Month: August 2017

Youth Nation By Matt Britton

Pertanyaan cerdas dari buku YouthNation yang buat saya jadi kefikiran.

HOW WE BUILD REMARKABLE BRAND IN YOUTH DRIVEN CULTURE?

Saya fikir apa yang dibilang sama Matt Briton, terkait "shareable experiences" itu TRUE banget. Nyangkut sama kalimat "how to build remarkable brand" kalimat diatas.

Nowadays. Semua brand fokus dalam menciptakan "shareability" dan "virality", to gaining maximum reach. Kalau berhasil kayak api membakar dalam sekam. Cepat, menjalar, dan meluas, melahap sampai habis. Ekuitas merek terkerek naik. End of story.

Lantas, bagaimana kalau gagal?

Well, kalau gagal intropeksinya berarti para salesman dan marketer kurang "mendengar". Kurang aware sama what happening. Bisa jadi terlalu mainstream & obselete. Sehingga banyak program bagus atau activities bagus tapi ndak ada yang berkerumun.

Crowd-nya saja ndak dapet bagaimana berharap produk dibeli anak-anak muda millenials itu? Apa khabar rejuvenate?

Again. It means, as principal we ain't mingled. Ndak baur sehingga buram market yang katanya rapidly change itu. Ndak bisa ngeraba kemana ngarahnya. Oiyah, jangankan membuat demand baru. Coba membaca demand kekinian hari ini saja tertatih. Maksa harus cara yang sama.

Oh dem, I do undertand, it ain't easy to make our brand remarkable. Ndak akan pernah mudah. Ndak usahlah remarkable. Ndak dianggap (perceived) sebagai brand towa atau uzur saja sudah bagus banget.

Hormat saya untuk semua salesman & marketer seantero negeri. Ndak gampang buat brand remarkable. Positifnya untuk itulah kita hadir dibumi ini, kan yah? Halah. 🙏😍