In Fact, The Best Marketing Never Is

IN FACT, THE BEST MARKETING NEVER IS

Oh guys..

Bahkan, marketing terbaik itu tidak akan pernah ada (the best marketing never is). Ini kata Tn. Seth godin. Ya, saya bagaimanapun percaya. Karena logika saya bilang ada benarnya.

Bacot-nya, ugh again, marketing ghalibnya adalah tindakan murah hati untuk membantu orang lain, memberikan solusi dasar yang dibutuhkan. Yah, ini melibatkan penciptaan kisah-kisah yang authentic, kisah-kisah yang beresonansi dan menyebar. Lalu viral.

Dan ketika kisah-kisah itu menyebar, marketing akan memberi makna, hubungan, dan berbagai kemungkinan. Pembelian bukan jadi tujuan tapi impact dari memberikan jawaban kebutuhan.

Memberikan bantuan terhadap permasalahan. Ini adalah marketing yang terbaik: mensolusikan.

Gitu sih katanya..

Ndak pantes memang sih. Bicara marketing faktanya punya beberapa bentuk lain: the lies, scams, and the pressures.

Well, kita faham ini bagus untuk jangka pendek tapi ndak akan seperti bacaan yang tertulis dipojokkan ring tinju, EVERLAST.

Iya, ndak akan long lasting.. ✌️☺️

Deep respect..

Abdi J. Putra — ABIE

*marketers kaleng-kaleng..

*ditulis sepanjang rawabuntu – palmerah 😉

#marketing #everlast #sethgodin

Advertisements

Sharing To The B2B Team

Jumat kemarin, diminta sharing sama bang Ericson Sibagariang, VP Corporate Account Management Telkomsel.

In short, begitu di-introduce bg Eric (the leader), bahwasannya saya akan sharig, keringet saya langsung membanjir. Gugup tiada tara euy. Sak pipis lah, dan tetiba pengen lambaikan tangan ke kamera. Padahal sang VP sengaja buat saya rileks, but still grogi euy.. 😂

Latihan depan cermin beberapa kali sebelumnya, and do some shadow boxing (rehearsal), yang saya fikir bisa mengurangi gugup ternyata ndak terlalu ngefect. Asem memang itu Nancy Duarte. HBR nya Persuasive Presentation padahal sudah berulang saya baca. Ndak ngurangi badan ini “nderedek” juga. Gemetaran guys haha..

Iya saya faham banget, yang gak berhenti buat debar karena saya tahu persis yang dengerin pendekar sales B2B terbaik semua. Dari level Officer, Mgr, dan GM. Saya yg pendekar marketing banyak bacot ini jadi bingung apa pantes saya sharing didepan mereka. ✌️😆

To make long story short, guys. I share what Joey Coleman said about “Never Losing A Customer Again”, as requested. Cara supaya ndak kehilanggan pelanggan secara teori. Soalnya yang paling penting di “KAMU” nya. Iyes, YOU as the salesperson. (Time Magazine, 2006)

Saya juga coba sampaikan kenapa pesannya: LUPAKAN SAJA B2B atau B2C, BISNIS KEDEPANNYA MANUSIA KE MANUSIA. The equation should be the same: H2H (Human to Human). Apapun bisnisnya, siapapun pelanggannya.

…..

Ah, saya juga dapet PR sama sang VP untuk sharing “Bagaimana menjual dengan cara baru”. Ini challenge yang buat kepala berat. Soalnya yes you know, nothing new under the sun but CREATIVITY.

And yes, my fave, ketika bicara kreatifitas kalimat Tn. Godin yang saya pakai: “when was the last time you did something for the first time” to unlock creativities. Salah satu cara supaya kita stay kreatif.

Dan, untuk membuktikan kalimat Tn. Godin we do some tiktok challenge. Iya, iya alay memang.

Ah tapi guys, semua team B2B dari officer sampai VP, adalah orang-orang yang total tudemaks. Lihat aja sendiri betapa all outnya mereka hehe.. 🙏😍

Again, thanks bang @ericson sudah mengundang saya untuk sharing. Maaf kalau ndak menjawab apa-apa yang diminta.

Salam penuh hormat untuk kawan-kawan B2B yang selalu jumawa memberikan solusi korporasi.

Abdi J. Putra — ABIE

*your friendly neighborhood

Sharing With Internal Audit

Kamis kemarin..

Saya diminta teman-teman Internal Audit Telkomsel untuk sharing diacara NOBAR (Nongkrong Bareng) mereka.

Hehe, in short, semoga mereka tidak menyesal ngundang saya untuk berbagi “How to CRAFT Your Ideas”.

……

Saya coba sharing kenapa sih kita wajib “crafting ideas”. Kenapa hari ini spawning ideas itu obsolete. Usang, karena semua orang sudah punya ide kan yah.

