Posts by abepoetra

"Abdi J. Putra" well known as "Abe Poetra". Suami dari Fidia Rimasari dan diberi tanggung jawab 2 anak, bang Tala & dek Agi. Saat ini bekerja di Telkomsel sebagai Salesman.. ^_^

Arti dan Maksud Agile Transformation serta Contoh Transformasi di ING (Dutch Banking Group)

Ketika Bart Schlatmann, COO yang membawa ING (Dutch Banking Group) bertransformasi menjadi lebih agile, ditanya tentang “HOW DO YOU DEFINE AGILITY?

Beliau meresume jawabannya, yang saya suka banget, kira-kira begini jawabannya:

“Agility is about flexibility and the ability of an organization to rapidly adapt and steer itself in a new direction.”

Yes, kata Tn. Schlatmann (haish, susah ngeja dan spelling namanya bapak ini lho) agile ini tentang meminimalkan “handover”, menendang birokrasi ndak penting, dan cerita tentang bagaimana empowering people. Yes, fokus ke orangnya.

Dari beberapa referensi yang saya baca, saya setuju menjadi “agile” bukan hanya tentang mengubah departemen IT saja. Kuncinya transformasi yang end-to-end. Marketing, produk, komersial, others, dengan backbone IT untuk mendeliver “ramping” dan “lincah”.

Dan oh gaes..

Saya juga terinspirasi sama apa yang diceritakan Tn. Schlatmann (hehe kebelibet lidah nyebut namanya) dimana secara terapan ING sendiri mendapatkan lesson learned yang mereka sebut “four eureka”. Mereka bertransformasi untuk 4 hal:

1# Structure the team

2# Aligns the focus

3# Free up the workflow

4# Break down silos

Uhm, dan yang paling menjadi tantangan adalah yang terakhi: “breaking the silos”.

Yeah, yeah rite, we all know that..

Silos suck, They inhibit collaborarion and the ability to align a team behind a unified vision. Get rid of them.

________ Gitu aja kali yah guys. Sebelum semuanya pada ngantuk baca tulisan ini saya sudahi aja, soalnya nyang nulis juga udah mulai nguap-nguap wkwkwkw.. 😂

Sebagai informasi, Tn. Schlatmann (haha, njirrr.. susah banget sumpah nyebut nama beliau ini) sekarang ndak di ING lagi, tapi sudah di Allianz.

Last, nyang niat bacanya lagi membuncah, lagi tinggi banget, silahkan iqra dimari:

https://www.mckinsey.com/industries/financial-services/our-insights/ings-agile-transformation

Semangat pagi semua leader yang berusaha menjadi “lean” and “agile”. Tenang kisanak, selalu ada opportunities disetiap kebingungan.. *halah 😘

.

Advertisements

PRESENTER IS A SAILOR

“PRESENTER IS A SAILOR”

Itu yang dibilang bunda “Nancy Duarte” dibukunya “Resonate”. Presenter adalah seorang pelaut yang mengajak para audience berpetualang.

Katanya para pelaut wajib mengenali “The Big Idea” untuk mengajak semua audiences mengikuti journey yang sedang dibawakan.

Soalnya ndak mudah menjadi “pelaut” lho guys. Kebayang kan yah susahnya bagaimana sang presenters memindahkan dari satu persepsi ke persepsi yang diharap.

Ya, You will face what Capt. Haddock (Tintin Series) always said: SEJUTA TOPAN BADAI. Poin saya adalah ini ndak gampang hehe..

Ah, even secara lahiriah you are a story teller, menurut saya, memahami ide besar ini akan berguna bangets untuk dijadikan wawasan tambahan.

Nah, kalau penting lalu apa sih 3 hal yang menjadi ciri dari big pictures-nya guys? Yes, you can see these, gaes:

— A big idea must articulate your unique point of view.

— A big idea must convey what’s at stake.

— A big idea must be a complete sentence.

Yes, orang dateng untuk mendengarkan kita bicara. Karena mereka juga pengen melihat perspektif kita terhadap subjek yang dibawa. Melihat bagaimana enthusiast nya kita memaparkan gagasan. Enthusiast akan menunjukkan takaran berapa orang yang akan follow. Makin tinggi biasanya makin banyak yang akan ikut masuk kedalam kapal.

Oiyah lanjut..

