Diffusion of Innovation & The Chasm

(Gambar diambil dari slide “5 Things You Need to Know About Communication“, slide by Abdi J Putra, 2016)

_____ Diffusion of Innovation!

Satu hal, yang ndak penting, yang saya sharing ke kawan-kawan IMAMIKOM USU kemarin berkaitan dengan “DIFFUSION OF INNOVATION“. Dudukan keilmuan punya Prof Everett Rogers yang banyak dipakai untuk melihat adopsi pengenalan teknologi dimarket awam.. 😜

Mungkin ndak penting juga untuk mereka diceritakan apa kaitannya “marketing communication” yang saya emban hari ini dengan tahapan adopsi teknologi ketika diperkenalkan. Haha, tapi karena mereka minta terpaksa disampaikan.. βœŒοΈοΈπŸ˜‚

_____ Crossing the Chasm!

Singkatnya saya fikir perlu difahami oleh principal pemilik value/product untuk melompati jurang. Geoffrey More dibukunya “Crossing the Chasm” detail menjelaskan tentang ini. Dan beliau juga memberikan argumen to challenge Prof Rogers.

Mungkin karena kemampuan nalar ini rada gimana gituh. Argumen mereka berdua malah buat saya yang nekat mempelajarinya jadi malah makin bingung kwkwkwwk.. πŸ˜‚

Tapi sudahlah, pokoknya agree with tuan Geoffrey. Marketing and Selling high-tech products to mainstream customers ndak gampang. Cenderungnya biased. Ghalibnya layu sebelum berkembang. Dan tentu saja, seringnya sudahlah campaignya mahal dan gagal pula! Oh dem.. πŸ˜…

_____ those individuals on 5 phase!

Terus penjelasannya gimana?

Uhm, we need to identified. Bagaimana mengenali individuals yang “innovators” yang tipikalnya dare to challenge, be bold to take risks. Generasi millenials yang secara financial bagus, dan ya pastinya, percentagenya sedikit.

Kemudian setelahnya ada “early adaptors“. Orang yang mengadopsi sesuatu wajib pertama. Ndak boleh telat. Gambarannya gini:

Para early adaptorΒ lah orang-orang yang menggebu banget untuk mengantri, sampe buat tenda segala untuk mendapatkan, katakanlah, iPhone ketika pertama dilaunch. Sementara minggu depannya itu product udah banyak dijual bebas digerai retail Apple.

Oh cmon dude, these individuals should be recognized as our influencer. Disini bisa melihat symptoms sukses tidaknya value yang dideliver.

Kalau dua kurva harapan adalah “early majority” dan “late majority“. Ini phase dimana teknologi atau values sudah berterima dibanyak orang. Singkatnya kalau gini udah bisa profit. Gosah ragu. Ini yang harusnya dituju para marketer dan salesman.. ☺️

And last..

Individual tipikal “laggards“. Kalau ini ndak usah terlalu dipusingkan. Tipikal ogah-ogahan mengadopsi sesuatu (tech things). Sama seperti ibu saya. Gak bakal pakai hape layar sentuh kecuali semua hape pakai tombol musnah dari dunia ini haha.. πŸ˜‚

_____ Akhir kata yang berserakan!

Ndak dalem sih ngebahasnya kemarin di IMAMIKOM. Soalnya, kalau dalem makin banyak peserta yang akan menguap-nguap lebar. Ho-oh, kelihatan mereka bosen tiada terkira dan ngantok tiada terperi.

Dan wentah kenapa, saya Alhamdulillahnya piawai banget buat orang bosen thus nguap-nguap lebar. Kayak udah bakat gituh.. #KokMalahBangga

Gitu aja kayaknya guys..
Tabik.. πŸ™πŸ˜…

View on Path

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s