Posts by abepoetra

"Abdi J. Putra" well known as "Abe Poetra". Suami dari Fidia Rimasari dan diberi tanggung jawab 2 anak, bang Tala & dek Agi. Saat ini bekerja di Telkomsel sebagai Salesman.. ^_^

10 SIMPLE RULES – By Laszlo Bock

Kemarin diminta HCM sharing ke para agent of change Area Sumatera. Para agent ini sengaja dibentuk untuk menghembuskan “corporate culture” dilingkungan mereka. Program bagus menurut saya. Menularkan value-value positif.

Karena ini ngomongin tentang culture dipekerjaan, saya fikir buku “Work Rules” yang ditulis former Executive Vice President People Operations Google, Laszlo Bock, akan bagus untuk difahami bersama.

To make long story short, ada 10 aturan yang disimpulkan tuan Laszlo yang katanya penting untuk diterapkan diperusahaan atau organisasi hari ini. Dus, aturan-aturan ini dipercaya akan mengubah bagaimana kita menjalani hidup dan bagaimana kita memimpin dipekerjaan. Berikut guys:

#1. Give your work meaning

#2. Trust your people

#3. Hire people who are better than you

#4. Don’t confuse people development with managing performance

#5. Focus on the worst and the best (the two tails)

#6. Be frugal and generous

#7. Pay “unfairly”

#8. Nudge

#9. Manage the rising expectations

#10. Enjoy! Then go back to No.1 and start again

See #10 guys. YES. Apapun yang dilakukan, kita jangan lupa untuk menikmatinya. Jangan lupa kata FUN supaya tetap bisa ENJOY kan yah.. ^_^

Well, banyak hal yang menarik seputaran Corporate Culture Google yang saya coba share sesuai penuturan tuan Laszlo. Banyak yang angguk-angguk gitu kemarin gaes. Ndak faham mereka itu pada setuju atau pada ngantok. Kayaknya sih pada ngantok yah kwwkwk.. ✌️😂

Oiyah, kalau googling “Google Culture” akan kelihatan bean bags, lava lamp, atau free snacks untuk para Googlers. Dan kelihatan “seolah-olah” budaya perusahaan mereka yah itu. Eng, sebenernya bukan itu sih inti dari culture Google. Lebih dalem lagi, lebih nyentuh ke employeenya.

Next aja kali yah, saya akan share apa yang didefinisikan oleh Laszlo Bock terkait aspek apa aja yang mendefinisikan “Google Culture” sehingga sampai hari ini masih “megang” banget.

Tabik,

ABIE || @abepoetra

.

Advertisements

About People – A Story From Google

Ini ceritanya sehari sebelum Google IPO, 19 Agustus 2004. Yaps, sekitar 15 tahun yang lalu.

Malem itu Sergey & Larry sengaja memberi surat prospektus tambahan untuk para investors. Sebenernya notes atau surat ini ndak penting kalau diistilah kepemilikan, tapi bagi duo founders ini malah sangat penting.

Surat itu sebagai pernyataan sikap bahwa 1.907 karyawan mereka saat itu “do matter” banget. Maha penting dari semua asset. Itu kenapa mereka berdua maksa catetan itu harus dibacakan ketika diskusi final.

Saya ndak kutip semuanya, tapi penggalan kalimat mereka ini menginspirasi saya:

________

“Our employees, who have named themselves Googlers, are everything.

Google is organized around the ability to attract and leverage the talent of exceptional technologists and business people.

We have been lucky to recruit many creative, principled and hard working stars. We hope to recruit many more in the future. We will reward and treat them well.”

________

Yah, mereka bilang singkatnya kaya gini guys:

“Duhai para investors, sebelum kalian berinvestasi diperusahaan ini please difahami kalau karyawan kami (Googlers) adalah segalanya bagi perusahaan ini.”

Yah, demikianlah. Penggalan kalimat yang ditulis oleh duo founders itu membuat semua morale Googlers went up. Membuat para karyawan pada saat itu (2004) mengerti kalau mereka tidak sedang dijual. Membuat para Googlers firm kalau mereka tetap bisa berkreasi dan berinovasi kapan saja.

Yeah rite guys..

Kalau hari ini kawan-kawan semuanya adalah seorang leader yang punya orang-orang yang bekerja untuk tujuan bersama, cerita Duo founder Google ini harusnya punya tempat.

