How to – Michael Bierut

Guys, pribadi saya suka pake ngets buku ini. Buku ini akan mencampakkan dirimu ke insight-insight baru yang membakar semangat. Halah. Yang menyenangkan adalah, Tn. Michael Beirut akan nabrak ego-ego mu yang ndak penting.

And well, Tn. Beirut faham banget “design is always subjective ever”. Artinya suka ndak suka juga. Beliau fikir bagus ternyata dipandang sampah, dan dia merasa karyanya sampah eh malah dipandang emas. Haha, akan tetapi design is design dan selalu ada “taste” disana.

Wajib dikoleksi ini. You will soon understand what become the background of the masterpiece. Semua design ada ceritanya, dan setiap cerita selalu ada phenomenal artist dibelakangnya. Love it mah kalu saya.

Btw guys.

Ada 2 hal saja yang mau saya kritisi untuk buku ini:

1# The title says “How to” in really big letters, but it is not a how to book. Yah, yang suka Tn. Beirut pasti faham itu gayanya. Nah, yang ndak fans-nya pasti confused karena memang ini bukan buku “how to”. Haha.. 😆

2# Buku ini wajib punya. Karena ngasih informasi yang kuat sekali tentang design. Akan tetapi, akan cilaka kalau beli yang kindle version, lumayan berantakan. Etapi gampang sih, update latest kindle Apps then redownload. Ini biasanya dah OK.

Again, Tn. Beirut ini menurut saya midas di environment design. Apapun yang disentuhnya akan membahana kemana-mana. Salute. Do respect for him. 🙏

Regards,

Abdi J Putra — ABIE

— Bukan designer, tapi Marketer!

— Your friendly neighborhood

Advertisements

Books Are By Grant Snider

Saya percaya kalimatnya Pramoedya Ananta Toer, dan yah sering juga saya tuliskan, terkait apa yang harus dilakukan MANUSIA di muka BOEMI ini. Pertama ‘iqra’ atau ‘membaca’ dan yang kedua adalah ‘hijrah’ atau ‘muv-on’. So simple tapi megang bangets.

Saya juga percaya sama Margarett Fuller yang bilang “if you are going to be a leader, you have got to be a reader”. Atau singkatnya dia bilang “TODAY A READER, TOMORROW A LEADER.” Yaps, gitu sih katanya, gaes.

Well, last gaes.. saya juga setuju sama kalimat jenaka teman saya yang bilang “jangan banyak membaca, soalnya nanti bakal banyak yang lupa”.

Dan saya setuju juga sama kalimat satire beberapa orang yang bilang “too many books will kill you”. Haha ini true bangets, makin banyak yang dibaca malah makin confused. Terkadang mending ndak tau apa-apa. Ndak pusing. Ndak buat ego tumbuh subur.

Oiyah guys, related to the sketch by Grant Snider. Satu yang lupa Tn. Snider gambar disitu adalah: “Buku adalah ganjelan pintu.” Yaps, untuk ngganjel pintu menggantikan bata merah yang dilapisi kertas kado. ✌️😆

Tabik.. 🙏

Values Vs Hours of Efforts

_____ Ini bicara tentang values, guys!

Menjadi seorang artist dari kacamatanya Tn. Seth Godin adalah memiliki value yang remarkable. Yang membahana dan dirasakan oleh sekeliling kita. If you have remarkable values then you are an artist. Simple aja.

Dan untuk menjadi artist ada 2 saja variabel yang bisa dituliskan, guys.

1# Quality of (insert your values here)

2# Hours of Effort

Sederhananya gini. Karena “values” itu ndak dijual di indomaret akan selalu butuh usaha. Yes, quality untuk value apapun selalu butuh “effort” dan ini investasinya mahal. Waktu. Butuh waktu yang ndak singkat untuk ngebangun values.

_____ Bentuk value itu apa dan bagaimana?

Well, bisa jadi bentuk value itu ngomong keminggris lancar kayak bulek, pronounce-nya ndak buang sedikitpun. Ada juga bentuknya kemampuan bicara dengan diafragma yang magis menghipnotis. Ada juga yang punya value mampu menginfluence orang dengan ide dan gagasannya. Ini diperlukan untuk team sales & marketing.

Mungkin juga bentuk value itu selalu punya framework cemerlang dan proven untuk diterapkan dimana-mana. Ini value bangets gaes. Bisa menulis puisi bak Khairil Anwar itu juga value.

Main piano layaknya virtuoso yang jarinya kemana-mana tanpa bayangan gitu itu juga salah satu dari value. Menari seperti Tn. Jagger itu juga bisa dibilang values. Apapun itu you name it lah guys, yang menonjol dari dirimu dan diatas rata-raya orang lain itu values, guys. ☺️

_____ Stand out from the crowd

Yes, dia variabel di atas itu buat yang lain berada di level average. You guys, dengan value yang dikenali itu akan jadi ‘stand out from the crowd’. Dan ini ndak mudah. Ndak akan pernah mudah. Perlu proses pastinya. Kalimat pamungkasnya: proses ndak akan pernah mengkhianati hasil. Sudah pasti.