Sebagai contoh judul “NASIB LAUTAN KITA” ini dibilang bunda Duarte sebuah topik biasa; that’s not a big idea. Kurang gede idenya. Akan menjadi besar idenya ketika judulnya diganti menjadi “POLUSI DISELURUH DUNIA MEMBUNUH LAUTAN DAN KITA”. Bandingkan.

Yes, compelling title. It just needs to be your point of view on the subject rather than a generalization. Gitu sih katanya, gaes.

____ end

Kalau punya waktu saya akan sharing “kenapa drama itu penting banget”.

Kenapa story teller wajib tau runutan cerita, dan lainnya. Yah, kayak biasa ndak usah ditunggu soalnya nulis sak sempatnya aja hehe.. 😊

#presenterissailor #nancyduarte #resonate #books #weekend #wiken #goodbook #presenter

Uncertainty

Oh gaes..

One said that “Uncertainty is the root of all progress and all growth”. Yes, love those words. As the old adage goes, there are only 3 conditions:

— The man who believes he knows everything learns nothing.

— We cannot learn anything without first not knowing something.

— The more we admit we do not know, the more opportunities we gain to learn.

So, instead of making life far worst, why don’t we USE OUR BRAIN to move on and be a better person?

Iyah, ini #selfreminder hehe..

Selamat pagi semuanya penduduk jagad maua dimanapun kawan-kawan berada.. 😊

.

Value Proposition Design – Confirming to The Customers

Kemarin VP Sales Sumatera (bang Erwin Tanjung) menyampaikan pesan ke kami terkait program atau aktifitas sales.

Beliau bilang kalimat: “JANGAN PAKAI ASUMSIMU”. Haha, sederhana tapi cukup mengelus ego. Soalnya seringnya kita merasa program atau aktifitas kita paling bener padahal belum tentu.

Beliau ini baru ikutan workshop bareng para founders startup. Workshop organized by Deloitte. Ohsem pastinya.

Yes, apa yang VP sales minta untuk dilakukan adalah “confirming” atau “validasi” ke pelanggan. Beliau minta berangkat dari CUSTOMERS PROBLEM atau pain point dipelanggan itu apa.

Seringnya big company mislead ketika buat program. Ndak tepat sasaran. Jijiknya lagi, sudahlah buang budget dan tenaga ndak sedikit eh, pelanggan ternyata ndak butuh.

Wkwkwk, persis yang dibilang VP saya itu: JANGAN TERLALU CINTA SAMA IDE SENDIRI. Soalnya bisa baper & terjerambab dilabirin asumsi. Pain pelanggan ndak ke-relieves. Budget habis. Waktu kebuang. Setdah. Ini jelas zonk jadinya.

Demikian gaes.. 🙏☺️

(Gambar diambil tanpa izin dari buku Value Proposition Design ditulis oleh Tn. Alex Osterwalders)

Asking Questions – Grant Snider

ASKING QUESTION – GRANT SNIDER

Saya selalu suka bagaimana “Grant Snider” memvisualisasikan ide. Ndak hanya provokatif tapi juga menginspirasi. Yes, berulang kali saya bilang “The Shape of Ideas” salah satu buku favorit saya.

Hehe, entah kenapa, suka ulang-ulang bacanya. Seperti kepanggil kreativitas saya kalau baca bukunya tuan Snider ini guys. Idenya beneran ke-shaping. Halah. ✌️😁

Oiyah, this time, sang artis men-sketch tentang “asking questions”. Penjabarannya jelas dan menjawab pertanyaan itu sendiri.

Bagian yang paling saya suka:

“Bahkan meskipun kau faham pertanyaan yang diajukan, jawabannya bisa jadi mengejutkanmu.” Haha, ini seringnya bener bangets.

And gaes..

Menurut saya contentnya renyah, cerdas, sekaligus jenaka. Cekidot.. 😆

.

Menggambar Vs Memvisualisasi

Gaes..

Kemarin waktu training Digital-X (yes, think like founders) di block71 kuningan, saat itu sang coach ngajak kita semua untuk memvisualkan ide yang sudah kita jabarkan.

Seperti orang kebanyakan, saya langsung exclaimed..

“AKAN TETAPI SAYA TIDAK BISA MENGGAMBAR”

Haha, saya lupa ketika bicara “design thinking” adalah “visualisasi”. Artinya sederhana banget. Jangan pernah khawatir gambarnya cantik atau jelek yang penting message-nya dikuatkan secara visual. Nyang penting niatnya ada (black pen).