Last words..

Saya suka yang dibilang Jack Welch “Before you are a leader, success is all about growing yourself. When you become a leader, success is all about growing others”. Yes, ini bukan tentang kita lagi, tapi tentang orang-orang yang kita lead.

Tabik.

Abdi J. Putra — ABIE

Add my IG here: @abepoetra

Leadership: Your Action Define Your Impact

Saya suka sama campaign #YouMatter guys. Karena seharusnya memang if you are a leader then you should understand that all people is matter. Ini bicara tentang leadership. Semua orang adalah penting.

Then, kalau all people matter, what should leaders do? Apa sih yang harus dilakukan leaders kekinian? ☺️

Well, saya ndak gitu faham juga gaes. But have you ever read about 4E’s and 1P punya Jack Welch. Yes gaes, salah satunya adalah “Energize Others”. Tuan Welch bilang sebagai leaders harus punya kemampuan meng-energikan. Apakah itu bawahannya, atasannya, juga athmospherenya.

Dalam kata lain memberikan semangat. Do you brighten up your co-worker’s mood? Or do co-coworkers feel down after interacting with you? Susah nge-jawabnya. Ini aselinya self reflect lho.. 😂

Nah, malesnya memberi semangat ke orang lain itu kitanya harus punya semangat dulu. Iya donk. Sama kayak harus membahagiakan orang lain yah harus bahagia dulu. How come you can energize others, motivate them, while kita sendiri masih gamang didalem. ✌️😂

Oiyah, back to pict. Dalam hal ini leaders didalam suatu organisai seharusnya punya ruang untuk menyemangati circle-nya atas & bawah dalam hal mendapatkan positif impact. Karena defaultnya “YOUR ACTIONS, DEFINE YOUR IMPACTS” ini bisa sama-sama diarahkan.

Gitu sih katanya guys..

Hepi wiken duhai kalian yang do care banget sama people, iyah kalian, kalian yang mampu memberikan impact positive dienvironment tempat kalian bekerja. Yes, Adam Grant bilang kalian itu “Givers”.

#YouDoMatters

#KamuPentingKamuPenting

#SelfReflects 🙏😆

Be Brave & Start Over Again

Sketch ini mengingatkan saya sama satu hal yang harusnya dilakukan semua orang: BE BRAVE ENOUGH TO MAKE MISTAKES. Atau menjadi berani untuk berbuat salah. Saya sendiri sebenernya sama. Bencong. Banyak ndak beraninya untuk sesuatu yang baru.

And gaes. Berani sebenernya bukan menghilangkan rasa takut itu sendiri, akan tetapi malah harus merasakannya sampai ke sumsum dan membuat gemetar. Memikirkannya kedalam sanubari sehingga takut sungguh takut. Cemas sungguh cemas. Khawatir pastinya khawatir.

Setelah phase menikmati ketakutan dilewati, kata tuan Mark Manson (The Subtle Art Not Giving a F*ck), bisanya kita malah bisa firm mengukur konsekuensi yang dihadapi. Dan biasanya ternyata tidak seseram yang dibayangkan. Solusinya hanya sesimple memeluknya dan mengakui kalau kita takut.

Ah tapi, eventhough everything goes wrong, sebenernya hanya satu hal saja yang harus dilakukan. Seperti sketch tuan Snider itu:

“JUST TAKE OUT A BLANK PAGE AND START OVER AGAIN.”

Demikian kayaknya guys. Semoga kita menjadi pribadi-pribadi yang berani berbuat walah kadang salah. Daripada ndak berfaedah menunggu then do nothing, better do something.

Selamat hari senin semuanya. 🙏

#selfreminding #reflect

.

CAN YOU ADAPT A CHANGING LANDSCAPE?

Guys,

Hari ini banyak perusahaan yang bicara tentang TRANSFORMASI. Bicara tentang perubahan organisasi internally juga externally.

Well, kalau bicara “transformasi” baik dunia kerja atau tentang hidup, saya selalu teringet sama kalimat bunda Nancy Duarte yang bilang “venturing into the future is scarry”. Menakutkan dan mengkhawatirkan karena memang ndak ada kepastian.

When you jump into the abyss, for the “third curve”, atau kurva keberapalah you name it, selalu aja ndak nyaman. Ndak menyenangkan.

