Month: June 2016

Digital Dariwinsm & Adaptability

So guys..

Salah satu yang membuat “gelisah” semua industri hari ini adalah “Digital Darwinism”. Nasib memang, karena harus mikirin growth tidak hanya untuk hari ini saja TAPI juga kedepan nantinya gimana. Yes, you are rite guys. No one can buy the future. Ho-oh, ndak ada yang bisa secara tepat menujumkan masa depan. Akan tetapi better die trying daripada do nothing.. ^_^

Adanya fenomena “Digital Darwinism” ini karena tekhnologi dan masyarakatnya berkembang jauh lebih cepat dari adaptasi yangn dilakukan oleh organisasi (industri).

Apa mau dikata. Kalau misalnya: yah katakanlah founder Google bilang “we failed kalau target kami hanya growth double digit”. They are trying to moonshot alias yah targetnya kudu eksponensial. Ekstrim memang. Kebayang gimana kewalahan dan gamangnya perusahaan yang mendefine “DIGITAL” aja susah. Feel so clumsy. Bisa jadi tertatih ngejar yah GAP tadi.

Well, apapun itu gaes..

Fondasi yang harus dikuatkan adalah “ADAPTABILITY” atau “Kemampuan Beradaptasi”. Yah, seperti yang di-sketch sang maestro Bryan M Mathers diatas. Dibutuhkan 3 hal, yang pertama adalah “manusianya”. Kemudian memperkuat “budayanya”. And the last one adalah “embrace the tech”.

Iyah, kayaknya gampang yah. But, it still need effort. Kalau di yang pertamanya macet. Dari sisi PEOPLE orangnya masih old-skull then kebayang gimana mau gerak ke believe system named CULTURE itu? Well, bukan pesimis tapi memeluk TECH itu ndak bakal mampu kan yah gaes? ✌️😁

Hihi.. Ini lagi-lagi jadi #SelfReminder for meh. Supaya minimal #BeReady untuk apapunlah istilahnya. Apapun gap-nya. Soalnya faham ndak faham jangan lupa untuk EKSEKUSI.

Gitu guys, selamat sahor semuanya.. ^_^
#SembariNgunyahNasiPadang

– – at Kota Palembang

View on Path

Advertisements

Cheese In The Trap Vs Coin Locker Girl

Gaes..

http://asianwiki.com/Cheese_in_the_Trap

Yang udah nonton. Coba lihat “Kim Go-Eun” yang memerankan “Hong Seul”. Cewek kampus yang mandiri, imut, dan lugu di film drama seri “Cheese In The Trap” ini. Nggemesin aktingnya. Saya sih waktu episode awal ndak gitu suka nontonnya. Eyalah, semakin keakhir kok malah bagus ceritanya.. ^_^

Begitu nonton episode-1, saya langsung tanda sama yang merankan “Hong Seul”. Eyalah ternyata pemerannya sama dengan “iL-Young” di film lepas “Coin Locker Girl”. Sebuah film yang menceritakan seorang gadis anak angkat seorang “shark loan” atau istilahnya dikita biasa disebut “lintah darat” yang meminjamkan uang dengan bunga menjulang.

http://asianwiki.com/Coin_Locker_Girl

Aseli gaes beda karakternya. Saya yang duluan nonton “Coin locker girl” dibandingkan “Cheese in the trap” jadi ngerasa jomplang. Soalnya karakternya beda banget.

Sebagai Hong Seul (Cheese in the trap) menjadi cewek kampus yang ceria, gigih, imut, dan lugu menggemaskan serta buat dua orang cowok ganteng ter-sepona. Athmosphere nya kampus banget. Kos-kosan, kampus, kafe, dan kehidupan anak kuliahan.

Nah, sementara iL-Young (Coin Locker Girl), digambarkan sebagai sosok yang dingin malah. Sosok imut dan menggemaskannya ndak ada sama sekali. Walau lugu-nya juga masih dapet. Kebayang ketika seorang preman cewek tukang tagih tiba-tiba jatuh cinta sama cowok yang bapaknya punya hutang ke “mother”.

Dan iyah, iL-Young bingung sama perasaannya. Soalnya dia jatuh cinta gaes. Ndak pernah diperlakukan lembut sama cowok. Dan memang ndak punya waktu.

Yang buat dia menangis & mendendam adalah ketika ketahuan sang “mother” pimpinan shark loan kalau dia suka sama cowok itu. Dan tanpa basa basi cowok yang ditaksirnya tadi dijemput paksa dan digorok sang ibu angkat. Gegara bapak sicowok ndak sanggup bayar hutang dan gegara si cowok coba mendekati iL-Young.