Saya coba ngejawab kenapa yang selalu menang adalah orang-orang yang bisa mengemas idenya. Juga, kenapa sih setelah punya ide terus dikemas dan wajib disharing (dibagi) sekuat tenaga.

Kenapa juga TED’s slogan-nya “IDEAS WORTH SPREADING” atau apa yang dimaksud marketing guru, Seth Godin, bilang “IDEAS THAT SPREAD WINS”.

……

Ya, ya, apapunlah, mengemas ide-kita menurut saya penting. It will save your career, seperti yang saya ceritakan contoh beberapa teman baik saya.

Minimalnya guys, seperti yang saya sampaikan di ending, ide-ide brilianmu jangan dibiarkan “hanya kau, laptopmu, dan tuhan” yang tau. Share-lah, sebanyak-banyaknya. Sekuat tenaga.. 🙏😄

Abdi J Putra — ABIE

*Sharing is caring.

*You share, because you do care..!!

McKinsey: Apa Arti Digital Sebenarnya?

Menurut saya, McKinsey itu agak kurang ajar ketika mendefinisikan “digital itu sebenernya apa”. Kebayang ketika para cerdas cendekia disana itu bilang kayak gini (terkait apa itu digital):

______

DIGITAL is less of a thing and more of a way of doing business.

DIGITAL itu tidak terlalu penting, digital itu lebih merupakan cara melakukan bisnis.

______

See guys. Kelihatan kan kenapa saya bilang para ahli nujum itu kurang ajar. Soalnya, imo, terlalu sederhana definisi digital yang mereka sepakati.

Sounds receh gitu. Ndak serumit biasanya mereka untuk meng-koinkan sesuatu. McK lho ini. Definisi mereka biasanya pakai exhibit atau pakai cohort yang suka buat bingung. Dan ini, iya kali ini kok gamblang sekali.. 😆

Btw, guys..

Jujur aja, hari ini banyak yang masih gamang ketika ditanya “digital itu apa”. Digital dalam konteks organisasi perusahaan.

Googling juga ndak nolong, malah ngebuat kita makin confused dengan banyak konteks dengan konten yang ndak menjawab. Yes, kali ini pekiwan (halaman satu-nya) juga ndak ngebantu. Too much information will kill you.

_____ KEKELIRUAN PENGERTIAN

Beberapa kali saya melakukan survey. Yah, survey ala-ala. Saya menanyakan beberapa teman tentang “apa itu digital”. Dan yah sama dengan saya jawabannya “pindah dari proses analog ke digital” atau jawabannya “pindah dari pekerjaan offline ke online”. Beberapa bilang “ini terkait ON-OFF angka 1 dan angka 0 (binary)”. Well, apa masok barang itu?

Ya pemahaman yang teman-teman saya sebutkan itu ndak salah. Akan tetapi ndak menjawab pengertian digital dalam terminologi organisasi (bisnis).

Pengertian “analog to digital” ini lebih ke proses atau istilahnya hari ini “digitization”. Yah hampir benar tapi kurang tepat.

Dan kalau jawabannya “offline to online” ini sebenernya sudah dilakukan 15 tahun apa 20 tahun yang lalu gitu guys. Yeah, ketika rombongan Onno W Purbo, RMS ibrahim, dan lainnya mendaftarkan UI-NETLAB sebagai protokol Indonesia pertama.

Teros kalau bicara “terkait binary” yah that’s what computer dari awal-awal dibuat kan yah? Kata digital dari digitus. Ini lebih jaoh lagi taonnya. Walau itu memang ndak salah tapi ndak menjawab konteksnya.

Not even close. 😂

Kalau ada yg nanya digital itu apa sih sebenernya, pakai jawaban McK berikut:

“DIGITAL ADALAH SALAH SATU CARA DALAM MELAKUKAN BISNIS”

Iyes sesimple itu aja. Ndak usah ditambahi atau dikurangi. Dan yang mau iqra artikel-nya berikut:

https://www.mckinsey.com/industries/high-tech/our-insights/what-digital-really-means

Yang mau versi bahasa dari tautan di atas, silahkan drop emailnya dikomentar. Saya akan email.

Salam penuh cinta.. 🙏😍

CBinsights – Currently Reading

Hellow ChubbyBrain.. ^_^

Ya, ya. Ini udah bulan Mei, tapi baru 5 dari 9 handout-nya CBinsights yang selesai tak baca. Haha failed tu demaks. Harusnya semua handout ini dibulan pertama 2019 sudah selesai dibaca.

Well, got many things to do here..

Halah.. 😅

Oiyah. Dari handout yang sudah saya baca (see gambar), yang mengconsume banyak waktu ada 2 sejauh ini guys:

1# What’s Next In Blockchain

Ini bicara tentang distributed ledger yang mana setelah tak baca kok malah makin bingung. Haha, kinda prove of work dan prove of stake yang tak kunjung berkesudahan memperebutkan mana yang paling secure.

