Month: March 2017

You Have A Gift That Others Need

Seperti yang tertulis guys.. ^_^

“YOU HAVE A GIFT THAT OTHERS NEED”

Yeah rite, kita punya “gift” yang dibutuhkan orang lain. Semua orang menurut saya. Makanya itu juga kenapa semua orang berusaha untuk BERBAGI. Yaitu tadi, karena kita punya hadiah yang orang lain butuhkan.

Itu basic-nya guys, BERBAGI.. ^_^

Kalau advancenya? Well, saya setuju sama yang bilang “everyone is unique“. Semua orang itu berbeda. Artinya sederhana: walau kadang ndak ngerasa tapi yakinlah kita punya value (gift) yang dibutuhkan orang lain.

Kalimat “kadang ndak ngerasa” ini yang bahaya. Karena bisa membuat kita merasa harus berpura-pura. Membuat kita merasa harus menjadi orang lain. Supaya bisa membeli perhatian. Supaya dianggap. What an effort indeed.. πŸ˜…

Padahal, berpura-pura atau “samwan-wanabi” itu capek sungguh lho. Believe me, SAYA SANGAT KHATAM dan juga BERPENGALAMAN SEKALI untuk “tidak menjadi diri sendiri”. Haha.. Dan yeah rite, ndak hanya capek, pegelnya minta ampun.. ✌️😭

Sangat boleh untuk mencontoh kesuksesan orang lain. Sangat lumrah kepengen menjadi orang lain yang kita anggap sukses. Perlu diinget kita bisa juga kok. We build our own success with our own story will sounds awesome, rite.. πŸ˜‰

Kalau coba “imitating” membabi buta yang bukan dirimuh, itu yang salah. Maksa banget. Okelah kalau tidak menghilangkan value atau gift yang ada didiri kita tapi menambah value, that’s fine.

Kebayangnya, kalau value (hadiah) hilang berarti kita menghilangkan GIFT yang harusnya ada dan dibutuhkan orang lain kan yah? Akan menjadi rikuh. Akan menjadi gamang ndak juntrungan untuk bersikap, karena semuanya jadi artificial. Buatan. Ndak otentik.

Sugar coated banget kan yah? βœŒοΈπŸ˜…

Padahal menurut Rich Kalgaard “menjadi humanis” adalah kuncinya. Kemudian #BeYourself dan #YouDoMatter adalah kalimat yang harus selalu difahami. Yakinlah kita semua ini penting.

Last, back to the words that we have gift that other people need.

Sudah seharusnya kita jujur, be candor, be honest. Supaya bisa memberikan “hadiah” atau “value” ke orang lain. Yah, syukur-syukur apa yang dicita-citakan semua orang yaitu “menjadi orang yang bermanfaat untuk orang lain” bisa tercapai. Aamiinn..

Semangat pagi orang-orang yang berkarakter dan yang bukan artificial.. πŸ™πŸ˜

View on Path

Because Today, Marketing is Everybody’s Business

Guys..

Seorang professor, named: E. Jerome McCarthy taon 1960 mendefine marketing mix dengan konsep 4P. Iyah, bauran marketing (product, price, place, & promotion) yang hari ini kawan-kawan semua fahami. Dan iyah, 4P inilah yang lagi di-tapaki, dijalani, diapapun organisanya dengan tujuan bersama: GROWTH!

Seperti yang dijelaskan dichapter “What to Make Marketing“. Satu hal saja yang ditambahkan berdekade setelah Prof McCarthy kukuhkan. Angka 4P dirasa tidak cukup, itu kenapa 5P harus dikukuhkan. Nyang mana dibilang tuan Welch sang CEO tidak hanya untuk bertahan tapi juga untuk menang.

Beliau bilang, bauran pemasaran terkait pentingnya memutuskan item (produk) yang pas, distribusi yang tepat (place), harganya nendang (price), promosi (promotion) yang sesuai. And the last “P” is about “PEOPLE“. Ini lebih terkait dukungan dari semua individu diperusahaan tersebut.

Urgensi P terakhir (People) menjadi wajib karena hari ini apapun fungsinya apapun departemen dan divisinya harus saling bicara. JANGAN JADI SILO. Karena silo itu definitely menjijikan. Ndak saling berkomunkasi adalah penyebab perusahaan ndak tumbuh dan ndak bertahan.. πŸ™β˜Ί

Makanya quotes dari Jack Welch berikut sangat pas.:

__________
Because today,
MARKETING is everybody’s business.
__________

In short, seperti tuan Welch bilang pemasaran adalah urusan semua orang apapun organisasinya. Dan oh please jangan pakai asumsi-asumsi yang seringnya salah. Pastikan. Bicara. Berdebat. Ngobrol. Berkomunikasi.

Gituh aja guys. Kalau semua orang “pemasaran”, kalau saya seringnya malah “penasaran”. Halah.. 😜

#KayaknyaTentangMarketing
#IniBicaraSiloBukanSelow
#IniReflectUntukSaya
#HepiWikenSemuanyah 😘

View on Path

Kalanick, Fawzi Kamel, & Leadership

Guys..

