Small is The New of Big

Kalimat yang sexy b*tchy hari ini adalah “SMALL IS THE NEW OF BIG”. Yes, saya setuju ini paradox. Ini kalimatnya mengelus ego dan fikiran sekaligus. 😅

Berikut apa yang dibilang Eric Schmidt, sang CEO legendaris, terkait dengan kecil adalah satuan dari besar yang baru:

“Meanwhile, within companies the power has shifted as well. Individuals and small teams can have a MASSIVE IMPACT”.

Kalau bicara lingkup organisasi terkait besar dan kecil ini akan menjadi menarik guys. Bagaimana organisasi yang sudah besar hari ini bersikap. Apakah bisa membuat massive impact seperti, misalnya starup, men-challenge semua permasalahan?

Okeh, big company terlalu lamban untuk bersikap just like what founders do?

Kayaknya perlu diingetkan. Itu yang dibilang Tn. Schmidt di atas bukan tentang how big company-nya lho guys, tapi terkait dengan orang-orang didalemnya. People matters much. Individuals dan small teams yang dibentuk menentukan. Kalau Google bilangnya “smart creative people”.

Well, bicara big companies tentu saja kita faham membuat gajah berdansa seperti contoh sums-up historic business achievement IBM dibukunya Lou Gerstner itu ndak mudah (who say that elephant can’t dance). Ndak bisa menjawab semuanya, guys. Karena ‘use case’ dan ‘business case’ nya sudah pasti berbeda tiap organisasi.

Uhm, my point is small or big ndak matter-matter banget. As long as the people inside terus menginkubasi ide untuk menjawab permasalahan internally atau market, that would be fine lah.

Sehingga secara total jendral company nya jadi survive juga. Kalau ndak ya pilihannya satu lagi: matek.

Demikian kira-kira, guys.. ✌️😆

Salam olahraga semuanya.

Advertisements

PRESENTER IS A SAILOR

“PRESENTER IS A SAILOR”

Itu yang dibilang bunda “Nancy Duarte” dibukunya “Resonate”. Presenter adalah seorang pelaut yang mengajak para audience berpetualang.

Katanya para pelaut wajib mengenali “The Big Idea” untuk mengajak semua audiences mengikuti journey yang sedang dibawakan.

Soalnya ndak mudah menjadi “pelaut” lho guys. Kebayang kan yah susahnya bagaimana sang presenters memindahkan dari satu persepsi ke persepsi yang diharap.

Ya, You will face what Capt. Haddock (Tintin Series) always said: SEJUTA TOPAN BADAI. Poin saya adalah ini ndak gampang hehe..

Ah, even secara lahiriah you are a story teller, menurut saya, memahami ide besar ini akan berguna bangets untuk dijadikan wawasan tambahan.

Nah, kalau penting lalu apa sih 3 hal yang menjadi ciri dari big pictures-nya guys? Yes, you can see these, gaes:

— A big idea must articulate your unique point of view.

— A big idea must convey what’s at stake.

— A big idea must be a complete sentence.

Yes, orang dateng untuk mendengarkan kita bicara. Karena mereka juga pengen melihat perspektif kita terhadap subjek yang dibawa. Melihat bagaimana enthusiast nya kita memaparkan gagasan. Enthusiast akan menunjukkan takaran berapa orang yang akan follow. Makin tinggi biasanya makin banyak yang akan ikut masuk kedalam kapal.

Oiyah lanjut..

Sebagai contoh judul “NASIB LAUTAN KITA” ini dibilang bunda Duarte sebuah topik biasa; that’s not a big idea. Kurang gede idenya. Akan menjadi besar idenya ketika judulnya diganti menjadi “POLUSI DISELURUH DUNIA MEMBUNUH LAUTAN DAN KITA”. Bandingkan.

Yes, compelling title. It just needs to be your point of view on the subject rather than a generalization. Gitu sih katanya, gaes.

____ end

Kalau punya waktu saya akan sharing “kenapa drama itu penting banget”.