Thus, walau ndak tau praktiknya bagaimana, saya jadi faham kalau huruf pertama di PESTLE itu menjadi penting. Political. Kebijaksanaan terkait politik menentukan currency masa depan ini berjaya apa ndak. Without government policy, mainan baru ini, saya setuju, akan hambar dan ndak akan bisa massive. Minimal dalam waktu dekat.

2# State of Innovation

Di issue ini yang buat gemes adalah terkait sikap para leaders. Komitmen mereka untuk melakukan inovasi sangat tinggi, akan tetapi banyak kejebak di ownership-nya yang rendah. Well, keinginan dengan rasa memiliki saya fikir ndak beda jauh, tapi sangat berarti.

Bener memang banyak hal yang agak bertabrakan dengan asumsi awal saya. Hehe, menjadi menarik karena bilang “kita akan melakukan inovasi” tapi ketika diharuskan berinvestasi kesana malah ndak total. Aneh kan yah.

Well, itu kayaknya guys..

See you for the next sharing.. ^_^

FOMO vs. FONK

FONK vs. FOMK

Saya lagi belajar modul “Digital Marketing Trend” di Lynda (iye, iye, sekarang penuh punya LinkedIn). Nah, pengantar modul ini bicara tentang trend FONK & FOMO.

Ada 2 hal yang saya notice dipembuka modul “Digital Marketing” ini.

PERTAMA, saya baru faham ternyata FOMO (Fear of Missing Out) itu dah masuk Oxford Dictionary bukan hanya slogan atau singkatan istilah di social media saja. See here:

“Anxiety that an exciting or interesting event may currently be happening elsewhere, often aroused by posts seen on social media.”

Kalau diartikan secara brutal: kekhawatiran kehilangan info terkait sesuatu yang menarik. Biasanya sih di sosial media. Well guys, jujur, saya sering FOMO. ✌️😆

KEDUA, ternyata ada istilah baru yang lebih akut yang namanya FONK atau Fear of Not Knowing. Khawatir ndak tau. Kalau FOMO lebih pada khawatir ketinggalan informasi, kalau FONK lebih kepada khawatir ndak tau.

Dan menurut trendnya FONK itu lebih positif daripada FOMO. When you feel FONK you can learn it deep. Nge-digging dimateri yang kita mau. Join LinkedIn Learning (halah, iklan). Sementara kalau FOMO akan berhenti di “sudah tahu” saja.

Well guys, catetan ndak penting sebenernya ini FOMO & FONK Awalnya saya mau sharing 4 metrics Google search yang algorithmanya lebih mobile friendly and accurately counts. Fair enough-lah untuk para pemasang iklan.

Itu aja kayaknya gais..

Selamat pagi semua para pembaca lini masa yang semangat belajarnya selalu tumpah-tumpah. #RespectForYou 🙏

When Was The Last Time You Did Something For The First Time

Kemarin VP Business Sumatera, Pak Firdy, ngundang saya ke Batam untuk sharing di workshop mereka. Sharing utk persiapan digital outing all team BS (dari level Staf sampai level General Manager) besoknya. Outputnya: ide & creating videos.

Karena saya faham, membuat video adalah HAL YANG BARU untuk kawan-kawan Business Support (Keuangan, GA, Proc, HCM, treasury, dll), sengaja slide digambar yang saya pilih sebagai pembuka. See this question:

WHEN WAS THE LAST TIME YOU DID SOMETHING FOR THE FIRST TIME?

Menurut saya ini pertanyaan yang lumayan menggugah, gaes. Kapan terakhir kalinya kita melakukan sesuatu untuk pertama kalinya. Ini jawabannya bisa beragam. Ngingetin macem-macemlah gaes tergantung persepsi yang membacanya.

Pertanyaan ini saya ambil dari judul bukunya Seth Godiin, Poke the Box. Concern-nya adalah “dare to challenge”. Itu yang saya coba stressing ke team Business Support.

Yes guys, kalau menurut Tn. Godin, melakukan hal untuk pertama kalinya biasanya itu lumayan mengerikan. Saran dia adalah “just go”. Jika punya ide, gagasan, hal-hal yang kreatif saran beliau adalah simple: LAKUKAN SAJA.

And one thing, gaes.

Melakukan yang belum pernah dilakukan itu sepengalaman saya memang lumayan scarry. Soalnya bisa jadi salah dan ada resiko dibelakangnya. Akan tetapi kata godin ini bukan resiko beneran. Ndak ada yang harus dikhawatirkan.

Yes guys, why you shouldn’t afraid, you can read this statement:

“This is not same thing as taking a risk. In fact, the riskiest thing we can do right now is nothing”.

Haha, hari ini, memang, lebih beresiko lagi kalau ndak ngelakukan apa-apa lho. Itu aja gaes.. 🙏

Selamat melakukan hal-hal yang pertama kalinya duhai kalian para pembaca lini masa.

Salam penuh cinta.

ABIE