Big Or Small Idea

Yes, all you need is a BIG idea.

Saya setuju banget.

Akan tetapi menurut saya, imo, ndak usahlah risau memikirkan BESAR atau tidak ide yang digagas. Karena semua ide itu owhsem.

Bener memang harus BESAR to get massive impact. Yang ndak bener adalah terlalu sibuk mencoba mikir yang “besar” malah khawatirnya kitanya jadi ngeblank. It feels empty. Suddenly.

Khawatirnya juga, it will kill your confidence level. Beneran, terkadang jadi ndak pede. Rada minder karena khawatir idenya ain’t big enough. Semoga saja tidak yah.

Saya fikir ide ndak bisa diukur pakai metric “besar & kecil” saja. Walau small tapi selalu dilakukan bisa jadi something big. Yep, konsistensi jadi kata kuncinya.

And, vice versa, walau idenya besar banget sebesar Gaban atau Utraman tapi ndak dikerjakan yah sama saja kan yah. Berhenti di wacana saja ini mah.

Itu mungkin gaes..

Selamat pagi kalian semua pembaca lini masa yang sedang meng-eksekusi ide ohsem masing-masing.

Tabik,

Abdi J. Putra — ABIE

Follow me here — @abepoetra

Blog — https://abepoetra.wordpress.com

Advertisements

Books: The Making of A Manager By Julie Zhuo

Saya sudah dari taon kapan ngikutin Julie Zhuo ini di Medium. Saya kinda fans-nya gitu, guys. Kipas anginnya Ny. Zhuo hehe. Pastinya guys, sekitar 4 tahun yang lalu saya menuliskan pemikirannya di blog saya. See here:

https://abepoetra.wordpress.com/2015/09/01/average-manager-vs-great-manager-julie-zhuo/

Well, finally, seperti dugaan saya, dia menuliskannya juga. Menjadi sebuah buku yang utuh. Dan “The Making of Manager” yang ditulis Julie Zhuo (VP of Product Design at Facebook) based on her experiences.

Tulisannya authentic. Tentang apa yang dirasakannya. Tentang kegalauannya dalam mencoba praktek dari buku-buku leadership yang dibacanya yang ketika diterapkan ternyata berbeda dengan kenyataanya. Ahay.

Iya, menjadi menarik ketika Ny. Zhuo sharing bukan hanya keberhasilan ngelead-nya saja, tapi juga cerita kegagalan-kegagalan yang dialaminya ketika memimpin team design facebook itu renyah diceritakan.

Oiyah guys. Disetiap chapter dikasih sketch bagus untuk coba mendeskripsikan big picture content didalemnya.

Ndak usah saya gambarkan lagi, she is a story teller. Cara berceritanya bagus banget. Love it much. Yes, buku ini worth to buy lho guys.

Menurut saya, Ada 2 (dua) tipe buku tentang leadership.

TIPE PERTAMA, adalah buku yang berisi tentang ide dan insight yang cukup sekali dibaca. Dan TIPE YANG KEDUA adalah buku-buku yang saya anggap bagus banget dan bisa dijadikan referensi (berulang-ulang dibaca) untuk diterapkan.

Well, buku Julie Zhuo “The Making of Managers” ini termasuk buku kategori kedua untuk saya. Menginspirasi juga bisa dijadikan practical guide.

Ah, gak sayang kalau saya kasih 5 dari 5 bintang. Memang layak. Salut saya buat Julie Zhuo.

Tabik,

— Abdi J. Putra (ABIE)

— add me here: @abepoetra

10 SIMPLE RULES – By Laszlo Bock

Kemarin diminta HCM sharing ke para agent of change Area Sumatera. Para agent ini sengaja dibentuk untuk menghembuskan “corporate culture” dilingkungan mereka. Program bagus menurut saya. Menularkan value-value positif.

Karena ini ngomongin tentang culture dipekerjaan, saya fikir buku “Work Rules” yang ditulis former Executive Vice President People Operations Google, Laszlo Bock, akan bagus untuk difahami bersama.

