Hungan Antara Fokus, Usaha, dan Performansi

HUBUNGAN ANTARA FOKUS, USAHA, DAN PERFORMANSI

Kalau ngelihat kategori analisa regresi (sebab-akibat) digambar atas, to be honest, saya akui bahwa saya sering masuk dalam kelompok “berbuat lebih banyak, kemudian stress“. Haha apes memang. Fokusnya ndak dapet, effortnya tinggi, dan performance nya kategori biasa-biasa aja. 😅

Dan yang buat wowing lagi, terkadang ini dilakukan biar “kelihatan kerja”. Kerja terus sebanyak-banyaknya, padahal malah ketika “do more then stress” ndak satupun yang mampu diselesaikan dengan baik. Ndak tuntas malah.

Yeah rite, saya faham katanya kerja itu cari duit, bukan cari muka. Ini kalimat sarkas tapi kadang saya fikir bener bangets. Ini harus saya sebutkan selalu dalem hati.. 😂

Positifnya sih kalau mampu mengerjakan semuanya ya bagus. Akan tetapi kalau ndak mampu mending balik kanan ngerjakan tasks BAU dan meningkatkan value dikualitasnya, gaes. Dikasih 4 kerjaan, jangan mikir ngerjakan 6 tasks atau 8 tasks kalau yang 4 aja kategori STD. Mau maksa ngerjain yang lain? Yakinlah, ini malah akan mengecewakan banyak pihak.

Lagian guys, we have the same 24 hours, rite? Sama-sama punya 24 jam yang sama kan yah. Kecuali jatah jam-nya ada yang sehari 28 jam, nah ini bisa jadi do some extra works for the rest (4 hours).

Hehe, sederhana aja kok. Kerjakan tasks BAU, fokus, fight for it, create much values there, baru nge-jump ke extra tasks.

Agak beda memang jadinya. Katanya: “Instead of asking how many tasks you can tackle given your working hours, ask how many you can ditch given what you must do to excel”. Haha, efektif dan fokus.

Back to the pictures. As you can see, kategori yang paling baik adalah “DO LESS, THEN OBSESS”. Yah, contoh Tn. Jiro Ono yang saya share kemarin misalnya. Oiyah, saya juga ndak dikelompok yang terbaik itu guys, masih mau mencoba kesana lah ini. Kalau mampu kwkwkw..

Hepi wiken eperiwan..

*fokus, effort, dan performance.. ✌️😁

.

Advertisements

Great At Work – Morten T. Hansen

Nyang buat terngiang dikepala Tn. Hansen adalah apa yang disebutnya Natalie’s Question. Pertanyaan tentang Natalie, kolehanya di Boston Consulting Group.

Seperti yang ditutur, saat itu Tn. Hansen dan Natalie sama-sama anak baru di BCG. Mereka berdua sama-sama cerdas. Sama-sama bagus performansinya. Menonjol diantara para cerdas cendekia yang bekerja disana. Menjadi TOP PERFORMERS diperusahaan tersebut.

Sebenernya yang jadi pertanyaan Tn. Hansen dulu (dan baru kejawab hari ini) adalah “spending time” dalam bekerja. Tn. Hansen heran kenapa Ms. Natalies di recognize “superb” juga. Sama seperti beliau. Okelah Natalie pinter dan cekaran, tapi to be honest tuan Hansen menganggapnya pelit waktu.

Natalie itu ndak begitu terlalu kerja keras. See, Nat’s kerja hanya jam 08.00 to 18.00 (60 jam) maksimal ndak lebih. Sementara Tn. Hansen ndak jarang stay dikantor. Bisa ngabiskan 90 jam seminggu.

Artinya rata-rata 15 jam sehari untuk bekerja selama 6 hari. Beneran kerja keras gaes.

Dan pada akhirnya tuan Hansen sadar kuncinya bukan dibanyak jam-nya tapi dikualitas dan produktifitas. Bagaimana bekerja seefektif mungkin dan menaikkan produktivitas yang harusnya dituju.

Berangkat dari itu semua kenapa Tn. Morten Hansen melakukan beberapa riset dan menuangkannya dalam buku “GREAT WORK, how top performers work less and achieve more”. Beliau mengajak kita pembaca yang bekerja untuk memahami esensi bekerja itu dimana.

Kalimat berikut di bawah saya kasih notes dikindle. Sengaja. Selain suka kalimatnya juga menurut saya bisa menjadi takeaways untuk difahami. See here:

Top performers did less and more: less volume of activities, more concentrated effort.

