Author: abepoetra

Deliver Numbers Vs Corporate Values

Guys!

Seperti yang tertulis dibukunya. Curhatan & pertanyaanya kira-kira begini kalau diartikan:

_______________ mulai!

Salah satu manager kami namanya “Charles”. Dua tahun ini secara angka target selalu konsisten dideliver. Ndak ada masalah dengan angka. Akan tetapi orangnya suka milih-milih teman kerja, dia juga sangat arogant, dan selalu menyembunyikan informasi dari yang lain.

Sebahagian diriku ingin memecat anak ini, tapi sebahagian lagi bagaimana dengan “target” dan angka yang dideliver? Saran Anda bagaimana?

_______________ akhir!

Pertanyaan dari “Great Neck, New York” dijawab Jack Welch Lugas:

“CONFRONT HIM, and then fire him if he refuses to change.” Segera panggil dan dijelaskan negatif value-nya itu apa. Minta charles berubah, dan kalau dia menolak, pecat saja. Gitu kata tuan Welch lugas.

Tuan Welch bilang..

“Soalnya, kalau kamu atasannya Charles dan faham culture (values) perusahaan adalah fairness, transparansi, kerjasama, dan saling berbagi informasi, atau apalah. Ini akan berasa sangat kontras kalau tetap mempertahankan Charles diteam”. Yeah rite, You ain’t walk the talk!

Kemudian juga beliau bilang, bahwa “DELIVER NUMBERS” itu sangat penting tapi jauh lebih penting adalah “Values Organisasi” yang difahami dan yang diyakini bersama. Bukan menghalalkan segala cara. Karena ini bukan bicara kemenangan setahun dua tahun saja, tapi untuk everlast!

Selalu bersikap untun mengendorse tentang nilai budaya tapi membiarkan sang achievers mengangkangi values itu berry-berry wrong.

Malah kata tuan Welch, ketika diberhentikan Charles sang “value offender” ini, harus dijelaskan sama yang lain secara transparan. Kalimatnya jangan “Oh, Charles keluar agar bisa punya waktu banyak utk keluarga”. Sampaikan dengan gamblang kalau Charles diminta “leave” karena dia MELANGGAR VALUES yang jadi identitas perusahaan. Yaps, you walk the talk!

____ last words!

Heran sebenernya sih saya. Menurut pemahaman saya “nyang penting capai target”. Kalau diimbuhkan untuk mengindahkan budaya dan values perusahaan kok rasanya gimana gituh, guys. Haha.. menarik inih! πŸ˜…

Selamat pagi semua achievers yang ndak hanya capai target tapi juga memiliki values & berkarakter. Ini ndak usah dipelintir kemana-mana, yang pasti ndak mudah jadi salesman hari ini, but you gotta walk the talk.. πŸ™πŸ˜

(Book: Winning the Answer, Chapter 12, The Ultimate Values Test).

Advertisements

4 TIPE MANAGER DI ORGANISASI

Guys..

Pertanyaanya saya ambil dari buku “Winning the Answers” karangan Suzy & Jack Welch. Saya coba pastekan “Chapter 13 – When to cut the cord“. Saya coba pastekan untuk sharing dimari.. 😊

_______________ begin!

As a small firm, we have plenty of typical start-up issues, like cash flow, but our real problem right now is β€œMark,” one of the managing directors, who just blew a major project and doesn’t seem to understand the damage he’s caused.

My gut feeling is Mark should be fired, but his absence will, at least at first, hit us hard. Mark is a technical expert who’s been with us from the start. Still, his poor management style and double agenda have reached an untenable level. Mark believes his decade of service and β€œloyalty” should protect him. I agree to a point, but believe performance matters more. What should we do?

β€”JOHANNESBURG, SOUTH AFRICA

_______________ end!

Sebelum menjawab Johannesburg, Jack Welch, sang CEO legend from GE, menjelaskan 4 type manager yang ada disuatu organisasi. Nyang diklasifikasikan berdasarkan seberapa baik kinerjanya (deliver numbers) dan seberapa baik mereka menunjukkan positive values (keterbukaan & responsif ke pelanggan).