Berasa gulita. Walau percik-percik api yang namanya symptoms ada dimana-mana memberi petunjuk tapi yah masih gelap gitu guys. Where those wizzards hide our torch? Hentah kemana obor penerangnya disimpan.. 😆

Agree, that we should be ready for every circumstances. Harusnya yah kita siap. Akan tetapi, seberapa tinggi level confidence kita bersama to answer that we are ready. Atau sarkasnya: seberapa nyadar kita memahami kalau hari ini bisa jadi kita ndak punya apa-apa dan ndak faham apa-apa tentang ini.

Dan oh guys, pertanyaan selanjutnya, seperti digambar, jadi sangat relevan:

“CAN YOU ADAPT TO A CHANGING LANDSCAPE?”

Mampu ndak kita beradaptasi. Seperti tulisan saya “Salesman Nowadays”, mampukah kita marketer atau salesman untuk beradaptasi (adapt) dan merangkul (adopt) perubahan. Nah kalau itu udah clear, masalah yang tinggal adalah lanskap mana yang berubah dan eksekusi arahan untuk melompat kemana. 🙏☺️

https://id.linkedin.com/pulse/salesman-nowadays-parth-three-end-abdi-januar-putra

(Salesman nowadays part1 dan part2 lihat ditautan dibawah artikel diatas)

Lanjot guys..

Belakangan saya lumayan banyak membaca. Tentang digital, berkaitan dengan sales marketing, McKinsey insights, dan banyak juga tentang leadership. Many-many books lah guys. Be my goodreads budd. Kemaruk yah mungkin kesannya hihi. But I need this.

Perlu karena secara pribadi niatnya pengen “mempersiapkan” diri untuk petualangan baru kemasa depan. Iyah, untuk VUCA juga. Mungkin ndak bisa kasih insight banyak tapi yah minimal dilevel eksekusinya ndak memberatkan yang lain. Kalaulah ndak mampu yah jangan malah ngegangguin. 😆

Gitu aja kali guys.. ^_^

Have a nice day everyone. Tabik!

#selfreflect #transformation #VUCAworld

#keepreading #youarewhatyouread

#salamolahraga

QOTD – Aku Tau

Oh guys,

Ini taon lalu dikasih bajunya, baru hari ini dipakek. Soalnya sempat ngilang kemana ini baju ini.

Kalimatnya itu lho.

Sukak kali aku sama quotesnya ini woy.. 😆

“AKU TAU TAPI AKU SELOW”

Haha, selain jenaka juga penuh makna. Oiyah, makasih yah Yogi Warhols dan kang Ardi yang udah ngasih baju ini.

🙏😊

.

Presentation Zen – Garr Raynolds

Kalimatnya kayak gini..

“No matter how impressive technology becomes in the future, no matter how many features and effects are added, the technology of the soul has not changed.”

Yaps, ndak peduli juga seberapa mengesankannya teknologi presentasi kedepannya. Ndak peduli juga sudah berapa banyak fitur dan efek yang ditambahkan, akan tetapi TEKHNOLOGI JIWA ndak akan pernah berubah guys. Ho-oh, ini bicara UX sebenernya. Yes, what people feel. 😍

Tambahannya lagi, teknologi untuk ngasih presentasi seperti PowerPoint dan Keynote — dan Apps baru seperti Prezi — itu hanya berguna pada tingkat di mana tools itu membuat hal-hal menjadi lebih jelas dan lebih mudah diingat saja.

Intinya apa untuk what so called “teknologi jiwa” yah guys..

Yah maksudnya seberapa bagus teknologinya itu tetap berhenti sebagai “tools” saja. Yang hakiki adalah komunikasi itu sendiri dalam tataran kebutuhan manusia satu ke manusia lainnya. Hablum minannas gitulah. Mantabs Djiwa.. 😆

Btw guys, PRESENTATION ZEN ini salah satu buku favorit saya. Worthed to read-lah. Tuan Garr Raynolds tidak hanya bercerita tentang fungsi saja, tapi dia juga menekankan tentang keindahan, keseimbangan, yang dibaur dalam kesederhanaan.

Remember about “Really Bad Presentation”, yang ditulis tuan Seth Godin 15 tahun yang lalu, guys? Well, hari ini 2018 masih banyak juga orang-orang melakukan kesalahan yang sama. Ndak berubah banyak. Termasuk saya juga lho.. 😅

.