Seperti yg diakui sendiri oleh tuan Travis Kalanick. Bahwasannya dia butuh pencerahan tambahan terkait Leadership. (Apple Magazine, 3 Mar 2017 #279)

Lupa tuan Kalanick siapa yang berjibaku ngebesarin Uber. Bukan jajaran eksekutif VP dan SVP yang berperan. Iyah, lebih pada kerumunan driver (the crowd) lah kuncinya. Crowd that serves the society. Kerumunan pengemudi yang melayani kerumunan juga.

Dan saya fikir debat ndak penting dengan “Fawzi Kamel” terkait penurunan tarif dan pembebanan tambahan biaya para pengemudi harusnya dihindari. Harusnya tuan kalanick just say “Oh I see”. Ndak perlu kepancing sampai berbicara ndak sopan.

Iyah agak masuk angin ini tuan Kalanick.. βœŒοΈπŸ˜…

Kecerdasan emosi-nya menguap hentah kemana. Dia tidak hanya galau karena ditinggal jajaran executivenya yg terkena kasus sexual harrasment. Juga, gundah gulana karena ngelihat “trx” & “customer base” nya ndak naik siginificant seperti para kompetitornya.

Yoih, kompetitor yang business modelnya jelas-jelas nyontek business model mereka. Tuan Kalanick Oh Tuan Kalanick, yang sabar yah tuan.

Last words..

Walaupun saya masih belajar juga. Saya percaya kecerdasan fikiran (IQ) itu penting untuk mendefine “sesuatu”. Akan tetapi saya jadi semakin yakin kalau kecerdasan emosi (EQ) ini yang menentukan “sesuatu” itu bertahan. Yah apapun bentuk “sesuatu” nya itu.

Ini reflect..

Bukan untuk tuan Kalanick saja, akan tetapi untuk saya yang rapuh dalam menjalani kehidupan ini. Alas, teorinya gampang, tapi praktiknya selalu saja ndak gampang, but I will do my best!

Semangat pagi semua yang kecerdasan emosinya tinggi. Do Respect untuk semuanyah.. πŸ™πŸ˜

https://m.tempo.co/read/news/2017/03/02/116851661/ketahuan-memaki-pengemudi-bos-uber-minta-maaf

View on Path

Berani Meminta Maaf

Guys..

I wrote this on MyHappyWork!

Ada pelajaran yang saya dapet dari penerimaan Oscar 2017. Iyah, tentang kejadian “amplop yang tertukar” di Academy Award kemarin. Yes you guys, please take a note I write “amplop” not “putri”. πŸ˜€

Satu hal yang buat saya, yang sentimentil nan rapuh ini (halah), menjadi terharu adalah kalimat dari PriceWaterhouseCoopers (PwC) digambar. PwC adalah lembaga akuntan profesional yang menghitung perolehan nilai diajang bergengsi itu.

Menjadi haru biru karena mereka sebegitu beraninya dan sedemikian jelasnya untuk bertanggung jawab. Be bold to say sorry. Ngebilang kalau itu salah mereka.

Kalimat akhir PwC yang bilang “AND LAST NIGHT, WE FAILED THE ACADEMY” adalah kalimat tulus yang candor banget. Menyesal banget, dan well menurut saya gentle banget. Makanya di Instagram saya bilang “Yes, they deserve my RESPECT”.

Kenapa mereka layak mendapatkan “respect penuh” dari saya?

Well, be honest saya pribadi ndak terlalu berani mengakui kesalahan. Iyah saya terkadang terlalu banci ndak berani gentle mengakui kesalahan. Terlalu bencong (ndak jantan) sehingga jijiknya malah nyalahkan orang lain. Aih, indah sekali rasanya “blaming others“. Duli tuhan, maafkan hamba.. πŸ™πŸ˜­

Dan pagi ini, permintaan maaf PwC itu beneran menjadi reflect untuk saya!

Ah, semoga saya bisa be bold to say sorry dan mengakui apapun kesalahannya. Saya sering ndak inget sama satu hal: manusia berasal dari kata “insan” yang artinya “lupa”. Well, melakukan kesalahan adalah lumrahnya menjadi manusia. Dan harusnya lumrah juga untuk bilang MAAF, tapi praktiknya ndak semulus teorinya itu hiks..

Leader seperti apa saya ini? Leader bencong dan kayaknya ndak layak disematkan kata “leader”. Yes, I don’t deserve it.

Gitu aja catetan pagi ini.. πŸ˜‚

Selamat pagi jiwa-jiwa yang jantan dan berani tidak populer untuk mengakui kesalahan dan tidak menyalahkan orang lain. Izinkan saya berikan RESPECT untuk kalian semua.. *gegas pakai sorban.. ✌️😁

#inibukanceramah #reflect #selfremind #towa #belajar #mungkintentangleadership #candor

View on Path