Well last, pertanyaanya adalah apakah kita mengenali value kita masing-masing? Apakah bermanfaat untuk sekitar kita atau lingkungan kita hidup dan bekerja?

Untuk kamu yang ndak kenal value-nya apa, oh please dikenali dulu. Take your time-lah, because EVERYONE IS AN ARTIST, and for sure, this earth is (still) round, ndak usah galau.. ✌️😆

Tabik.

#Linchpin #SethGodin #Indispinsible

#AboutValues #Artist #Books

Small Note:

— In recent years, the marketing guru Seth Godin has used the terms “artist” and “art”. He speaks of a business as “an art” and the leaders as “an artist”. 😍

Asking Questions – Grant Snider

ASKING QUESTION – GRANT SNIDER

Saya selalu suka bagaimana “Grant Snider” memvisualisasikan ide. Ndak hanya provokatif tapi juga menginspirasi. Yes, berulang kali saya bilang “The Shape of Ideas” salah satu buku favorit saya.

Hehe, entah kenapa, suka ulang-ulang bacanya. Seperti kepanggil kreativitas saya kalau baca bukunya tuan Snider ini guys. Idenya beneran ke-shaping. Halah. ✌️😁

Oiyah, this time, sang artis men-sketch tentang “asking questions”. Penjabarannya jelas dan menjawab pertanyaan itu sendiri.

Bagian yang paling saya suka:

“Bahkan meskipun kau faham pertanyaan yang diajukan, jawabannya bisa jadi mengejutkanmu.” Haha, ini seringnya bener bangets.

And gaes..

Menurut saya contentnya renyah, cerdas, sekaligus jenaka. Cekidot.. 😆

.

Menggambar Vs Memvisualisasi

Gaes..

Kemarin waktu training Digital-X (yes, think like founders) di block71 kuningan, saat itu sang coach ngajak kita semua untuk memvisualkan ide yang sudah kita jabarkan.

Seperti orang kebanyakan, saya langsung exclaimed..

“AKAN TETAPI SAYA TIDAK BISA MENGGAMBAR”

Haha, saya lupa ketika bicara “design thinking” adalah “visualisasi”. Artinya sederhana banget. Jangan pernah khawatir gambarnya cantik atau jelek yang penting message-nya dikuatkan secara visual. Nyang penting niatnya ada (black pen).

Yes, again. Nyang penting adalah stepping di visualisasi ide-idenya. Selama kita atau team faham itu menggambarkan ide besarnya sudah sangat cukup untuk berangkat ke canvas selanjutnya: VALUE PROPOSITION.

Btw, gambarnya diambil tanpa izin dari buku “DesignThinkingPlaybook” yang saya share kemarin. Dan yes, ada yang japri bilang “DTP adalah buku terbagus yang dia baca”, ngajarin ideation ke kita.

Well, SAYA TENTUNYA SETUJU. Yang saya tuliskan dan kritisi kemarin bukan contentnya lho, tapi cara bertuturnya Tn. Lewrick yang datar dan berkesan panjang lebar, ndak menginspirasi saya.

MDan bisa jadi saya salah. Harusnya menurut saya content yang bagus harus dideliver dengan bagus juga. Imho yaahh.. ✌️😁

Demikian.

Selamat pagi Indonesia.. ^_^

#DesignThinkingPlaybook

#Books #ValueProposition #DigitalX

.

Review Buku: The Design Thinking Playbook

Oh gaes..

Buku “The Design Thinking Playbook” ini baru banget. Baru 3 Mei 2018 kemarin dipublish “Wiley”. Saya beli. Biasalah, beli versi Amazon kindle banyak diskon. 😉

Yang membuat saya membeli buku ini karena Michael Lewrick pengarang bukunya ini seperti meresume beberapa buku terkait “design thinking” dan membuatnya menjadi langkah-langkah mudah yang di breakdown jadi terap-able. Gampang dilakukan. Di preambule juga sudah dijelaskan.

Akan tetapi..

Ini mungkin perasaan saya aja kali.. 😅

IMHO bangets, menurut saya cara bertutur Tn. Lewrick terlalu datar. Kalimat yang dipilih juga segendang penarian. Rata air ndak menginspirasi sedikitpun. Kurang menggerakkan. Halah.

Secara tujuan untuk “memvisualkan” design thinking itu apa dapet banget. Soalnya buku ini didukung banyak gambar. Coloring notes untuk takeaways juga buat kita membacanya ndak bosen.