Kenapa story teller wajib tau runutan cerita, dan lainnya. Yah, kayak biasa ndak usah ditunggu soalnya nulis sak sempatnya aja hehe.. 😊

#presenterissailor #nancyduarte #resonate #books #weekend #wiken #goodbook #presenter

Value Proposition Design – Confirming to The Customers

Kemarin VP Sales Sumatera (bang Erwin Tanjung) menyampaikan pesan ke kami terkait program atau aktifitas sales.

Beliau bilang kalimat: “JANGAN PAKAI ASUMSIMU”. Haha, sederhana tapi cukup mengelus ego. Soalnya seringnya kita merasa program atau aktifitas kita paling bener padahal belum tentu.

Beliau ini baru ikutan workshop bareng para founders startup. Workshop organized by Deloitte. Ohsem pastinya.

Yes, apa yang VP sales minta untuk dilakukan adalah “confirming” atau “validasi” ke pelanggan. Beliau minta berangkat dari CUSTOMERS PROBLEM atau pain point dipelanggan itu apa.

Seringnya big company mislead ketika buat program. Ndak tepat sasaran. Jijiknya lagi, sudahlah buang budget dan tenaga ndak sedikit eh, pelanggan ternyata ndak butuh.

Wkwkwk, persis yang dibilang VP saya itu: JANGAN TERLALU CINTA SAMA IDE SENDIRI. Soalnya bisa baper & terjerambab dilabirin asumsi. Pain pelanggan ndak ke-relieves. Budget habis. Waktu kebuang. Setdah. Ini jelas zonk jadinya.

Demikian gaes.. 🙏☺️

(Gambar diambil tanpa izin dari buku Value Proposition Design ditulis oleh Tn. Alex Osterwalders)

Preorder Buku Infinite Game – Simon Sinek

Well gaes..

Nyang saya suka dari Amazon adalah “mereka faham bener memperlakukan pelanggannya”.

Barusan saya dapet email terkait “Preorder Buku The Infinite Game” yang ditulis oleh “Simon Sinek”. Preordernya kemarin sudah dilakukan kira-kira 5 bulan lalu (21 Maret 2018).

Emailnya Amazon menjelaskan kalau preorder buku saya yang harusnya release Oktober 2018 nanti menjadi Desember 2018. Jadi mundur release bukunya gaes.

Sebenernya saya juga hampir ndak inget pernah preorder buku ini lho gaes. Habisnya dari Maret ke Oktober kan lama. Makanya lupa hehe. Eh, ternyata diingetkan jadi seneng gimana gitu. (Iyah ndak penting sih wkkwkw)

Seriously menurut saya ini cakep..

What Amazon do adalah “pelanggan sentris”. Fokus ke pelanggannya. Persis seperti workshop DigitalX yang saya ikuti beberapa minggu lalu. Apapun yang dilakukan harusnya fokus kepelanggan, BUKAN karena ada agenda kita.

Yes, it is never ever evaa about us. It is always about our customers, gaes. Oh dem, ndak terlalu rumit sebenernya kan yah.. 🙏☺️

.

Berharap Bukanlah Strategi

Ini agak sarkas, nyindir banget.. 🙏😆

Menurut saya, apa yang dibilang Chris Bradley, senior partner of McKinsey & Company, adalah realitas. Kalimatnya:

“BERHARAP BUKANLAH SEBUAH STRATEGY”.

Asem memang tapi apa adanya, gaes. Bicara strategi adalah hal yang nyata dan realistis. Ndak bisa bicara “eh itu ada peluang” dan berhenti disitu saja. Maksudnya berhenti di “tahu ada peluang” saja dan selanjutnya do nothing.

Jika merasa menemukan peluang (opportunities), baiknya dikalkulasi dengan benar berapa peluangnya. Ndak usah ragu juga ngitung effortnya. Sampai firm bener “peluang” dan “effort” berkebalikan kurvanya. Maksudnya ketika si peluang besar dan si effort ndak ikut-ikutan besar. Common knowledge-lah ini yah guys.