1# Good Results, Good Values

Manajer tipe ini biasanya yang memberikan hasil bagus dan memilki nilai bagus juga. Ini bagaimanapun harus dipertahankan. Membuat lingkungan kondusif to catch the goal. Mereka harus dipuji dan dihargai di setiap kesempatan.

2# Bad Results, Good Values

Manajer dengan hasil buruk tapi dia memiliki value yang bagus layak mendapat kesempatan lain. Mungkin dipindahkan ke posisi lain dalam organisasi tersebut. Ini hanya cocok tidak cocok saja ke tanggung jawab pekerjaan.

3# Good Results, Bad Values

Jenis ketiga adalah manajer dengan hasil bagus akan tetapi karakternya buruk. Tipe manajer ini adalah jenis yang biasanya menghancurkan organisasi.

Benar mereka mengantarkan angka, tapi biasanya jerk banget sama lingkungan. Menghancurkan “morale” juga “trust” dimanapun dia berada. Have no leadership at all. Menjijikkan tude bone. Some leaders keep this jerk. Padahal tidak seharusnya.

4# Bad Results, Bad Values

Ini ndak usah dibahas. Pertanyaannya udah jelas. Dibab ini “Mark” digambarkan sebagai managing director diperusahaan kecil mereka (kinda startup) sudah menghancurkan project utama, entah apapun projectnya ndak dijelaskan.

Akan tetapi poor results dan poor performance ndak bisa ditolerir. Apalagi ini sudah lama berlangsung. Gotta cut it sooner.

_____ last words!

Simply, meskipun si Mark bilang dia “loyal” ya ndak kayak gitu juga. Tetap saja harus tegas untuk kelangsungan organisasi wajib dikeluarkan. Seperti yang disampaikan tuan Welch: “but when you finally get the guts to cut the cord, you’ll wonder why you didn’t do it sooner.” Yaps, kenapa ndak dari dulu diberhentikan! βœŒοΈπŸ˜‚

Ini pembelajaran untuk leader kaleng-kaleng seperti saya. Apapun sirkumstansi yang mendasarinya, sebagai leader wajib punya keberanian (guts) untuk memutuskan. Remember what I’ve shared tentanf 4E’s dan 1P’s guys? Well, sama dengan EDGE. Kemampuan inilah yang membedakan leader dengan follower.

Selamat hari senin semuanyaaahh. Remember one thing, manager is a title. If you have any team to managed then you are a manager too.

Tabik. πŸ™πŸ˜

Everyone is a Reader

Guys..

Suka sama kalimat ini..

___________

“EVERYONE IS A READER, some just havent found their favourite book yet”

~ Dr SEUSS, author of children’s books

___________

Semua orang sejatinya suka membaca, tapi sebagian orang yah belum nemu buku yang tepat saja untuk dibaca. Saya sih setuju.. ^_^

Gitu katanya Dr Seuss guys!

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Dr._Seuss

Selamat hari minggu semua pembaca lini masa yang berbahagia.. πŸ™πŸ˜

Culture For a Digital Age – McKinsey

Hari ini yang coba dipetakan oleh McKinsey sang ahli nujum paling terpandang dibumi ini, terkait kekurangan dalam budaya organisasi yang mereka sebut “Budaya Era Digital“.

Pastinya, dalam dunia digital menyelesaikan masalah budaya bukan lagi pilihan tapi yah keharusan. Harusnya BAU ini. Ah, wentahlah guys, ini survey yang dijawab oleh 2.135 responden bisa jadi ndak pas. Soalnya sirkumstansinya berbeda tiap negara.

Dari yang saya baca guys, yang mana saya ndak faham juga, disampaikan kalau “cultural & behavioral challenge” menjadi prioritas pertama. Malah pemahaman tentang digital trends menjadi prioritas selanjutnya. Please see the stats! ☺️

Ehem, saya ndak berani komentar untuk berpendapat sebaliknya, soalnya ini didasari dengan argumentum yang sangat kuat nan dahsyat. Matriks & Praktiks yang sangat njelimet. You know-lah guys, ini McKinsey tempat berkumpulnya manusia cerdas seantero jagad. Mau gitu dilempar matriks9 itu? Wkkwwk.. Ampon!

