Posts by abepoetra

"Abdi J. Putra" well known as "Abe Poetra". Suami dari Fidia Rimasari dan diberi tanggung jawab 2 anak, bang Tala & dek Agi. Saat ini bekerja di Telkomsel sebagai Salesman.. ^_^

Preorder Buku Infinite Game – Simon Sinek

Well gaes..

Nyang saya suka dari Amazon adalah “mereka faham bener memperlakukan pelanggannya”.

Barusan saya dapet email terkait “Preorder Buku The Infinite Game” yang ditulis oleh “Simon Sinek”. Preordernya kemarin sudah dilakukan kira-kira 5 bulan lalu (21 Maret 2018).

Emailnya Amazon menjelaskan kalau preorder buku saya yang harusnya release Oktober 2018 nanti menjadi Desember 2018. Jadi mundur release bukunya gaes.

Sebenernya saya juga hampir ndak inget pernah preorder buku ini lho gaes. Habisnya dari Maret ke Oktober kan lama. Makanya lupa hehe. Eh, ternyata diingetkan jadi seneng gimana gitu. (Iyah ndak penting sih wkkwkw)

Seriously menurut saya ini cakep..

What Amazon do adalah “pelanggan sentris”. Fokus ke pelanggannya. Persis seperti workshop DigitalX yang saya ikuti beberapa minggu lalu. Apapun yang dilakukan harusnya fokus kepelanggan, BUKAN karena ada agenda kita.

Yes, it is never ever evaa about us. It is always about our customers, gaes. Oh dem, ndak terlalu rumit sebenernya kan yah.. 🙏☺️

.

Advertisements

Kenapa Kita Tidak Fokus Bekerja

Ini menarik guys, terkait produktivitas kerja. Pertanyaannya selalu klasik dari dulu hingga kini:

— KENAPA KITA TIDAK FOKUS BEKERJA?

(Work Smart – Prof. Hansen)

Well, dari study yang diconduct Prof. Hansen terhadap ribuan employess (from staff to managerial level) mengungkapkan 3 hal utama yang membuat kita selalu galfok (gagal fokus).

1# BROAD SCOPE OF WORK ACTIVITIES (including having too many meetings and too many work items). Ndak bisa multitasking tapi sangat disarankan untuk membuat prioritas.

2# TEMPTATIONS (including distractions imposed by others and temptations created by oneself). Ada istilah FOMO (Fear of Missing Out) atau perasaan khatir ketinggalan informasi atau ndak update. Ini jika dibiarkan menyedot fokus untuk bekerja.

3# PESKY, “do-more” bosses (who lack direction and set too many priorities). Ada bos yang banyak banget ngasih tugas, ndak ngasih arahan yang jelas, dan tidak memberikan komunikasi yang jelas.

Dan itu menurut Tn. Hansen, gaes! Versi scientfiic yang dituliskan dibuku WorkSmart.

Nah, saya punya juga gambaran “kenapa orang tidak fokus ketika bekerja” atau penyebab “kenapa orang bosen dipekerjaannya”. Berikut:

WHY PEOPLE GET BORED?

(Lifhack Version)

https://www.lifehack.org/572501/feeling-bored-work-here-are-causes-you-may-not-realize-and-how-you-can-cure-the-boredom

1# Mismatch between your interest & your work

2# Not using your capabilities fully

3# Little opportunity for growth & learninf

4# Too much idle time

5# You feel exhausted & tired

6# No clear goals

Dan dijelaskan juga disana bagaimana mengatasi kejenuhan saat bekerja.

Itu aja guys,

happy working everyone.. 🙏

Hubungan Antara Fokus, Usaha, dan Performansi

HUBUNGAN ANTARA FOKUS, USAHA, DAN PERFORMANSI

Kalau ngelihat kategori analisa regresi (sebab-akibat) digambar atas, to be honest, saya akui bahwa saya sering masuk dalam kelompok “berbuat lebih banyak, kemudian stress“. Haha apes memang. Fokusnya ndak dapet, effortnya tinggi, dan performance nya kategori biasa-biasa aja. 😅

Dan yang buat wowing lagi, terkadang ini dilakukan biar “kelihatan kerja”. Kerja terus sebanyak-banyaknya, padahal malah ketika “do more then stress” ndak satupun yang mampu diselesaikan dengan baik. Ndak tuntas malah.