To make long story short, ada 10 aturan yang disimpulkan tuan Laszlo yang katanya penting untuk diterapkan diperusahaan atau organisasi hari ini. Dus, aturan-aturan ini dipercaya akan mengubah bagaimana kita menjalani hidup dan bagaimana kita memimpin dipekerjaan. Berikut guys:

#1. Give your work meaning

#2. Trust your people

#3. Hire people who are better than you

#4. Don’t confuse people development with managing performance

#5. Focus on the worst and the best (the two tails)

#6. Be frugal and generous

#7. Pay “unfairly”

#8. Nudge

#9. Manage the rising expectations

#10. Enjoy! Then go back to No.1 and start again

See #10 guys. YES. Apapun yang dilakukan, kita jangan lupa untuk menikmatinya. Jangan lupa kata FUN supaya tetap bisa ENJOY kan yah.. ^_^

Well, banyak hal yang menarik seputaran Corporate Culture Google yang saya coba share sesuai penuturan tuan Laszlo. Banyak yang angguk-angguk gitu kemarin gaes. Ndak faham mereka itu pada setuju atau pada ngantok. Kayaknya sih pada ngantok yah kwwkwk.. ✌️😂

Oiyah, kalau googling “Google Culture” akan kelihatan bean bags, lava lamp, atau free snacks untuk para Googlers. Dan kelihatan “seolah-olah” budaya perusahaan mereka yah itu. Eng, sebenernya bukan itu sih inti dari culture Google. Lebih dalem lagi, lebih nyentuh ke employeenya.

Next aja kali yah, saya akan share apa yang didefinisikan oleh Laszlo Bock terkait aspek apa aja yang mendefinisikan “Google Culture” sehingga sampai hari ini masih “megang” banget.

Tabik,

ABIE || @abepoetra

.

About People – A Story From Google

Ini ceritanya sehari sebelum Google IPO, 19 Agustus 2004. Yaps, sekitar 15 tahun yang lalu.

Malem itu Sergey & Larry sengaja memberi surat prospektus tambahan untuk para investors. Sebenernya notes atau surat ini ndak penting kalau diistilah kepemilikan, tapi bagi duo founders ini malah sangat penting.

Surat itu sebagai pernyataan sikap bahwa 1.907 karyawan mereka saat itu “do matter” banget. Maha penting dari semua asset. Itu kenapa mereka berdua maksa catetan itu harus dibacakan ketika diskusi final.

Saya ndak kutip semuanya, tapi penggalan kalimat mereka ini menginspirasi saya:

________

“Our employees, who have named themselves Googlers, are everything.

Google is organized around the ability to attract and leverage the talent of exceptional technologists and business people.

We have been lucky to recruit many creative, principled and hard working stars. We hope to recruit many more in the future. We will reward and treat them well.”

________

Yah, mereka bilang singkatnya kaya gini guys:

“Duhai para investors, sebelum kalian berinvestasi diperusahaan ini please difahami kalau karyawan kami (Googlers) adalah segalanya bagi perusahaan ini.”

Yah, demikianlah. Penggalan kalimat yang ditulis oleh duo founders itu membuat semua morale Googlers went up. Membuat para karyawan pada saat itu (2004) mengerti kalau mereka tidak sedang dijual. Membuat para Googlers firm kalau mereka tetap bisa berkreasi dan berinovasi kapan saja.

Yeah rite guys..

Kalau hari ini kawan-kawan semuanya adalah seorang leader yang punya orang-orang yang bekerja untuk tujuan bersama, cerita Duo founder Google ini harusnya punya tempat.

Last words..

Saya suka yang dibilang Jack Welch “Before you are a leader, success is all about growing yourself. When you become a leader, success is all about growing others”. Yes, ini bukan tentang kita lagi, tapi tentang orang-orang yang kita lead.

Tabik.