Akan tetapi graphic & visual bagus dibuku ini ndak menolong. Karena, cmiiw, penjelasan Tn. Lewrick ini terlalu panjang lebar dan yeah somehow campur aduk gitu. Ndak runut. Menurut saya buku playbook itu seharusnya menggunakan bahasa yang ringan, kalau bisa jenaka, dan fun. Namanya juga playbook kan yah. ✌️😁

Btw, saya baru sampai di chapter 2.6, how to prepare the organization for a new mindset, masih belum khatam bacanya. Dan ekspektasi saya agak berlebihan dengan chapter ini, ndak jumpa dengan apa yang saya harapkan. Malah saya mikirnya rada ndak nyambung dengan judul besar.

Kebayang bicara “mempersiapkan organisasi dengan mindset baru” harusnya bisa diexplore pakai contoh real. Misalnya kalau Google terlalu mainstream untuk dijadikan contoh, Tn. Lewrick bisa cerita tentang Wegmans atau Brandix. Yah yang real lah sebagai contoh. Bukan hanya nyebut “some organizations” atau “many companies” yang terlalu general. Ndak menggugah. 🙏😂

Oiya, fyi, buku ini hanya ada 3 chapter utama saja, guys. See these:

1# Understand Design Thinking

2# Transform Organization

3# Design The Future

Yes, kalau yang nge-fave sama buku “Value Proposition Design” oleh Osterwalder. Atau “100 things designer needs to know about people” punya Susan Weinschenk yang penuh dengan visual ndak usah terlalu banyak berharap sama buku Tn. Lewrick ini yah gaes. Beda.

Soalnya walau visual nya sama kuatnya, dan juga coloringnya juga sama bagusnya, tapi ndak menginspirasi seperti dua buku dengan visual bagus yang saya sebutkan di atas. Ndak clear karena terlalu panjang dan berbelit. Yah, begitulah.

Sure, there are good things in this book. Untuk kamu yang baru baca buku design thinking (ideation) ini bagus untuk starting point. Penguatan “how to design a program” bagus diceritakan disini. Lagian kurang menarik untuk diceritakan bukan berarti buku ini ndak bermanfaat. Hehe.. 😊🙏

Itu aja gaes. Kalau untuk saya nilai buku ini 3 dari 5 bintang. Lumayan untuk bikin cantik GoodReads list saya wkwkw.. 😆

.

Hubungan Antara Fokus, Usaha, dan Performansi

HUBUNGAN ANTARA FOKUS, USAHA, DAN PERFORMANSI

Kalau ngelihat kategori analisa regresi (sebab-akibat) digambar atas, to be honest, saya akui bahwa saya sering masuk dalam kelompok “berbuat lebih banyak, kemudian stress“. Haha apes memang. Fokusnya ndak dapet, effortnya tinggi, dan performance nya kategori biasa-biasa aja. 😅

Dan yang buat wowing lagi, terkadang ini dilakukan biar “kelihatan kerja”. Kerja terus sebanyak-banyaknya, padahal malah ketika “do more then stress” ndak satupun yang mampu diselesaikan dengan baik. Ndak tuntas malah.

Yeah rite, saya faham katanya kerja itu cari duit, bukan cari muka. Ini kalimat sarkas tapi kadang saya fikir bener bangets. Ini harus saya sebutkan selalu dalem hati.. 😂

Positifnya sih kalau mampu mengerjakan semuanya ya bagus. Akan tetapi kalau ndak mampu mending balik kanan ngerjakan tasks BAU dan meningkatkan value dikualitasnya, gaes. Dikasih 4 kerjaan, jangan mikir ngerjakan 6 tasks atau 8 tasks kalau yang 4 aja kategori STD. Mau maksa ngerjain yang lain? Yakinlah, ini malah akan mengecewakan banyak pihak.

Lagian guys, we have the same 24 hours, rite? Sama-sama punya 24 jam yang sama kan yah. Kecuali jatah jam-nya ada yang sehari 28 jam, nah ini bisa jadi do some extra works for the rest (4 hours).

Hehe, sederhana aja kok. Kerjakan tasks BAU, fokus, fight for it, create much values there, baru nge-jump ke extra tasks.

Agak beda memang jadinya. Katanya: “Instead of asking how many tasks you can tackle given your working hours, ask how many you can ditch given what you must do to excel”. Haha, efektif dan fokus.

Back to the pictures. As you can see, kategori yang paling baik adalah “DO LESS, THEN OBSESS”. Yah, contoh Tn. Jiro Ono yang saya share kemarin misalnya. Oiyah, saya juga ndak dikelompok yang terbaik itu guys, masih mau mencoba kesana lah ini. Kalau mampu kwkwkw..

Hepi wiken eperiwan..

*fokus, effort, dan performance.. ✌️😁

.