Values Vs Hours of Efforts

_____ Ini bicara tentang values, guys!

Menjadi seorang artist dari kacamatanya Tn. Seth Godin adalah memiliki value yang remarkable. Yang membahana dan dirasakan oleh sekeliling kita. If you have remarkable values then you are an artist. Simple aja.

Dan untuk menjadi artist ada 2 saja variabel yang bisa dituliskan, guys.

1# Quality of (insert your values here)

2# Hours of Effort

Sederhananya gini. Karena “values” itu ndak dijual di indomaret akan selalu butuh usaha. Yes, quality untuk value apapun selalu butuh “effort” dan ini investasinya mahal. Waktu. Butuh waktu yang ndak singkat untuk ngebangun values.

_____ Bentuk value itu apa dan bagaimana?

Well, bisa jadi bentuk value itu ngomong keminggris lancar kayak bulek, pronounce-nya ndak buang sedikitpun. Ada juga bentuknya kemampuan bicara dengan diafragma yang magis menghipnotis. Ada juga yang punya value mampu menginfluence orang dengan ide dan gagasannya. Ini diperlukan untuk team sales & marketing.

Mungkin juga bentuk value itu selalu punya framework cemerlang dan proven untuk diterapkan dimana-mana. Ini value bangets gaes. Bisa menulis puisi bak Khairil Anwar itu juga value.

Main piano layaknya virtuoso yang jarinya kemana-mana tanpa bayangan gitu itu juga salah satu dari value. Menari seperti Tn. Jagger itu juga bisa dibilang values. Apapun itu you name it lah guys, yang menonjol dari dirimu dan diatas rata-raya orang lain itu values, guys. ☺️

_____ Stand out from the crowd

Yes, dia variabel di atas itu buat yang lain berada di level average. You guys, dengan value yang dikenali itu akan jadi ‘stand out from the crowd’. Dan ini ndak mudah. Ndak akan pernah mudah. Perlu proses pastinya. Kalimat pamungkasnya: proses ndak akan pernah mengkhianati hasil. Sudah pasti.

Well last, pertanyaanya adalah apakah kita mengenali value kita masing-masing? Apakah bermanfaat untuk sekitar kita atau lingkungan kita hidup dan bekerja?

Untuk kamu yang ndak kenal value-nya apa, oh please dikenali dulu. Take your time-lah, because EVERYONE IS AN ARTIST, and for sure, this earth is (still) round, ndak usah galau.. ✌️😆

Tabik.

#Linchpin #SethGodin #Indispinsible

#AboutValues #Artist #Books

Small Note:

— In recent years, the marketing guru Seth Godin has used the terms “artist” and “art”. He speaks of a business as “an art” and the leaders as “an artist”. 😍

Advertisements

Asking Questions – Grant Snider

ASKING QUESTION – GRANT SNIDER

Saya selalu suka bagaimana “Grant Snider” memvisualisasikan ide. Ndak hanya provokatif tapi juga menginspirasi. Yes, berulang kali saya bilang “The Shape of Ideas” salah satu buku favorit saya.

Hehe, entah kenapa, suka ulang-ulang bacanya. Seperti kepanggil kreativitas saya kalau baca bukunya tuan Snider ini guys. Idenya beneran ke-shaping. Halah. ✌️😁

Oiyah, this time, sang artis men-sketch tentang “asking questions”. Penjabarannya jelas dan menjawab pertanyaan itu sendiri.

Bagian yang paling saya suka:

“Bahkan meskipun kau faham pertanyaan yang diajukan, jawabannya bisa jadi mengejutkanmu.” Haha, ini seringnya bener bangets.

And gaes..

Menurut saya contentnya renyah, cerdas, sekaligus jenaka. Cekidot.. 😆

.

Menggambar Vs Memvisualisasi

Gaes..

Kemarin waktu training Digital-X (yes, think like founders) di block71 kuningan, saat itu sang coach ngajak kita semua untuk memvisualkan ide yang sudah kita jabarkan.

Seperti orang kebanyakan, saya langsung exclaimed..

