dan singer pembaharu itu, si marvin gaye dibawa-bawa namanya sama Charlie Puth.

Nyang belum tau kenapa “Marvin Gaye” yg jadi judulnya Charlie Puth. Informal, nama “Marvin Gaye” itu jadi slang kekinian untuk kata “bersenang2”. Dan kalimat “Let’s marvin gaye get it on” bisa diartikan “Let’s get fun and have some sex”.

Oh dem, do sorry, kayaknya harus dengerin lagu lain hehe.. Lagunya “Hello” mbak Adele nan tembem kayaknya bagus.. ^_^

And guys, please don’t ruin my day, besok masih hari minggu kan yah? Haha.. Met wiken everyone.. 😉

*tagging pecinta musik kekinian..

– – with wahyudanto , Rebecca, Arie, and Gioliano at Bengkulu

View on Path