Presentation Zen – Garr Raynolds

Kalimatnya kayak gini..

“No matter how impressive technology becomes in the future, no matter how many features and effects are added, the technology of the soul has not changed.”

Yaps, ndak peduli juga seberapa mengesankannya teknologi presentasi kedepannya. Ndak peduli juga sudah berapa banyak fitur dan efek yang ditambahkan, akan tetapi TEKHNOLOGI JIWA ndak akan pernah berubah guys. Ho-oh, ini bicara UX sebenernya. Yes, what people feel. 😍

Tambahannya lagi, teknologi untuk ngasih presentasi seperti PowerPoint dan Keynote — dan Apps baru seperti Prezi — itu hanya berguna pada tingkat di mana tools itu membuat hal-hal menjadi lebih jelas dan lebih mudah diingat saja.

Intinya apa untuk what so called “teknologi jiwa” yah guys..

Yah maksudnya seberapa bagus teknologinya itu tetap berhenti sebagai “tools” saja. Yang hakiki adalah komunikasi itu sendiri dalam tataran kebutuhan manusia satu ke manusia lainnya. Hablum minannas gitulah. Mantabs Djiwa.. 😆

Btw guys, PRESENTATION ZEN ini salah satu buku favorit saya. Worthed to read-lah. Tuan Garr Raynolds tidak hanya bercerita tentang fungsi saja, tapi dia juga menekankan tentang keindahan, keseimbangan, yang dibaur dalam kesederhanaan.

Remember about “Really Bad Presentation”, yang ditulis tuan Seth Godin 15 tahun yang lalu, guys? Well, hari ini 2018 masih banyak juga orang-orang melakukan kesalahan yang sama. Ndak berubah banyak. Termasuk saya juga lho.. 😅

.

Advertisements

PreOrder The Infinite Game – Simon Sinek

Guys,

Dua hari yang lalu Simon Sinek diakun Instagrammnya @simonsinek meng-announce cover untuk buku barunya yang berjudul: THE INFINITE GAME. Dipersilahkan siapa yang mau belu, tapi preorder untuk buku ini.

Well, malem ini, sembari nunggu dokter saya purchased bukunya. Ini pasti buku bagus, seperti buku tuan Sinek lainnya.

Nah yang ndak diperhatikan tetnyata preordernya sampai tgl 16 Oktober 2018 nanti baru available guys. Biasanya preorder paling lama 3 bulan ini setengah taon. Haha..

Ntar oktober kalau udah auto-delivered akan saya coba review yah. Kayaknya seruw ini. 🙏😁

.

Marketing Chronicles – Nimish V Dwivedi

Ini buku marketing yang judulnya sungguh memikat: MARKETING CHRONICLES. Saya yang gawe-nya dimarketing & sales langsong purchase it now. Nah, kemarin pas beli buku tuan Nimis V Dwivedi ini saya kebayang buku lama yang sudah difelemkan “The Chronicles of Narnia”. Ndak nyambung memang.. 😆

Btw guys, tuan CS Lewis kreator of Narnia, dan tuan Hans Christian Andersen bacaan favorit saya waktu kecil. Rata-rata minjem diperpus atau pinjem temen, ndak beli. Dulu pas SD & SMP belom ada internet. Halah, ini info ndak berfaedah juga.. ✌️😂

_____ Back to “Marketing Chronicles”

Additional wording dijudulnya, yang buat tambah nafsu bacanya, ada embel-embel “marketing insight from the Pre-Smartphone and Post-Smartphone Eras”. Teros secara tampilan juga OK. See that, faham kenapa sor awak sama buku ini.

Eh, akan tetapi, tampilan juga judul terkadang ndak menjamin isinya menarik untuk dibaca. Jadi singkatnya, ADA 3 (TIGA) HAL yang menjadi catetan saya:

PERTAMA. Ndak ada yang baru yang cukup ngasih insight. Bener ini adalah hasil riset tuan Dwivedi yang mana berisikan hal aktual masa sebelum dan sesudah smartphone. Sebuah compendium yang rapi tapi untuk saya kurang gereget. Ah, be honest boring udah ketebak alurnya diprakata.