“AKAN TETAPI SAYA TIDAK BISA MENGGAMBAR”

Haha, saya lupa ketika bicara “design thinking” adalah “visualisasi”. Artinya sederhana banget. Jangan pernah khawatir gambarnya cantik atau jelek yang penting message-nya dikuatkan secara visual. Nyang penting niatnya ada (black pen).

Yes, again. Nyang penting adalah stepping di visualisasi ide-idenya. Selama kita atau team faham itu menggambarkan ide besarnya sudah sangat cukup untuk berangkat ke canvas selanjutnya: VALUE PROPOSITION.

Btw, gambarnya diambil tanpa izin dari buku “DesignThinkingPlaybook” yang saya share kemarin. Dan yes, ada yang japri bilang “DTP adalah buku terbagus yang dia baca”, ngajarin ideation ke kita.

Well, SAYA TENTUNYA SETUJU. Yang saya tuliskan dan kritisi kemarin bukan contentnya lho, tapi cara bertuturnya Tn. Lewrick yang datar dan berkesan panjang lebar, ndak menginspirasi saya.

MDan bisa jadi saya salah. Harusnya menurut saya content yang bagus harus dideliver dengan bagus juga. Imho yaahh.. ✌️😁

Demikian.

Selamat pagi Indonesia.. ^_^

#DesignThinkingPlaybook

#Books #ValueProposition #DigitalX

.

Review Buku: The Design Thinking Playbook

Oh gaes..

Buku “The Design Thinking Playbook” ini baru banget. Baru 3 Mei 2018 kemarin dipublish “Wiley”. Saya beli. Biasalah, beli versi Amazon kindle banyak diskon. 😉

Yang membuat saya membeli buku ini karena Michael Lewrick pengarang bukunya ini seperti meresume beberapa buku terkait “design thinking” dan membuatnya menjadi langkah-langkah mudah yang di breakdown jadi terap-able. Gampang dilakukan. Di preambule juga sudah dijelaskan.

Akan tetapi..

Ini mungkin perasaan saya aja kali.. 😅

IMHO bangets, menurut saya cara bertutur Tn. Lewrick terlalu datar. Kalimat yang dipilih juga segendang penarian. Rata air ndak menginspirasi sedikitpun. Kurang menggerakkan. Halah.

Secara tujuan untuk “memvisualkan” design thinking itu apa dapet banget. Soalnya buku ini didukung banyak gambar. Coloring notes untuk takeaways juga buat kita membacanya ndak bosen.

Akan tetapi graphic & visual bagus dibuku ini ndak menolong. Karena, cmiiw, penjelasan Tn. Lewrick ini terlalu panjang lebar dan yeah somehow campur aduk gitu. Ndak runut. Menurut saya buku playbook itu seharusnya menggunakan bahasa yang ringan, kalau bisa jenaka, dan fun. Namanya juga playbook kan yah. ✌️😁

Btw, saya baru sampai di chapter 2.6, how to prepare the organization for a new mindset, masih belum khatam bacanya. Dan ekspektasi saya agak berlebihan dengan chapter ini, ndak jumpa dengan apa yang saya harapkan. Malah saya mikirnya rada ndak nyambung dengan judul besar.

Kebayang bicara “mempersiapkan organisasi dengan mindset baru” harusnya bisa diexplore pakai contoh real. Misalnya kalau Google terlalu mainstream untuk dijadikan contoh, Tn. Lewrick bisa cerita tentang Wegmans atau Brandix. Yah yang real lah sebagai contoh. Bukan hanya nyebut “some organizations” atau “many companies” yang terlalu general. Ndak menggugah. 🙏😂

Oiya, fyi, buku ini hanya ada 3 chapter utama saja, guys. See these:

1# Understand Design Thinking

2# Transform Organization

3# Design The Future

Yes, kalau yang nge-fave sama buku “Value Proposition Design” oleh Osterwalder. Atau “100 things designer needs to know about people” punya Susan Weinschenk yang penuh dengan visual ndak usah terlalu banyak berharap sama buku Tn. Lewrick ini yah gaes. Beda.