Abdi J. Putra — ABIE

Add my IG here: @abepoetra

Marketing Chronicles – Nimish V Dwivedi

Ini buku marketing yang judulnya sungguh memikat: MARKETING CHRONICLES. Saya yang gawe-nya dimarketing & sales langsong purchase it now. Nah, kemarin pas beli buku tuan Nimis V Dwivedi ini saya kebayang buku lama yang sudah difelemkan “The Chronicles of Narnia”. Ndak nyambung memang.. 😆

Btw guys, tuan CS Lewis kreator of Narnia, dan tuan Hans Christian Andersen bacaan favorit saya waktu kecil. Rata-rata minjem diperpus atau pinjem temen, ndak beli. Dulu pas SD & SMP belom ada internet. Halah, ini info ndak berfaedah juga.. ✌️😂

_____ Back to “Marketing Chronicles”

Additional wording dijudulnya, yang buat tambah nafsu bacanya, ada embel-embel “marketing insight from the Pre-Smartphone and Post-Smartphone Eras”. Teros secara tampilan juga OK. See that, faham kenapa sor awak sama buku ini.

Eh, akan tetapi, tampilan juga judul terkadang ndak menjamin isinya menarik untuk dibaca. Jadi singkatnya, ADA 3 (TIGA) HAL yang menjadi catetan saya:

PERTAMA. Ndak ada yang baru yang cukup ngasih insight. Bener ini adalah hasil riset tuan Dwivedi yang mana berisikan hal aktual masa sebelum dan sesudah smartphone. Sebuah compendium yang rapi tapi untuk saya kurang gereget. Ah, be honest boring udah ketebak alurnya diprakata.

KEDUA. Bahasa yang dipakai terlalu melebar. Yaps, ndak stright-tu-depoin. Ndak praktis dan terlalu boros kata-kata. Ndak renyah. Saya ndak ngerti siapa editornya tapi untuk menceritakan satu hal remeh yah ndak perlu dibuat satu chapter juga. Ini imho lho yah. KIS nya ndak dapet. Keep it simple.

KETIGA. Ini skup-nya ndak global, walau dijudulnya global insight. Ndak usah berharap terlalu banyak. Ini ceritanya seputaran negara India. Yeah rite, beberapa tempat dan contoh saya ndak faham dimana, pastinya di India. Behaviour dan culture juga buat mumet. Mau googling juga males soalnya yah dipoin dua tadi.

_____ last words

Haha, agak menyesal juga membaca buku tuan Nimish V Dwivedi ini guys, beliau ketelampauan bertele-telenya. Wasting ma time banget. HEY YOU, KEMBALIKAN WAKTU SAYA YANG HILANG. Ohmegod.

Btw, bisa jadi saya salah. Ndak mampu melihat strong point buku ini. Kecerdasannya cekak. Bisa jadi pas baca mood saya lagi ndak pas. SINGKATNYA, please you guys, yang udah baca buku ini bantu saya untuk tunjukkan menariknya buku ini dimana. 🙏☺️

Tabik,

Add my IG: @abepoetra.

McKinsey – Kenapa Strategi Digital Gagal?

Ini tulisan lumayan panjang dan belum tentu ada juntrungannya. Halah. Kalau mood “ntah-napa-pengen-baca” nya lagi tinggi yah silahkan. Kalau ndak pengen baca juga ndak papa. Ini memang kayaknya ndak penting wkwkwk..

Sebenernya ndak sampai juga ilmu saya untuk mendetailkan apa yang McKinsey tulis disini. Well, you know, ini McKinsey lho, para ahli nujum yang bahasanya berkelas. Jadi yah maklum aja kalau saya ndak faham. *yaps, ini namanya pembelaan diri ✌️😂

Okeh seriously, saya seneng baca artikel ini. Itu aja sih. One that intriguing me adalah kalimat mereka: “Today’s smartphones are several thousand times greater than that of the computers that landed a man on the moon in 1969.” Perangkat smartphone itu baru berumur katakanlah 10 tahun saja lho. Faktanya, 1000X LEBIH CANGGIH dari komputer yang menghantarkan manusia ke bulan.

