Radical Candor – Kim Scott

2 DIMENSIONS THAT MANAGER SHOULD UNDERSTAND

Menarik menurut saya pemahaman KIM SCOTT, yang nulis buku "Radical Candor". Menarik karena Ibunya mengatakan dua hal (dimensi) saja yang harus dilakukan seorang manager supaya bisa to think & behave like a leader.

Dua dimensi sebelum so called leader "motivating the team" dan ngunggah kata "inspiring" dienvironmentnya. ^_^

1# Care Personally

Nyang menjadi concern saya adalah ini kerjaan gitu lho. Kenapa ndak berhenti di "hubungan professional" saja. Dan kenapa juga kita harus faham kalau semua orang pendekatannya beda. Ndak bisa generalisir itu kuncinya. Investasi waktu sudah pasti.

Katanya: "It ain't enough to care only about people’s ability to perform a job." Nyang lebih mendasar bukan hanya faham kemampuan team apa saja. Mengenali secara personal masing-masihg individu diteam itu yang harus dilakukan.

Kalau bicara membuat tantangan dengan orientasi hasil saya tentu saja setuju. Workin' on it rite now. Akan tetapi peduli secara personal ke team and their environment kok ya aneh. Khawatirnya salah approach jatuhnya bisa kepo berlebih. Jangan sampai dibilang "mind your own business ya boss". Wontuno aja atasannya ini. 😅

In short, in this dimension, sebagai catetan saya. Dalam bekerja kita kudu mampu menciptakan hubungan (relationship) yang erat. Care personally will help you. Mampu berlaku & memperlakukan team layaknya manusia (humanis). Then those numbers (target atau apapun) will yours! ✌️😁

2# Challenge Directly

Selanjutnya, terkait dimensi kedua yaitu "challenge directly" adalah tentang bagaimana mampu terbuka ketika dichallenge langsung. Ndak marah ketika diberikan inputan. Berterima ketika dikasih ide atau saran.

Sederhananya, bersikap "terus terang" atas kesalahan yang dibuat dan "be authentic" ke team ndak semuanya bisa dilakukan.

Memberitahu kalau kerjaan bawahan ndak bagus itu sesuatu hal yang ndak mudah. Seringnya kepancing emosi ndak penting, tereak sana tereak sini. Meledak-ledak. Ini kebawah. Kalau ke atas gimana? Mengkoreksi atasan apa semua berani berterus terang. Dare to choose candor.

Apapun alasannya ngasih tau kalau atasan salah ndak mudah. Ndak akan pernah mudah. Selalu challenging. Selalu dibutuhkan keberanian. Dan yah, ndak semua orang berani. Bencong. Yah termasuk saya juga sih terkadang. ✌️😅

Yah, tapi sekali lagi, bukankah itu memang tugasnya seorang manager atau kewajiban kita as a leader? Sebagian bilangnya, bukankah untuk itulah kita dibayar professionally sebagai manager.. 😂

Yaps, bicara "terbuka" dan "terus terang" sering kali ngebuat ndak enak. Yang ngomong ndak enak, yang diajak bicara kurang lebih sama. Ini yang dibilang Jack Welch ponny tail's meeting. Ngangguk-ngangguk tapi dibelakang malah ngegosip. Bilang "IYA" didepan tapi sebenernya ndak setuju. Basi jadinya kan yah?

Last words guys,

Again seperti yang dituliskan oleh ibu Kim. Speak your mind bukan menjadi kejujuran yang brutal, akan tetapi "keterbukaan" yang selalu bertanggung jawab. Bicara candor tapi tetap santun supaya berterima itulah yang menjadi tantangan. Kalau ndak mampu yah ndak papa, saya juga sama guys, lagi proses belajar.. ✌️😅

Well ndak mudah menjadi manager hari ini. Kemampuan untuk ngebangun kepercayaan dienvironment dengan "candor & authentic" dan sekaligus menjadi humanis itu yang menjadi kunci. Sisanya? Well the rest will follow. Akan ngikut katanya.

Semangat pagi semua leader apapun jabatannya. Remember one thing, manager is a title. If you have any team to managed then you are a manager too.. 🙏😍

#radicalcandor #leadership #manager #candor #berterusterang

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s