Yes, again. Nyang penting adalah stepping di visualisasi ide-idenya. Selama kita atau team faham itu menggambarkan ide besarnya sudah sangat cukup untuk berangkat ke canvas selanjutnya: VALUE PROPOSITION.

Btw, gambarnya diambil tanpa izin dari buku “DesignThinkingPlaybook” yang saya share kemarin. Dan yes, ada yang japri bilang “DTP adalah buku terbagus yang dia baca”, ngajarin ideation ke kita.

Well, SAYA TENTUNYA SETUJU. Yang saya tuliskan dan kritisi kemarin bukan contentnya lho, tapi cara bertuturnya Tn. Lewrick yang datar dan berkesan panjang lebar, ndak menginspirasi saya.

MDan bisa jadi saya salah. Harusnya menurut saya content yang bagus harus dideliver dengan bagus juga. Imho yaahh.. ✌️😁

Demikian.

Selamat pagi Indonesia.. ^_^

#DesignThinkingPlaybook

#Books #ValueProposition #DigitalX

.

Review Buku: The Design Thinking Playbook

Oh gaes..

Buku “The Design Thinking Playbook” ini baru banget. Baru 3 Mei 2018 kemarin dipublish “Wiley”. Saya beli. Biasalah, beli versi Amazon kindle banyak diskon. 😉

Yang membuat saya membeli buku ini karena Michael Lewrick pengarang bukunya ini seperti meresume beberapa buku terkait “design thinking” dan membuatnya menjadi langkah-langkah mudah yang di breakdown jadi terap-able. Gampang dilakukan. Di preambule juga sudah dijelaskan.

Akan tetapi..

Ini mungkin perasaan saya aja kali.. 😅

IMHO bangets, menurut saya cara bertutur Tn. Lewrick terlalu datar. Kalimat yang dipilih juga segendang penarian. Rata air ndak menginspirasi sedikitpun. Kurang menggerakkan. Halah.

Secara tujuan untuk “memvisualkan” design thinking itu apa dapet banget. Soalnya buku ini didukung banyak gambar. Coloring notes untuk takeaways juga buat kita membacanya ndak bosen.

Akan tetapi graphic & visual bagus dibuku ini ndak menolong. Karena, cmiiw, penjelasan Tn. Lewrick ini terlalu panjang lebar dan yeah somehow campur aduk gitu. Ndak runut. Menurut saya buku playbook itu seharusnya menggunakan bahasa yang ringan, kalau bisa jenaka, dan fun. Namanya juga playbook kan yah. ✌️😁

Btw, saya baru sampai di chapter 2.6, how to prepare the organization for a new mindset, masih belum khatam bacanya. Dan ekspektasi saya agak berlebihan dengan chapter ini, ndak jumpa dengan apa yang saya harapkan. Malah saya mikirnya rada ndak nyambung dengan judul besar.

Kebayang bicara “mempersiapkan organisasi dengan mindset baru” harusnya bisa diexplore pakai contoh real. Misalnya kalau Google terlalu mainstream untuk dijadikan contoh, Tn. Lewrick bisa cerita tentang Wegmans atau Brandix. Yah yang real lah sebagai contoh. Bukan hanya nyebut “some organizations” atau “many companies” yang terlalu general. Ndak menggugah. 🙏😂

Oiya, fyi, buku ini hanya ada 3 chapter utama saja, guys. See these:

1# Understand Design Thinking

2# Transform Organization

3# Design The Future

Yes, kalau yang nge-fave sama buku “Value Proposition Design” oleh Osterwalder. Atau “100 things designer needs to know about people” punya Susan Weinschenk yang penuh dengan visual ndak usah terlalu banyak berharap sama buku Tn. Lewrick ini yah gaes. Beda.

Soalnya walau visual nya sama kuatnya, dan juga coloringnya juga sama bagusnya, tapi ndak menginspirasi seperti dua buku dengan visual bagus yang saya sebutkan di atas. Ndak clear karena terlalu panjang dan berbelit. Yah, begitulah.

Sure, there are good things in this book. Untuk kamu yang baru baca buku design thinking (ideation) ini bagus untuk starting point. Penguatan “how to design a program” bagus diceritakan disini. Lagian kurang menarik untuk diceritakan bukan berarti buku ini ndak bermanfaat. Hehe.. 😊🙏

Itu aja gaes. Kalau untuk saya nilai buku ini 3 dari 5 bintang. Lumayan untuk bikin cantik GoodReads list saya wkwkw.. 😆

.