Ada beberapa hal yang disharing oleh Tn. Chris Bradley, agar ndak jatuh dikata “berharap” saja. Soalnya, again and again, berharap itu bukan strategy. Berikut gambarannya guys:

1# Don’t waste a strong trend

2# Reward noble failure

3# Revamp the approach to M&A

4# Check that your big move is big enough

5# Tackle the challenge of sticky resources

6# Ensure the strategy room is like a kitchen with the right menu

Dan sebagai penutup Tn. Bradley berpesan: you gotta to believe that hope is not a strategy. Ndak usah berhalu-halu siang bolong gini berharap dowank. Gali. Pastikan ada cahaya disana.

Oiya. Kalau mau baca detail kalimat nyindirnya Tn. Bradley, you can read here:

https://www.mckinsey.com/business-functions/strategy-and-corporate-finance/our-insights/the-strategy-and-corporate-finance-blog/hope-is-not-a-strategy

Demikian gaes, selamat berbuat sesuatu yang owhsem kawan-kawan semua. Ingetlah selalu ndak usah banyak-banyak berharap, mending gali dalem. Ndak worth it ya tinggalkan. Kalau cucok, bungkus!

Salam olahraga semuanya..

— Sekarang, jangan tunggu besok. 🙏😍

Nyinyirnya Pemain Mobile Legends

Belakangan sering main games Mobile Legends (ML), gaes.

Well, sebenernya kebawa pengaruh anak saya Bang Tala sama Dek Agi. Lagian, dikantor juga sering buat ML competition yang dibuat sama anak-anak digital, yang mana peminatnya ternyata warbiasak dan wagelaseh. Hampun dah.

Yah, singkatnya maenlah anak mudanya. Dan belik beberapa skin yang cakep-cakep. Gitu main eyalah saya seringnya malah kenak komplain:

“OH DASAR ZILONG NUB, SKIN BAGUS GADAK SKILL”

Itu pas saya pakai skin Glorious General. Belum lagi kalau makai yang legends kayak Chanbanpo Commander haha habis saya. Yes, saya skill ndak punya tapi sikil (kaki) saya punya wkkwwk. Sebagai informasi “nub” atau “noob” diambil dari kata “newbie” atau “pemain pemula”. Oh dem.

Kadang komentar kasar yang saya juga ndak faham maksudnya apa gaes..

“NGEHE NUB, ZILONG AJNG JGN NGEBUFF”

Belakangan saya tau ”ngehe” itu apa dan kenapa “ngebuff” itu ada timingnya. Teros “AJNG” itu ternyata “Anjing”.

Intinya sih, saya ndak faham ini kenapa anak-anak ML ngomongnya pada lantam dan ganas sekali. Kadang kepikiran mau emosi balik tapi lah teringet itu pasti yang main seumuran bg Tala (only 12 yo) jadi saya yah sabar aja banyak-banyak istighfar wkwkwkw..

Palingan saya ngejawabnya “Maaf KK Saya Nub” eh tambah emosi malah saya dimaki lagi. Kadang kayak ustadzh saya jawab towa gituh “Eh ini ibumu yg ngajarin ngomong kasar gitu“. Dan ndak ngefect juga. Yang ngeflaming malah nambah darah tinggi. Hiks. Ndak jelas juga ini orang semua. Nyinyir semuanya.

Sampai kemarin lebaran. Ketika saya sengaja buka buku 10 skin atau berapa gitu di vault, bang Tala bilang “Ih papah sultan banget“. Ndak gitu ngerti maksudnya si abang tapi saya malah jadi kepikiran punya bahan jawaban ketika di offense, gaes.

Sudah dipraktekkan beberapa kali dan kayaknya manjur lho gaes. Once ketika ada yang bilang “woy lu menang skin dowank” atau “skin aja bagus main jelek”, dan sebangsanya, saya lantas jawab sopan:

“IYAH MAAF KK, SAYA SULTAN BANYAK SKIN. MAAF YAH”

Dan ini manjur. Ajaibnya, ndak ada yang berani komentar lagi. It works. Dan biasanya in the end of pertandingan saya malah di add-friend sama yang ngeflaming. Karena mungkin dikira sultan beneran. Ndak sekali tapi 5 apa 6 kali kejadian lho gaes.