Aha, katanya top performers melakukan “sedikit” dan “banyak”. Sedikit maksudnya dalam melakukan aktifitas, dan banyak berkonsentrasi ke usahanya. Cakep! And we know already, yes, hari ini yang dibutuhkan adalah kerja cerdas. Persis seperti yang Natalie lakukan.

Well, tuan Hansen juga menjelaskan para pemimpin perusahaan yang punya persepsi keliru: the longer you held meeting the more you will be appreciated. Saban hari meeting malah ngganggu di eksekusinya. Kebanyakan diskusi eksekusinya kapan?

Well, saya juga sama..

Kadang ndak efektif dan ndak smart dalam bekerja. Tulisan ini sebenernya #selfreflect dan #selfremind supaya ndak terjerambab jadi leader yang salah perceived “kerja lama biar dibilang bagus”. Ini leader kampret namanya.

Next, saya sharing (singkat aja) terkait 7 hal yang diresearch oleh tuan Hansen. Nyang diconduct ke 5000 orang dengan berbagai disiplin pekerjaan dan jabatan. Etapi ndak usah ditunggu, soalnya ini sharing sesempatnya aja hehe. Ciao.

Corporate Culture: Google!

Oh gaes..

Kalau sengaja googling “Culture of Google” atau “Google Office” yang ditampilkan dipekiwan adalah bagaimana senengnya karyawan google sepedaan, lagi coding di “bean bags”, dipojokkan ada “lava lamp”, dan ruangan dominasi warna warni.

Yang disayangkan tuan Laszlo Bock, EVP Human Operations Google, adalah asumsi kalau itulah budaya perusahaan mereka. Padahal bukan itu intinya. Sayangnya. Banyak perusahaan kekinian yang meniru dan berhenti di bean bags, lava lamp, dan warna warni ruangan kantornya saja.

Those things are not the point,

Not even close! 😆

Adalah Stacy Sullivan, Chief of Culture Officer Google, bersama Laszlo Bock yang memdefinisikan aspek dari google corporate culture. Mereka mendapat masukkan dari banyak sumber seperti: brandix, costco, wegman, edward jones, and inspiring company lainnya.

Ada 3 aspek budaya di Google. Yeah, ketiga perspektif yang membahana menurut saya.

1# Find a compelling mission

2# Being transparent

3# Giving our people voice

Bagian yang paling menarik supaya bisa pragmatis (praktis & bermanfaat) untuk ketiga hal tersebut adalah “Do unto others as you would have them do unto you”. Yah, kalimat yang common yang sering kita dengar lho ini: “Perlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan.” Hasek.

Gitu aja kayaknya, gaes!

Tabik.. 😉

#googleculture #corporateculture

#workrules #laszlobock #stacysullivan

.

10 SIMPLE RULES – By Laszlo Bock

Kemarin diminta HCM sharing ke para agent of change Area Sumatera. Para agent ini sengaja dibentuk untuk menghembuskan “corporate culture” dilingkungan mereka. Program bagus menurut saya. Menularkan value-value positif.

Karena ini ngomongin tentang culture dipekerjaan, saya fikir buku “Work Rules” yang ditulis former Executive Vice President People Operations Google, Laszlo Bock, akan bagus untuk difahami bersama.

To make long story short, ada 10 aturan yang disimpulkan tuan Laszlo yang katanya penting untuk diterapkan diperusahaan atau organisasi hari ini. Dus, aturan-aturan ini dipercaya akan mengubah bagaimana kita menjalani hidup dan bagaimana kita memimpin dipekerjaan. Berikut guys:

#1. Give your work meaning

#2. Trust your people

#3. Hire people who are better than you

#4. Don’t confuse people development with managing performance

#5. Focus on the worst and the best (the two tails)

#6. Be frugal and generous

#7. Pay “unfairly”

#8. Nudge

#9. Manage the rising expectations

#10. Enjoy! Then go back to No.1 and start again

See #10 guys. YES. Apapun yang dilakukan, kita jangan lupa untuk menikmatinya. Jangan lupa kata FUN supaya tetap bisa ENJOY kan yah.. ^_^

Well, banyak hal yang menarik seputaran Corporate Culture Google yang saya coba share sesuai penuturan tuan Laszlo. Banyak yang angguk-angguk gitu kemarin gaes. Ndak faham mereka itu pada setuju atau pada ngantok. Kayaknya sih pada ngantok yah kwwkwk.. ✌️😂

Oiyah, kalau googling “Google Culture” akan kelihatan bean bags, lava lamp, atau free snacks untuk para Googlers. Dan kelihatan “seolah-olah” budaya perusahaan mereka yah itu. Eng, sebenernya bukan itu sih inti dari culture Google. Lebih dalem lagi, lebih nyentuh ke employeenya.