Eh, ini mau sharing apa tadi yah?

*kok malah lupak πŸ˜†

Oiyah, syahdan tersebutlah dari para pemikir itu 3 hal yang harus dilakukan untuk semua organisasi diplanet ini. Nyang mana saya fikir guys, setelah tak coba fahami dan masih ndak faham juga. Halah. Ada benernya juga “shortcoming for organizational culture” ini jadi penghalang untuk suksesnya organisasi di era digital.

Wokeh, walaupun fahamnya suwir. Saya coba resume apa yang disoroti McKinsey terkait 3 (tiga) kekurangan budaya digital pada organisasi atau perusahaan.

1# FUNCTIONAL & DEPARTMENTAL SILLOS Yaps, ini ndak perlu ditanyakan sebenernya gaes. Semua person diorganisasi faham kalau yang namanya “silos” atau tidak adanya transparansi membuat efektifitas kerja berkurang. Ada gap menganga.

Lantas, bicara produktifitas gimana? Yah podo. Soalnya bagaimana mungkin terjadi tiki-taka (one two), kalau antar departemen saling menutup informasi. Kayak takut dikoreksi. Hasem, ndak usah bicara “Customer Lifecycle Journey” kalau diskusi internal saja ndak transparan. Basi. πŸ˜‚

2# FEAR OF TAKING RISKS Well, saya fikir semua jabatan tentu saja ada resikonya. Yah termasuk jabatan kaleng-kaleng kayak saya. Haha, remember yang saya tulis tentang “Extremely Candor” ditulis oleh ibu “Kim Scott”? Well, how to speak the truth or to speak your mind, be candor ndak semua orang mampu. Banyak yang bencong kayak saya. βœŒοΈπŸ˜‚

Pertanyaanya satu aja: “Can we celebrate learning from failure”. Atau ndak usah selebrasi. Bisa ndak kalimat “an appetite for risk” itu ndak bagus dimuncung saja. Sebagai leader yah kudu mampu menciptakan athmosphere yang mendorong keberanian untuk “mencoba”. Dan “salah” menjadi harusnya permisif.

3# WEAK CUSTOMER FOCUS Kayaknya semua perusahaan punya pandangan sendiri tentang pelanggan tapi ngarahnya sama. Dan yah semuanya menuliskan “customer experiences” atau apapunlah terkait “UX” jadi masterpiece. Embel2nya dengan bahasa yang bagus dituliskan sebagai “value proposition”.

Sekali lagi, sependek pengalaman saya, kalau ini dilakukan ndak genuine atau dilakukan tapi setengah hati jadinya bisa cedera dua kali. Cedera pertama basicnya ndak dapet dan cedera kedua ekspektasinya pelanggan ndak sampai. Ini jelas fokus ke pelanggannya sirna. Hilang bersama rembulan. πŸ˜‚

Terang saja mengedepankan value tidak hanya berhenti dikata “harga”, tapi banyak hal. Ini bisa saja tentang “waktu”, atau misalnya berkaitan dengan “kualitas”, atau seremeh dan temeh “senyuman mbak-mbak CS kantor pelayanannya”. Apapunlah, pesan para penujum itu lakukan dengan sungguh-sungguh. Sehingga, nilai tambahnya kena.

_____ last words, sebagai catetan! Again guys, seperti yang saya fahami walau partial, untuk penghambat sukses tidaknya suatu organisasi menurut McKinsey masih kejangkau logika saya. Makanya ndak berani debat.

Lantas apa sih yang harus dilakukan sama saya yang hanya debu-debu dibalik hexos fan ini? Seminimalnya faham 1-2-3 hal terkait “Culture For Digital Age” ini, then kedepannya coba ditemukenali diteam kecil saya supaya “culture digital” yang bener bisa diterapkan.