___ Well, back to “WHY DIGITAL STRATEGIES FAIL”. Kenapa strategi digital bisa gagal.

Jadi singkatnya, tuan Bughin, tuan Catlin, tuan Hirt, dan tuan Wilmott coba mendeteksi 5 perangkap penyebab kenapa strategi digital diperusahaan bisa gagal. See here:

_______

1# Fuzzy Definitions

2# Misunderstanding the Economics of Digital

3# Overlooking Ecosystems

4# Overindexing on the ‘Usual Suspect’

5# Missing the Duality of Digital

_______

Yeah rite, untuk “Pitfall1: Fuzzy Definitions” we all know that it has been written in ‘what digital really means’. Ditulis sama para penujum itu juga. Dan entah kenapa kurang kerjaan saya sudah ‘bahasa-kan’. Nyang mau artikel in-bahasa please japri aja.

Untuk “Pitfall2: Misunderstanding the Economics of Digital” diceritakan kenapa ‘digital is destroying economic rent’ dan kenapa juga mereka bilang ‘winners takes all economics’. Serem kali bah. 😅

Kemudian “Pitfall3: Overlooking Ecosystems” menjelaskan kenapa Apple Pay menjadi ekosistem keuangan baru. Atau misalnya Tencent & Alibaba sedang expanding their ecosystems. Bahasa canggihnya ‘emerging set of digital ecosystems’. Ini yang sedang terjadi guys.

Dan menarik kalau baca “Pitfall4: Overindexing on the Usual Suspect”. Soalnya mereka bilang: digitizing incumbents are very dangerous. Ini serem juga, soalnya digital reinventors (incumbent) harus siap bertransformasi. Segera.

Jangan ‘step’ yang diambil seharusnya, tapi ‘a giant leap’ walau awal-awal bisa dipastikan bakal suffer Pendapatannya. Dan bisa jadi yang dijalani juga akan ‘leads nowhere’. Ini mereka yang bilang lho guys, bukan saya.

Dan terakhir “Pitfall5: Missing the Duality of Digital”, mereka menuliskan kalau perusahaan wajib mengkalibrasi respons menghadapi digital threats. Kalimatnya: jika kita akan terdisrupsi, kita buat sesuatu yang sama sekali baru.

Uhm, padahal kenyataanya, yang saya juga setuju, ini ndak akan segampang ngemengnya hehe. Produk atau value apa yang bisa jadi revenue stream baru? No one will answer it clearly. Termasok saya juga. Dan yah McKinsey juga.

Pilihannya “membuat bisnis baru atau mendigitalisasikan business yang sudah ada”. Kalau ini yah semua orang sebenernya sudah mafhum kan yah guys.

Last scattered words..

Saya pribadi jadi bingung, ini McKinsey mendefine jebakan-jebakan kenapa strategi digital gagal dengan bahasa yang tinggi. And guess what, err confusing, yang sebenernya bisa disederhanakan sih.

Yang membuat ini menarik, saya fikir, karena mereka pakai riset yang dalem dan kekinian. Hehe, silahkan saja siapa yang mau mendebat ahli nujum yang cerdas cendekia itu. Amponlah. Minimalnya untuk saya dapet poin-poinnya sudah lumayan. Plus contoh-contoh yang mereka berikan cukup dapet gambaran.

Nah, seperti saya bilang di atas, kawan-kawan yang mood “ntah-napa-pengen-baca” nya tinggi, silahkan baca lengkapnya dimari:

https://www.mckinsey.com/business-functions/digital-mckinsey/our-insights/why-digital-strategies-fail

Btw guys, maaf panjang, dan terimakasih sudah membaca sampai bawah sini.

Your friendly neighborhood.. ✌️☺️

Abdi J Putra – Abie

Add my IG here: @abepoetra.