Iyah, ini yang membuat iL-Young sedih, menangis dan mendendam. Dan itu juga yang membuat keputusan untuk menghujamkan belati ke perut ibunya. Karena marah, putus asa, juga karena benci. Dan sang mother, yg ditakuti banyak kelompok preman, perlahan menghembuskan nafas terakhir. (Eh maaf kalau spoiler yah) ✌️😅

In short, menurut saya pribadi walau “Kim Go-Eun” ndak imut cenderung kinky, sangat merekomendasikan untuk ditonton keduanya, yah drama-nya ya movie-nya. Layaklah, melihat dua kutub peran yang berbeda. Salut sama aktingnyah.. 🙏😍

Be honest, kemarin saya awal niatannya hanya mau perbaiki file *.srt untuk subtitlenya. Supaya istri ndak protest kok textnya ada yg kecepatan atau malah terlambat. Eyalah kok malah keterusan nontonnya wkwkwk..

Iyah, ndak usah dibilang, saya klan-nya GGS. Alias “Ganteng-Ganteng SWAG!” Wkwkkw.. Masak cowok kok nonton korea. Ndak lakik banget yah.. 😜

#NungguSahur
#EURO2016

– – with Bakhtiar and Rivaldi at Kota Bandar Lampung

View on Path

It is not about the TECH, It is about new ways of thinking

Dear all pembaca lini masa..

Saya suka banget sama sketch-nya Bryan Mathers yang ini. He said “It is not about the TECH, it is about new ways of thinking”. Sebenernya ini terkait dengan diakusi MOOC (Massive Open Online Course).

Yoih, the famous one MIT and Udemy. Eh, Coursera juga dink. Iyah, yang IQ nya tiarap dan ndak setinggi angkasah kayak saya sign up di Coursera dan Udemy aja. Massachusett terlalu jaoh. Advanced hehe.. ✌️😁

Singkatnya, yang menjadi “essence” bukan teknologinya, yang memungkinkan belajar atau kursus dimana saja dan kapan saja. Akan tetapi kegiatannya. TRANSFORMASI pada “kebiasaan individu” nya yang penting. Biasanya kursus atau courses in class. Ini lewat internet, online, ndak langsung hadir dikelas.

Gitulah kira-kira guys.. 🙏😍

– – at Kota Palembang

View on Path

Know Thyself, Kenali Dirimu Sendiri

(Gambar diambil dari http://theypi.net tanpa izin pastinyah.. Hihihi..)

Gaes..

Kalimat “KNOW THYSELF” ini udah lama banget ndak dipakai. Iyah, socrates yang bilang untuk masuk ke kuil Apollo kudu tau diri, kudu bersih, wajib merendahkan hati. Karena kita bukan apa-apa dibandingkan para dewa-dewa. Iyah kayak gitulah hehe..

For meh, kalau ndak salah seminggu ini malah ada 2 kali saya lihat kalimat ini. Kebaca saya!

https://en.wikipedia.org/wiki/Know_thyself

Pertama, presentasi Jan Rezab atau Robert Lang yah? Lupak. Pokoknya SocialBakers yang diphoto pak Badar waktu beliau diundang ke kantor @socialbakers di Czech Republic. Setelah balik, beliau sharing ke Saya. Beliau minta ini dijahit karena bagus untuk sharing tentang “digital & sosial media”.

Kedua, tadi malem pas baca “Chapter-3: Build a Successful Digital Marketing“, ngebahas know thyself dan apa kaitannya dengan TRANSFORMASI to DIGITAL. Iyah, ini buku kayaknya wajib beli. Worthed menurut saya. Judulnya: “The Digital Marketer, New Skills You Must Learn to Stay Relevant and Customer Centric” (Larry Webber & Lisa Leslie Henderson, Wiley, 2015).

In short. Jadi dua hal itulah yang buat saya kefikiran ini apa sih maksudnya “Know Thyself”. Kalau “thyself” nya itu asalnya dari “thou” kan yah, ini latin eh atau english kuno? Akan tetapi kalau artinya dari english modern-nya itu “you”.

Kalau ditulis pakai bahasa inggris kekinian: KNOWING YOURSELF.

Iyah, KENALI DIRIMU SENDIRI. Se-simple itu guys. Kalau ndak kenal diri sendiri yah jangan berharap bisa mengenali orang lain. First you, the rest is others. Itu sih pesan yang bisa diambil menurut saya.

Dan “Know Thyself” ini jadi #SelfReminder for me to reflect. Untuk mikir baik dan buruk yang sudah diperbuat. Untuk kerjaan, untuk keluarga, untuk semuanyah. Iyah, Insha Alloh selalu ada ruang perbaikan. Mumpung masih Ramadhan. Bulan seribu bulan..  🙏😍

Ituh aja guys, happy fasting semuanyah termasuk yang tempus jam 1 siang hihi, ini ndak sedang nyindir, tetap semangat puasanya yah gaes.. ^_^

@yogie

Thanks traktirannya buddy. Indomie & es jeruk plus sharing terbaik malem ini.. 👍

– – with Yogie at Aston Jambi Hotel & Conference Center

View on Path