KEDUA. Bahasa yang dipakai terlalu melebar. Yaps, ndak stright-tu-depoin. Ndak praktis dan terlalu boros kata-kata. Ndak renyah. Saya ndak ngerti siapa editornya tapi untuk menceritakan satu hal remeh yah ndak perlu dibuat satu chapter juga. Ini imho lho yah. KIS nya ndak dapet. Keep it simple.

KETIGA. Ini skup-nya ndak global, walau dijudulnya global insight. Ndak usah berharap terlalu banyak. Ini ceritanya seputaran negara India. Yeah rite, beberapa tempat dan contoh saya ndak faham dimana, pastinya di India. Behaviour dan culture juga buat mumet. Mau googling juga males soalnya yah dipoin dua tadi.

_____ last words

Haha, agak menyesal juga membaca buku tuan Nimish V Dwivedi ini guys, beliau ketelampauan bertele-telenya. Wasting ma time banget. HEY YOU, KEMBALIKAN WAKTU SAYA YANG HILANG. Ohmegod.

Btw, bisa jadi saya salah. Ndak mampu melihat strong point buku ini. Kecerdasannya cekak. Bisa jadi pas baca mood saya lagi ndak pas. SINGKATNYA, please you guys, yang udah baca buku ini bantu saya untuk tunjukkan menariknya buku ini dimana. 🙏☺️

Tabik,

Add my IG: @abepoetra.

Minimalism is Simple – Grant Snider

Oh guys,

MINIMALIS ITU SEDERHANA

Gitu sih judul sketch note tuan Grant Snider sang maestro cerdas tukang gores. Berikut adalah rambu-rambu “menjadi minimalis” menurut beliau yang harus difahami

— Enyahkan yang ndak penting

— Buat lebih terstruktur

— Hidden Meaning itu ilusi, gosah dicari

— Fahami artinya “solid”

— Menghilanglah diantar “Patterns”

— Jangan khawatir “Ruang Kosong”

— Usahakan tetap “clean”

— Jadikan “Bold & Colorfull”

— jangan terlalu ekspresif

— Sedikit itu Banyak

And last words from him: “But, Less is More Difficult than it Looks”. Boom.. 😅

Bener membuat sesuatu yang simpel tapi “beautifully design” itu jelas ndak gampang. Kalau ada yang bilang gampang itu mulutnya minta di-cabe.. 😂

Akan tetapi yah wajib dikejar. Kenapa? Karena utopia-nya para designer adalah “Simplicity is the ultimate form of sophistication”. Kesederhanaan adalah bentuk terbaek dari kesempurnaan. Yah begitulah kalau mau dipandang.

Gitu aja guys..

Hevenais wiken para designer yang lagi mendesign sesuatu yang “sederhana tapi sophisticated”. Semangat yaks.. ✌️😍

.

Umbrella’s of Medina

UMBRELLA’S OF MEDINAH. There are 250 umbrellas’s there (Nabawi’s Mosque). These umbrellas provide a convertible roof that sheltered 106.000 square metre. One single open umbrella structure spans an area of 625 square metre.

Uhm, btw guys, those umbrella intrigued me. Because they are foldable. And in the very happy morning (at dawn), I deliberately take this video.

And, Subhanallah, it does beautiful. 🙏☺️

.

McKinsey – Kenapa Strategi Digital Gagal?

Ini tulisan lumayan panjang dan belum tentu ada juntrungannya. Halah. Kalau mood “ntah-napa-pengen-baca” nya lagi tinggi yah silahkan. Kalau ndak pengen baca juga ndak papa. Ini memang kayaknya ndak penting wkwkwk..

Sebenernya ndak sampai juga ilmu saya untuk mendetailkan apa yang McKinsey tulis disini. Well, you know, ini McKinsey lho, para ahli nujum yang bahasanya berkelas. Jadi yah maklum aja kalau saya ndak faham. *yaps, ini namanya pembelaan diri ✌️😂

Okeh seriously, saya seneng baca artikel ini. Itu aja sih. One that intriguing me adalah kalimat mereka: “Today’s smartphones are several thousand times greater than that of the computers that landed a man on the moon in 1969.” Perangkat smartphone itu baru berumur katakanlah 10 tahun saja lho. Faktanya, 1000X LEBIH CANGGIH dari komputer yang menghantarkan manusia ke bulan.