Soalnya walau visual nya sama kuatnya, dan juga coloringnya juga sama bagusnya, tapi ndak menginspirasi seperti dua buku dengan visual bagus yang saya sebutkan di atas. Ndak clear karena terlalu panjang dan berbelit. Yah, begitulah.

Sure, there are good things in this book. Untuk kamu yang baru baca buku design thinking (ideation) ini bagus untuk starting point. Penguatan “how to design a program” bagus diceritakan disini. Lagian kurang menarik untuk diceritakan bukan berarti buku ini ndak bermanfaat. Hehe.. 😊🙏

Itu aja gaes. Kalau untuk saya nilai buku ini 3 dari 5 bintang. Lumayan untuk bikin cantik GoodReads list saya wkwkw.. 😆

.

Hubungan Antara Fokus, Usaha, dan Performansi

HUBUNGAN ANTARA FOKUS, USAHA, DAN PERFORMANSI

Kalau ngelihat kategori analisa regresi (sebab-akibat) digambar atas, to be honest, saya akui bahwa saya sering masuk dalam kelompok “berbuat lebih banyak, kemudian stress“. Haha apes memang. Fokusnya ndak dapet, effortnya tinggi, dan performance nya kategori biasa-biasa aja. 😅

Dan yang buat wowing lagi, terkadang ini dilakukan biar “kelihatan kerja”. Kerja terus sebanyak-banyaknya, padahal malah ketika “do more then stress” ndak satupun yang mampu diselesaikan dengan baik. Ndak tuntas malah.

Yeah rite, saya faham katanya kerja itu cari duit, bukan cari muka. Ini kalimat sarkas tapi kadang saya fikir bener bangets. Ini harus saya sebutkan selalu dalem hati.. 😂

Positifnya sih kalau mampu mengerjakan semuanya ya bagus. Akan tetapi kalau ndak mampu mending balik kanan ngerjakan tasks BAU dan meningkatkan value dikualitasnya, gaes. Dikasih 4 kerjaan, jangan mikir ngerjakan 6 tasks atau 8 tasks kalau yang 4 aja kategori STD. Mau maksa ngerjain yang lain? Yakinlah, ini malah akan mengecewakan banyak pihak.

Lagian guys, we have the same 24 hours, rite? Sama-sama punya 24 jam yang sama kan yah. Kecuali jatah jam-nya ada yang sehari 28 jam, nah ini bisa jadi do some extra works for the rest (4 hours).

Hehe, sederhana aja kok. Kerjakan tasks BAU, fokus, fight for it, create much values there, baru nge-jump ke extra tasks.

Agak beda memang jadinya. Katanya: “Instead of asking how many tasks you can tackle given your working hours, ask how many you can ditch given what you must do to excel”. Haha, efektif dan fokus.

Back to the pictures. As you can see, kategori yang paling baik adalah “DO LESS, THEN OBSESS”. Yah, contoh Tn. Jiro Ono yang saya share kemarin misalnya. Oiyah, saya juga ndak dikelompok yang terbaik itu guys, masih mau mencoba kesana lah ini. Kalau mampu kwkwkw..

Hepi wiken eperiwan..

*fokus, effort, dan performance.. ✌️😁

.

Great At Work – Morten T. Hansen

Nyang buat terngiang dikepala Tn. Hansen adalah apa yang disebutnya Natalie’s Question. Pertanyaan tentang Natalie, kolehanya di Boston Consulting Group.

Seperti yang ditutur, saat itu Tn. Hansen dan Natalie sama-sama anak baru di BCG. Mereka berdua sama-sama cerdas. Sama-sama bagus performansinya. Menonjol diantara para cerdas cendekia yang bekerja disana. Menjadi TOP PERFORMERS diperusahaan tersebut.

Sebenernya yang jadi pertanyaan Tn. Hansen dulu (dan baru kejawab hari ini) adalah “spending time” dalam bekerja. Tn. Hansen heran kenapa Ms. Natalies di recognize “superb” juga. Sama seperti beliau. Okelah Natalie pinter dan cekaran, tapi to be honest tuan Hansen menganggapnya pelit waktu.