Bener memang kata anak saya sultan itu sakti. Kalau istilahnya mereka: SULTAN MAH BEBAS. CUMAN SULTAN YANG BOLEH APA AJA LHO PAH. Iya deh iya. Ini jadi solusi (sementara) untuk menghindari nyinyirnya ML players yang ngelihat skin bagus skill rendah kayak saya hehe.. ^_^

Btw, sebenernya mau nyeritain tentang SULTAN (DylandPros) yang beli skins legends sekaligus, yah hampir 30K diamonds. Saya juga mau share kenapa harusnya si botak “Jess No Limit” yang pantes disebut Sultan. TAPI KAYAKNYA NDAK SEMPAT lho gaes, ini mau Mabar sama si bang Tala dan dek Agi dulu.

Haha gitu aja dulu, ini tulisan ndak penting plus ndak berfaedah sebenernya ndak usah diambil hati..✌️😂

Great At Work – Morten T. Hansen

Nyang buat terngiang dikepala Tn. Hansen adalah apa yang disebutnya Natalie’s Question. Pertanyaan tentang Natalie, kolehanya di Boston Consulting Group.

Seperti yang ditutur, saat itu Tn. Hansen dan Natalie sama-sama anak baru di BCG. Mereka berdua sama-sama cerdas. Sama-sama bagus performansinya. Menonjol diantara para cerdas cendekia yang bekerja disana. Menjadi TOP PERFORMERS diperusahaan tersebut.

Sebenernya yang jadi pertanyaan Tn. Hansen dulu (dan baru kejawab hari ini) adalah “spending time” dalam bekerja. Tn. Hansen heran kenapa Ms. Natalies di recognize “superb” juga. Sama seperti beliau. Okelah Natalie pinter dan cekaran, tapi to be honest tuan Hansen menganggapnya pelit waktu.

Natalie itu ndak begitu terlalu kerja keras. See, Nat’s kerja hanya jam 08.00 to 18.00 (60 jam) maksimal ndak lebih. Sementara Tn. Hansen ndak jarang stay dikantor. Bisa ngabiskan 90 jam seminggu.

Artinya rata-rata 15 jam sehari untuk bekerja selama 6 hari. Beneran kerja keras gaes.

Dan pada akhirnya tuan Hansen sadar kuncinya bukan dibanyak jam-nya tapi dikualitas dan produktifitas. Bagaimana bekerja seefektif mungkin dan menaikkan produktivitas yang harusnya dituju.

Berangkat dari itu semua kenapa Tn. Morten Hansen melakukan beberapa riset dan menuangkannya dalam buku “GREAT WORK, how top performers work less and achieve more”. Beliau mengajak kita pembaca yang bekerja untuk memahami esensi bekerja itu dimana.

Kalimat berikut di bawah saya kasih notes dikindle. Sengaja. Selain suka kalimatnya juga menurut saya bisa menjadi takeaways untuk difahami. See here:

Top performers did less and more: less volume of activities, more concentrated effort.

Aha, katanya top performers melakukan “sedikit” dan “banyak”. Sedikit maksudnya dalam melakukan aktifitas, dan banyak berkonsentrasi ke usahanya. Cakep! And we know already, yes, hari ini yang dibutuhkan adalah kerja cerdas. Persis seperti yang Natalie lakukan.

Well, tuan Hansen juga menjelaskan para pemimpin perusahaan yang punya persepsi keliru: the longer you held meeting the more you will be appreciated. Saban hari meeting malah ngganggu di eksekusinya. Kebanyakan diskusi eksekusinya kapan?

Well, saya juga sama..

Kadang ndak efektif dan ndak smart dalam bekerja. Tulisan ini sebenernya #selfreflect dan #selfremind supaya ndak terjerambab jadi leader yang salah perceived “kerja lama biar dibilang bagus”. Ini leader kampret namanya.

Next, saya sharing (singkat aja) terkait 7 hal yang diresearch oleh tuan Hansen. Nyang diconduct ke 5000 orang dengan berbagai disiplin pekerjaan dan jabatan. Etapi ndak usah ditunggu, soalnya ini sharing sesempatnya aja hehe. Ciao.