Oiyah, supaya ndak bingung sendirian, silahkan iqra disini untuk lengkapnya apa yang dibilang para ahli nujum yang saya resume di atas:

http://www.mckinsey.com/business-functions/digital-mckinsey/our-insights/culture-for-a-digital-age

Kalau bingung ndak papa, you have friend here guys, kalau faham dan saya keliru yah tolong dibantu luruskan dikolom komentar.

Terimakasih sudah membaca sampai bawah ini, dan mohon maaf karena panjang..βœŒοΈπŸ˜…

.

Review Film LaLa Land

Ini film taon lalu, dah lama didraft belum dishare. Soalnya kemarin baru lihat lagi film bajakannya. Jadi pengen <del>spoiler</del> sharing hihi.. πŸ™πŸ˜†

Males sebenernya sih untuk nonton film “LaLa Land” ini. Apa menariknya nonton film musikal kayak gitu. Ho-oh, jadi keinget felem India banyak tariannya gitu guys. Akan tetapi angka 8.2 rating IMDB sudah cukup untuk dijadikan alasan menontonnya.

BTW, PLEASE STOP HERE, soalnya ini akan spoiler banget. Kalau mau lanjut dibaca ya monggo. Mohon mangap untuk yang belum sempat nonton yah.. βœŒοΈπŸ˜‚

Ceritanya sederhana guys.

Well, katakanlah Mia (Emma Stone) pengen jadi artis terkenal walau gagal berkali-kali dan ends up rela menjadi barista. Kemudian hadir Sebastian (Ryan Gosling) sang pujangga pemain musik jazz sejati yang pengen buka Cafe Jazz untuk menaikkan Jazz yang diceritakan dikota itu pamornya lagi turun.

Just like tipikal love story-lah. Walau rada “quirky” tapi ndak rumit sebenernya. Alur ceritanya sengaja di-twisted dengan idealisme Sebs dan dikasih resep biasa: “dibumbui pakai cinta.”

Kalau saya pribadi, ada 3 (tiga) hal yang membuat film ini layak tonton. Beberapa adegannya membuat saya kagum. Again, INI SPOILER BANGET, you better let this thread passed. Gosah dibaca.. πŸ˜‚

1# PERTAMA: Menjiwai.

Yeah rite, Emma Stone yg memerankan Mia sangat menawan. Dia bisa membawakan sosok Mia yang ngegemesin gituh. Dan sosok Sebs yang diperankan tuan Gosling pas banget. Mia bagus dan Sebs even better. Bukan sugar coated story gitu tapi memang “contented”. Btw saya salah satu kipas anginnya (fans) Emma Watson lho guys.. πŸ˜†

See at the scene, dimenit ke 28:08 guys.

Kenapa saya bilang karakternya kuat dan sangat menjiwai. Perhatikan gimana Mia membales cueknya Sebs dengan meminta lagu “I Ran”. Dan dia faham itu bakalan ngerjain sang pianis jazz (Sebs). Soalnya untuk bawa lagu rock 80’s itu ndak mudah, bukan jiwanya Sebs, tapi yah Mia cueks. πŸ˜‚

Perhatikan gimana Mia menggerakan badannya dan menggoda Sebs. Seksi dan ndak erotis juga tapi menarik dan jenaka. Buat kesal sekaligus kocak kwkwk..

2# KEDUA: At first, look “cheesy.”

Awalnya berkesan murahan. Akan tetapi pada 15 menit pertama langsung terbantahkan.

Naskah film-nya disusun rapi. Cucok dijadikan quote penyemangat. Kalimat-kalimat yang sederhana & bagus terlontar. Yah beberapa pedih juga kalimatnya. Misalnya: “Here’s to the mess we’ve made”. Seperti Mia & Sebastian, terkadang kita juga melakukan kesalahan. Ah, guys.. πŸ˜‚

Seperti pertunjukkan opera with lil bit kayak puisi. Eh namanya musikalitas yah harusnya memang kayak gitu kali. Skrip kalimatnya disusun penuh candaan yang segar dan natural menghibur. Rapi membawa suasana hati, walau naik turun.