Natalie itu ndak begitu terlalu kerja keras. See, Nat’s kerja hanya jam 08.00 to 18.00 (60 jam) maksimal ndak lebih. Sementara Tn. Hansen ndak jarang stay dikantor. Bisa ngabiskan 90 jam seminggu.

Artinya rata-rata 15 jam sehari untuk bekerja selama 6 hari. Beneran kerja keras gaes.

Dan pada akhirnya tuan Hansen sadar kuncinya bukan dibanyak jam-nya tapi dikualitas dan produktifitas. Bagaimana bekerja seefektif mungkin dan menaikkan produktivitas yang harusnya dituju.

Berangkat dari itu semua kenapa Tn. Morten Hansen melakukan beberapa riset dan menuangkannya dalam buku “GREAT WORK, how top performers work less and achieve more”. Beliau mengajak kita pembaca yang bekerja untuk memahami esensi bekerja itu dimana.

Kalimat berikut di bawah saya kasih notes dikindle. Sengaja. Selain suka kalimatnya juga menurut saya bisa menjadi takeaways untuk difahami. See here:

Top performers did less and more: less volume of activities, more concentrated effort.

Aha, katanya top performers melakukan “sedikit” dan “banyak”. Sedikit maksudnya dalam melakukan aktifitas, dan banyak berkonsentrasi ke usahanya. Cakep! And we know already, yes, hari ini yang dibutuhkan adalah kerja cerdas. Persis seperti yang Natalie lakukan.

Well, tuan Hansen juga menjelaskan para pemimpin perusahaan yang punya persepsi keliru: the longer you held meeting the more you will be appreciated. Saban hari meeting malah ngganggu di eksekusinya. Kebanyakan diskusi eksekusinya kapan?

Well, saya juga sama..

Kadang ndak efektif dan ndak smart dalam bekerja. Tulisan ini sebenernya #selfreflect dan #selfremind supaya ndak terjerambab jadi leader yang salah perceived “kerja lama biar dibilang bagus”. Ini leader kampret namanya.

Next, saya sharing (singkat aja) terkait 7 hal yang diresearch oleh tuan Hansen. Nyang diconduct ke 5000 orang dengan berbagai disiplin pekerjaan dan jabatan. Etapi ndak usah ditunggu, soalnya ini sharing sesempatnya aja hehe. Ciao.

Corporate Culture: Google!

Oh gaes..

Kalau sengaja googling “Culture of Google” atau “Google Office” yang ditampilkan dipekiwan adalah bagaimana senengnya karyawan google sepedaan, lagi coding di “bean bags”, dipojokkan ada “lava lamp”, dan ruangan dominasi warna warni.

Yang disayangkan tuan Laszlo Bock, EVP Human Operations Google, adalah asumsi kalau itulah budaya perusahaan mereka. Padahal bukan itu intinya. Sayangnya. Banyak perusahaan kekinian yang meniru dan berhenti di bean bags, lava lamp, dan warna warni ruangan kantornya saja.

Those things are not the point,

Not even close! 😆

Adalah Stacy Sullivan, Chief of Culture Officer Google, bersama Laszlo Bock yang memdefinisikan aspek dari google corporate culture. Mereka mendapat masukkan dari banyak sumber seperti: brandix, costco, wegman, edward jones, and inspiring company lainnya.

Ada 3 aspek budaya di Google. Yeah, ketiga perspektif yang membahana menurut saya.

1# Find a compelling mission

2# Being transparent

3# Giving our people voice

Bagian yang paling menarik supaya bisa pragmatis (praktis & bermanfaat) untuk ketiga hal tersebut adalah “Do unto others as you would have them do unto you”. Yah, kalimat yang common yang sering kita dengar lho ini: “Perlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan.” Hasek.

Gitu aja kayaknya, gaes!

Tabik.. 😉

#googleculture #corporateculture

#workrules #laszlobock #stacysullivan

.