Yeah rite, saya faham katanya kerja itu cari duit, bukan cari muka. Ini kalimat sarkas tapi kadang saya fikir bener bangets. Ini harus saya sebutkan selalu dalem hati.. 😂

Positifnya sih kalau mampu mengerjakan semuanya ya bagus. Akan tetapi kalau ndak mampu mending balik kanan ngerjakan tasks BAU dan meningkatkan value dikualitasnya, gaes. Dikasih 4 kerjaan, jangan mikir ngerjakan 6 tasks atau 8 tasks kalau yang 4 aja kategori STD. Mau maksa ngerjain yang lain? Yakinlah, ini malah akan mengecewakan banyak pihak.

Lagian guys, we have the same 24 hours, rite? Sama-sama punya 24 jam yang sama kan yah. Kecuali jatah jam-nya ada yang sehari 28 jam, nah ini bisa jadi do some extra works for the rest (4 hours).

Hehe, sederhana aja kok. Kerjakan tasks BAU, fokus, fight for it, create much values there, baru nge-jump ke extra tasks.

Agak beda memang jadinya. Katanya: “Instead of asking how many tasks you can tackle given your working hours, ask how many you can ditch given what you must do to excel”. Haha, efektif dan fokus.

Back to the pictures. As you can see, kategori yang paling baik adalah “DO LESS, THEN OBSESS”. Yah, contoh Tn. Jiro Ono yang saya share kemarin misalnya. Oiyah, saya juga ndak dikelompok yang terbaik itu guys, masih mau mencoba kesana lah ini. Kalau mampu kwkwkw..

Hepi wiken eperiwan..

*fokus, effort, dan performance.. ✌️😁

.

Berharap Bukanlah Strategi

Ini agak sarkas, nyindir banget.. 🙏😆

Menurut saya, apa yang dibilang Chris Bradley, senior partner of McKinsey & Company, adalah realitas. Kalimatnya:

“BERHARAP BUKANLAH SEBUAH STRATEGY”.

Asem memang tapi apa adanya, gaes. Bicara strategi adalah hal yang nyata dan realistis. Ndak bisa bicara “eh itu ada peluang” dan berhenti disitu saja. Maksudnya berhenti di “tahu ada peluang” saja dan selanjutnya do nothing.

Jika merasa menemukan peluang (opportunities), baiknya dikalkulasi dengan benar berapa peluangnya. Ndak usah ragu juga ngitung effortnya. Sampai firm bener “peluang” dan “effort” berkebalikan kurvanya. Maksudnya ketika si peluang besar dan si effort ndak ikut-ikutan besar. Common knowledge-lah ini yah guys.

Ada beberapa hal yang disharing oleh Tn. Chris Bradley, agar ndak jatuh dikata “berharap” saja. Soalnya, again and again, berharap itu bukan strategy. Berikut gambarannya guys:

1# Don’t waste a strong trend

2# Reward noble failure

3# Revamp the approach to M&A

4# Check that your big move is big enough

5# Tackle the challenge of sticky resources

6# Ensure the strategy room is like a kitchen with the right menu

Dan sebagai penutup Tn. Bradley berpesan: you gotta to believe that hope is not a strategy. Ndak usah berhalu-halu siang bolong gini berharap dowank. Gali. Pastikan ada cahaya disana.

Oiya. Kalau mau baca detail kalimat nyindirnya Tn. Bradley, you can read here:

https://www.mckinsey.com/business-functions/strategy-and-corporate-finance/our-insights/the-strategy-and-corporate-finance-blog/hope-is-not-a-strategy

Demikian gaes, selamat berbuat sesuatu yang owhsem kawan-kawan semua. Ingetlah selalu ndak usah banyak-banyak berharap, mending gali dalem. Ndak worth it ya tinggalkan. Kalau cucok, bungkus!

Salam olahraga semuanya..

— Sekarang, jangan tunggu besok. 🙏😍

JIRO ONO: LAKUKAN SEDIKIT & TEROBSESILAH

Selama lima puluh tahun terakhir, Tn. Jiro Ono, 91 years old, mengoperasikan kedai sushi Sukiyabashi Jiro. Lokasinya terselip di bawah jembatan di stasiun kereta bawah tanah di Tokyo.

Menuju kedai sushi Sukiyabashi Anda akan melihat didepannya pintu kayu terbuka, jalan lurus ke arah koridor sempit yang menyerupai gudang. Yes, begitu masuk Anda mungkin juga kecewa karena tak ada kertas menu satupun disana. Tn. Jiro Ono menyajikan persis 20 jenis sushi kepada sepuluh seat tamu yang duduk di depan dia biasanya meracik fresh sushi.