___ Well, back to “WHY DIGITAL STRATEGIES FAIL”. Kenapa strategi digital bisa gagal.

Jadi singkatnya, tuan Bughin, tuan Catlin, tuan Hirt, dan tuan Wilmott coba mendeteksi 5 perangkap penyebab kenapa strategi digital diperusahaan bisa gagal. See here:

_______

1# Fuzzy Definitions

2# Misunderstanding the Economics of Digital

3# Overlooking Ecosystems

4# Overindexing on the ‘Usual Suspect’

5# Missing the Duality of Digital

_______

Yeah rite, untuk “Pitfall1: Fuzzy Definitions” we all know that it has been written in ‘what digital really means’. Ditulis sama para penujum itu juga. Dan entah kenapa kurang kerjaan saya sudah ‘bahasa-kan’. Nyang mau artikel in-bahasa please japri aja.

Untuk “Pitfall2: Misunderstanding the Economics of Digital” diceritakan kenapa ‘digital is destroying economic rent’ dan kenapa juga mereka bilang ‘winners takes all economics’. Serem kali bah. 😅

Kemudian “Pitfall3: Overlooking Ecosystems” menjelaskan kenapa Apple Pay menjadi ekosistem keuangan baru. Atau misalnya Tencent & Alibaba sedang expanding their ecosystems. Bahasa canggihnya ‘emerging set of digital ecosystems’. Ini yang sedang terjadi guys.

Dan menarik kalau baca “Pitfall4: Overindexing on the Usual Suspect”. Soalnya mereka bilang: digitizing incumbents are very dangerous. Ini serem juga, soalnya digital reinventors (incumbent) harus siap bertransformasi. Segera.

Jangan ‘step’ yang diambil seharusnya, tapi ‘a giant leap’ walau awal-awal bisa dipastikan bakal suffer Pendapatannya. Dan bisa jadi yang dijalani juga akan ‘leads nowhere’. Ini mereka yang bilang lho guys, bukan saya.

Dan terakhir “Pitfall5: Missing the Duality of Digital”, mereka menuliskan kalau perusahaan wajib mengkalibrasi respons menghadapi digital threats. Kalimatnya: jika kita akan terdisrupsi, kita buat sesuatu yang sama sekali baru.

Uhm, padahal kenyataanya, yang saya juga setuju, ini ndak akan segampang ngemengnya hehe. Produk atau value apa yang bisa jadi revenue stream baru? No one will answer it clearly. Termasok saya juga. Dan yah McKinsey juga.

Pilihannya “membuat bisnis baru atau mendigitalisasikan business yang sudah ada”. Kalau ini yah semua orang sebenernya sudah mafhum kan yah guys.

Last scattered words..

Saya pribadi jadi bingung, ini McKinsey mendefine jebakan-jebakan kenapa strategi digital gagal dengan bahasa yang tinggi. And guess what, err confusing, yang sebenernya bisa disederhanakan sih.

Yang membuat ini menarik, saya fikir, karena mereka pakai riset yang dalem dan kekinian. Hehe, silahkan saja siapa yang mau mendebat ahli nujum yang cerdas cendekia itu. Amponlah. Minimalnya untuk saya dapet poin-poinnya sudah lumayan. Plus contoh-contoh yang mereka berikan cukup dapet gambaran.

Nah, seperti saya bilang di atas, kawan-kawan yang mood “ntah-napa-pengen-baca” nya tinggi, silahkan baca lengkapnya dimari:

https://www.mckinsey.com/business-functions/digital-mckinsey/our-insights/why-digital-strategies-fail

Btw guys, maaf panjang, dan terimakasih sudah membaca sampai bawah sini.

Your friendly neighborhood.. ✌️☺️

Abdi J Putra – Abie

Add my IG here: @abepoetra.