3# KETIGA: Colors & Dancers

Kalau sekilas yang dirasakan wowing menurut saya adalah “athmosphere warna” dan “dance experiences” yang disajikan. Cerdas banget Damien Chazelle untuk sengaja menonjolkan dua hal ini.

Soal warna, agak heran tiba-tiba warna cerah yang sengaja ditabrakkan ke gelap, tapi kok yah malah cakep. Perhatikan guys, ndak hanya 12 basic color, tapi warna sekunder dan warna komplimentari juga dituang.

Haha, tuan Chazelle mendisrupt warna yang saya fahami. Cobalah harusnya senja itu “lembayung” tapi dia cuek ngasih ambience ungu. Nabrak. Tapi eyanjrit, saya malah suka lihatnya. πŸ˜†

Menari dan Nyanyian adalah kunci disetiap film musical. Dan “LaLa Land” juga sama. Mengandalkan hal itu juga. Bedanya, menari sambil bernyanyi difilm ini kolosal. Mengatur gerak tubuh dibalur warna baju yang pas membuat “dance experiences” untuk siapapun yang melihatnya bakal KAGUM.

Lihat, dimenit 36:36 guys. Suka banget sama gerakan mereka. Beratur, berirama, serempak mereka menari ditemaramnya siluet senja. Iyah yang ungu bukan lembayung. Warna kuning, putih, dan siluet putih lampu taman ngebaur jadi satu kata: INDAH. Ndak bisa dipungkiri, saya lovey duvey bangets. *halah.. ^_^

_____ Last words!

Ini film sutradaranya sama dengan “Whiplash”. Walau sama-sama tentang musik tapi dengan konteks yang berbeda. Yaps, will tell ya later (kalau ndak males), kenapa Whiplash jadi film favorit saya juga.

Well guys, selamat menonton semuanya. Semoga 14 Nominasi Piala Oskar dan rating 8.2 IMDB. Ndak bakal nyesel deh. I mean it.

Happy weekend semuanyahhh.. πŸ™β˜ΊοΈ

Doa Pagi, Alhamdulillah, & Ebith Beat A

Saya suka lagu-lagunya “Ebith Beat A”. Rapper santri dari Bandung. Beatnya ndak kenceng. Kalau diinget lirik-lirik lagu-nya juga sering dilapadz (senandungkan) sewaktu dulu kecil belajar ngaji, jadinya lumayan bisa ngikut.

To make long story short. Saya beberapa hari ini penasaran sama lafadzh yang ada dalam lagu “Alhamdulillah”. Nyang buat saya penasaran ini sang rapper nyebut doa apa gituh. Soalnya enak didengar. Soalnya ayat yang ndak asing.

Sempat kemarin mau nanya para ustadzh gaul yang saya kenal (syahruna & adink), tapi karena saya lagi niat ya saya cari sendiri. Dan, akhirnya guys setelah browsing kanan browsing kiri nemu. Ternyata ini adalah “DOA PAGI” dan ada haditshnya. Cmiiw yah.. πŸ™πŸ˜

_____Allahumma ma ashbaha bi min ni’matin auw bi ahadin. Min khalqika faminka wahdaka la syarika laka, falakal hamdu walakasy syukru.”_____ Lihat referensi doa pagi yang dinyanyikan Ebith beat A, disini: https://goo.gl/VoVofv

Oiyah guys, balik ke “Ebith Beat-A” lagunya bisa dibeli di iTunes ketengan satu persatu. Atau untuk yang sudah subscribe Apple Music, yeah “all you can hear”, ya silahkan di-added to library saja.

Nah, yg mau dengerin go figure it out, here:

https://itun.es/id/mPmYcb

Ini album lama tapi sangat recommended. Info ndak penting, kalau mau dengerin Ebith Beat-A selain “Alhamdulillah”, yang saya rekomen “Sepohon Kayu”, “I’tiraf”, dan “Thola Al Badru”. Bagus semuanya.

Ituh aja guys.

Saya tag sahabat saya Egi Nataatmaja yang sering memberi pencerahan! πŸ™πŸ˜

#indahnyaberbagi #alhamdulillah #bersyukur #atassegalanikmat #doapagi #inibeneranlho