Ditempat itu ndak ada koktail pendahuluan, ndak ada tempura, dan yah tanpa lauk. Plain banget. Oh iyah, kamar mandi ada di koridor kereta bawah tanah, yah itu, numpang di toilet umum. Sounds like a recipe for failure. Ini failed banget kelihatanya, gaes.. 😅

Akan tetapi malah sebaliknya. Tn. Jiro Ono direcognize sebagai koki sushi terbaik di dunia guys. Menyandang peringkat mutakhir tiga bintang Michelin (Michelin Star itu kayak Piala Oscar didunia kuliner, penghargaan yang ambisius dan prestisius). Beliau ini sudah dianggap bintangnya para chef.

Yah, beliau telah mengabadikan hidupnya untuk menyiapkan dua puluh buah sushi saja. Dan memilih set kecil (menyajikan 20 jenis sushi) ini bukan suatu hal yang membuatnya berbeda. Apa yang membuat Tn. Jiro Ono berbeda?

Seperti yang diceritakan Tn. Morten Hansen dibukunya “Great at Work: How Top Performers Work Less & Achieve More” yang membuat beda adalah bagaimana fokusnya Tn. Jiro Ono. Sampai-sampai yah kita tau film dokumenter “Jiro Dreams of Sushi” dibuat dan jadi panutan seluruh chef sepenjuru bumi ini.

HOW TO PREPARE THE BEST SUSHI IN THE WORLD

Coba saya ceritakan sedikit bagaimana Tn. Jiro Ono mempersiapkan sushi sebelum buka toko setiap hari gaes.

Di pagi hari, putranya yang paling besar, yang telah dilatih ayahnya selama tiga puluh tahun, pergi ke pasar ikan untuk memilih satu buah tuna yang paling unggul. Sang anak ditugaskan untuk memilih tuna (dan bahan lain) yang terbaik dari seluruh pasar. Wajib yang terbaik. Pesan sang ayah, kalau tidak nemu satu potong ikan tuna terbaik, lebih baik ndak usah belanja. Ndak usah menghidangkan tuna dimenu hari itu.

Yah, again and again. Bagaimana Anda bisa menyajikan sushi superior jika Anda tidak memiliki satu pun potongan ikan terbaik? Dan untuk tugas utama membeli bahan diberikan ke putranya yang sudah dididiknya sendiri selama 30 tahun.

Fokus yang sama ketika menyiapkan gurita. Tn. Jiro mengajarkan untuk memijat gurita dengan tangan secara perlahan.

Ini bagian untuk memastikan sendiri tingkat kelembutannya sudah memadai. Berapa lama pijatan dilakukan? Tn. Jiro biasanya mencontohkan minimal pujatan sekitar 30 menit, bahkan untuk baby octopus puncak kelembutan akan dicapai ketika dipijat tangan selama 40–50 menit. Dan untuk tugas ini, biasanya diberikan ke chef yang lagi magang (yang bekerja di resto Tn. Jiro).

Chef magang yang lain, ada 8 orang, selama 10 tahun bekerja hanya diperkenankan mencuci dan menyiapkan ikan saja. Dan kalau lulus sehingga barulah dapet peran tambahan mempersiapkan sushi omelet. Dan untuk tahapan ini juga Tn. Jiro meminta chef magang untuk memasak 200 telur dadar (iyah, 200 ndak kelebihan nol), sebelum sang chef magang diizinkan untuk menyiapkan satu paket sushi yang disajikan kepada pelanggan. See that, ini dilakukan berulang selama puluhan tahun. 😅

Yah seperti itu yang diceritakan Tn. Hansen juga dibukunya. Ketika Anda hanya membuat dua puluh jenis sushi, Anda akan terobsesi dengan semuanya.

Ketika Anda fokus melakukan hal yang sedikit dan jadi terobsesi, keduapuluh jenis sushi itu akan menjadi duapuluh bagian materpiece yang lezat. Tn. Jiro Ono menyalurkan seluruh energinya ke masing-masing jenis sushi. Dan well, ohsem banget, beliau menghabiskan waktu seumur hidup untuk menyempurnakannya. Respect.

SEBAGAI TAKEAWAYS

Obsessed (keinginan kuat) untuk menjadi yang paling unggul itu wajib fokus. Dan ini bisa diterapkan dalam berbagai bentuk pekerjaan, tergantung pada bidang apa kita gawenya gaes. Melakukan sedikit misalnya hanya 20 jenis sushi yang dipilih dari ratusan bahan sushi yang berbeda. Kemudian terobsesi bertahun-tahun untuk menjadikan sempurna sehingga label “GREAT WORKS” didapet.

Sarannya sih: DO LESS, then OBSESS.