Next aja kali yah, saya akan share apa yang didefinisikan oleh Laszlo Bock terkait aspek apa aja yang mendefinisikan “Google Culture” sehingga sampai hari ini masih “megang” banget.

Tabik,

ABIE || @abepoetra

.

Be Brave & Start Over Again

Sketch ini mengingatkan saya sama satu hal yang harusnya dilakukan semua orang: BE BRAVE ENOUGH TO MAKE MISTAKES. Atau menjadi berani untuk berbuat salah. Saya sendiri sebenernya sama. Bencong. Banyak ndak beraninya untuk sesuatu yang baru.

And gaes. Berani sebenernya bukan menghilangkan rasa takut itu sendiri, akan tetapi malah harus merasakannya sampai ke sumsum dan membuat gemetar. Memikirkannya kedalam sanubari sehingga takut sungguh takut. Cemas sungguh cemas. Khawatir pastinya khawatir.

Setelah phase menikmati ketakutan dilewati, kata tuan Mark Manson (The Subtle Art Not Giving a F*ck), bisanya kita malah bisa firm mengukur konsekuensi yang dihadapi. Dan biasanya ternyata tidak seseram yang dibayangkan. Solusinya hanya sesimple memeluknya dan mengakui kalau kita takut.

Ah tapi, eventhough everything goes wrong, sebenernya hanya satu hal saja yang harus dilakukan. Seperti sketch tuan Snider itu:

“JUST TAKE OUT A BLANK PAGE AND START OVER AGAIN.”

Demikian kayaknya guys. Semoga kita menjadi pribadi-pribadi yang berani berbuat walah kadang salah. Daripada ndak berfaedah menunggu then do nothing, better do something.

Selamat hari senin semuanya. 🙏

#selfreminding #reflect

.

Presentation Zen – Garr Raynolds

Kalimatnya kayak gini..

“No matter how impressive technology becomes in the future, no matter how many features and effects are added, the technology of the soul has not changed.”

Yaps, ndak peduli juga seberapa mengesankannya teknologi presentasi kedepannya. Ndak peduli juga sudah berapa banyak fitur dan efek yang ditambahkan, akan tetapi TEKHNOLOGI JIWA ndak akan pernah berubah guys. Ho-oh, ini bicara UX sebenernya. Yes, what people feel. 😍

Tambahannya lagi, teknologi untuk ngasih presentasi seperti PowerPoint dan Keynote — dan Apps baru seperti Prezi — itu hanya berguna pada tingkat di mana tools itu membuat hal-hal menjadi lebih jelas dan lebih mudah diingat saja.

Intinya apa untuk what so called “teknologi jiwa” yah guys..

Yah maksudnya seberapa bagus teknologinya itu tetap berhenti sebagai “tools” saja. Yang hakiki adalah komunikasi itu sendiri dalam tataran kebutuhan manusia satu ke manusia lainnya. Hablum minannas gitulah. Mantabs Djiwa.. 😆

Btw guys, PRESENTATION ZEN ini salah satu buku favorit saya. Worthed to read-lah. Tuan Garr Raynolds tidak hanya bercerita tentang fungsi saja, tapi dia juga menekankan tentang keindahan, keseimbangan, yang dibaur dalam kesederhanaan.

Remember about “Really Bad Presentation”, yang ditulis tuan Seth Godin 15 tahun yang lalu, guys? Well, hari ini 2018 masih banyak juga orang-orang melakukan kesalahan yang sama. Ndak berubah banyak. Termasuk saya juga lho.. 😅

.

PreOrder The Infinite Game – Simon Sinek

Guys,

Dua hari yang lalu Simon Sinek diakun Instagrammnya @simonsinek meng-announce cover untuk buku barunya yang berjudul: THE INFINITE GAME. Dipersilahkan siapa yang mau belu, tapi preorder untuk buku ini.

Well, malem ini, sembari nunggu dokter saya purchased bukunya. Ini pasti buku bagus, seperti buku tuan Sinek lainnya.

Nah yang ndak diperhatikan tetnyata preordernya sampai tgl 16 Oktober 2018 nanti baru available guys. Biasanya preorder paling lama 3 bulan ini setengah taon. Haha..

Ntar oktober kalau udah auto-delivered akan saya coba review yah. Kayaknya seruw ini. 🙏😁

.