Misalnya lagi gini. Jika kita adalah salesman panci. Kita wajib faham karakter dan value panci yang akan dijual, khatam kilogramnya berapa sehingga kita bisa memilihkan panci mana yang pas. Ini namanya focus and do less.

Kemudian faham seberapa nyaman genggaman panci ketika digenggam pelanggan yang ukuran badannya beda-beda, terus by exprience faham vurnability pantat panci ketika dikawinkan dengan panggangan, lalu bagaimana tingkat kegosomgam ketika menggunakan bakaran bara api, atau kompor gas rinai api biru seberapa tahannya gimana, itu namanya obsessed, guys!

AGAIN AND AGAIN

Kalau ngelihat Ernest Hemmingway yang buat ratusan draft tulisan baru dipublish satu yang terbaik, kemudian ngelihat Alfred Hitchcock butuh 70 kali nge-take satu adegan mandi di film Psycho yang less than 10 seconds, ngegambarin bagaimana mereka fokus do less dan terobsesi. Yeah rite, jadi kebayangkan yah Tn. Alva Edison ngebuat bohlam lampu gak sekali cetak langsung jadi bohlam. It needs time. Fokus do less. Dan terobsesi.

Iyah, cerita sepanjang ini sebenernya mau hilang kalau story of Jiro Ono menginspirasi saya gaes. Menginspirasi bahwa sebenernya ndak ada yang instan, butuh waktu lama. Wanna be great. Do something that you love most, then obsessed. Ndak usah berhalu-halu ngerjain semuanya. Gitu sih katanya.

Semangat melakukan “great things” semua pembaca lini masa. Oiyah satu lagi, TERIMAKASIH lho guys sudah membaca sampai bawah ini. Lapyu.. 🙏☺️

#GreatWorks #HowTopPerformers

#WorkLessAndAchieveMore

#MortenHansen #Books

#JiroOno #Chef #Sushi

Tabik,

Abdi J. Putra — ABIE

*your friendly neighborhood

*kerja keras bagai horse ndak jaman lagi 😆—

Nyinyirnya Pemain Mobile Legends

Belakangan sering main games Mobile Legends (ML), gaes.

Well, sebenernya kebawa pengaruh anak saya Bang Tala sama Dek Agi. Lagian, dikantor juga sering buat ML competition yang dibuat sama anak-anak digital, yang mana peminatnya ternyata warbiasak dan wagelaseh. Hampun dah.

Yah, singkatnya maenlah anak mudanya. Dan belik beberapa skin yang cakep-cakep. Gitu main eyalah saya seringnya malah kenak komplain:

“OH DASAR ZILONG NUB, SKIN BAGUS GADAK SKILL”

Itu pas saya pakai skin Glorious General. Belum lagi kalau makai yang legends kayak Chanbanpo Commander haha habis saya. Yes, saya skill ndak punya tapi sikil (kaki) saya punya wkkwwk. Sebagai informasi “nub” atau “noob” diambil dari kata “newbie” atau “pemain pemula”. Oh dem.

Kadang komentar kasar yang saya juga ndak faham maksudnya apa gaes..

“NGEHE NUB, ZILONG AJNG JGN NGEBUFF”

Belakangan saya tau ”ngehe” itu apa dan kenapa “ngebuff” itu ada timingnya. Teros “AJNG” itu ternyata “Anjing”.

Intinya sih, saya ndak faham ini kenapa anak-anak ML ngomongnya pada lantam dan ganas sekali. Kadang kepikiran mau emosi balik tapi lah teringet itu pasti yang main seumuran bg Tala (only 12 yo) jadi saya yah sabar aja banyak-banyak istighfar wkwkwkw..

Palingan saya ngejawabnya “Maaf KK Saya Nub” eh tambah emosi malah saya dimaki lagi. Kadang kayak ustadzh saya jawab towa gituh “Eh ini ibumu yg ngajarin ngomong kasar gitu“. Dan ndak ngefect juga. Yang ngeflaming malah nambah darah tinggi. Hiks. Ndak jelas juga ini orang semua. Nyinyir semuanya.

Sampai kemarin lebaran. Ketika saya sengaja buka buku 10 skin atau berapa gitu di vault, bang Tala bilang “Ih papah sultan banget“. Ndak gitu ngerti maksudnya si abang tapi saya malah jadi kepikiran punya bahan jawaban ketika di offense, gaes.

Sudah dipraktekkan beberapa kali dan kayaknya manjur lho gaes. Once ketika ada yang bilang “woy lu menang skin dowank” atau “skin aja bagus main jelek”, dan sebangsanya, saya lantas jawab sopan:

“IYAH MAAF KK, SAYA SULTAN BANYAK SKIN. MAAF YAH”

Dan ini manjur. Ajaibnya, ndak ada yang berani komentar lagi. It works. Dan biasanya in the end of pertandingan saya malah di add-friend sama yang ngeflaming. Karena mungkin dikira sultan beneran. Ndak sekali tapi 5 apa 6 kali kejadian lho gaes.

Bener memang kata anak saya sultan itu sakti. Kalau istilahnya mereka: SULTAN MAH BEBAS. CUMAN SULTAN YANG BOLEH APA AJA LHO PAH. Iya deh iya. Ini jadi solusi (sementara) untuk menghindari nyinyirnya ML players yang ngelihat skin bagus skill rendah kayak saya hehe.. ^_^

Btw, sebenernya mau nyeritain tentang SULTAN (DylandPros) yang beli skins legends sekaligus, yah hampir 30K diamonds. Saya juga mau share kenapa harusnya si botak “Jess No Limit” yang pantes disebut Sultan. TAPI KAYAKNYA NDAK SEMPAT lho gaes, ini mau Mabar sama si bang Tala dan dek Agi dulu.

Haha gitu aja dulu, ini tulisan ndak penting plus ndak berfaedah sebenernya ndak usah diambil hati..✌️😂

Great At Work – Morten T. Hansen

Nyang buat terngiang dikepala Tn. Hansen adalah apa yang disebutnya Natalie’s Question. Pertanyaan tentang Natalie, kolehanya di Boston Consulting Group.

Seperti yang ditutur, saat itu Tn. Hansen dan Natalie sama-sama anak baru di BCG. Mereka berdua sama-sama cerdas. Sama-sama bagus performansinya. Menonjol diantara para cerdas cendekia yang bekerja disana. Menjadi TOP PERFORMERS diperusahaan tersebut.

Sebenernya yang jadi pertanyaan Tn. Hansen dulu (dan baru kejawab hari ini) adalah “spending time” dalam bekerja. Tn. Hansen heran kenapa Ms. Natalies di recognize “superb” juga. Sama seperti beliau. Okelah Natalie pinter dan cekaran, tapi to be honest tuan Hansen menganggapnya pelit waktu.

Natalie itu ndak begitu terlalu kerja keras. See, Nat’s kerja hanya jam 08.00 to 18.00 (60 jam) maksimal ndak lebih. Sementara Tn. Hansen ndak jarang stay dikantor. Bisa ngabiskan 90 jam seminggu.

Artinya rata-rata 15 jam sehari untuk bekerja selama 6 hari. Beneran kerja keras gaes.

Dan pada akhirnya tuan Hansen sadar kuncinya bukan dibanyak jam-nya tapi dikualitas dan produktifitas. Bagaimana bekerja seefektif mungkin dan menaikkan produktivitas yang harusnya dituju.

Berangkat dari itu semua kenapa Tn. Morten Hansen melakukan beberapa riset dan menuangkannya dalam buku “GREAT WORK, how top performers work less and achieve more”. Beliau mengajak kita pembaca yang bekerja untuk memahami esensi bekerja itu dimana.

Kalimat berikut di bawah saya kasih notes dikindle. Sengaja. Selain suka kalimatnya juga menurut saya bisa menjadi takeaways untuk difahami. See here:

Top performers did less and more: less volume of activities, more concentrated effort.

Aha, katanya top performers melakukan “sedikit” dan “banyak”. Sedikit maksudnya dalam melakukan aktifitas, dan banyak berkonsentrasi ke usahanya. Cakep! And we know already, yes, hari ini yang dibutuhkan adalah kerja cerdas. Persis seperti yang Natalie lakukan.

Well, tuan Hansen juga menjelaskan para pemimpin perusahaan yang punya persepsi keliru: the longer you held meeting the more you will be appreciated. Saban hari meeting malah ngganggu di eksekusinya. Kebanyakan diskusi eksekusinya kapan?

Well, saya juga sama..

Kadang ndak efektif dan ndak smart dalam bekerja. Tulisan ini sebenernya #selfreflect dan #selfremind supaya ndak terjerambab jadi leader yang salah perceived “kerja lama biar dibilang bagus”. Ini leader kampret namanya.

Next, saya sharing (singkat aja) terkait 7 hal yang diresearch oleh tuan Hansen. Nyang diconduct ke 5000 orang dengan berbagai disiplin pekerjaan dan jabatan. Etapi ndak usah ditunggu, soalnya ini sharing sesempatnya aja hehe. Ciao.