Malala Yousafzai & Nobel Perdamaian

Oh gaes..

Pada tahun 2008, Taliban menguasai Lembah Swat, sebuah daerah terpencil di Pakistan timur laut. Taliban menerapkan agenda dan propaganda mereka. Yeah, ndak ada televisi, ndak ada ada film, ndak ada perempuan yang diizinkan keluyuran diluar dengan bebas. Parahnya, ndak ada anak gadis yang diperbolehkan untuk bersekolah.

Sejarah mencatet, tahun itu 2009, seorang gadis Pakistan berusia sebelas tahun bernama “MALALA YOUSAFZAI” mulai berbicara menentang larangan sekolah tersebut. Dia terus menghadiri sekolah setempat, mempertaruhkan nyawa dia dan ayahnya. Dia juga menghadiri konferensi di kota-kota terdekat.

Dia juga menulis secara online (BBC, under pseudonym) kalimat-kalimat pertentangan mewakili kegundahan saat itu. Salah satu contohnya Malala menulis “HOW DARE THE TALIBAN TAKE AWAY MY RIGHT FOR EDUCATION?”. Kalimat berani membahana (yang konyol?) yang mempertanyakan kesamaan hak untuk pendidikan.

Cerita mengalir, bisa ditebak aktifitas untuk mendapatkan hak pendidikan dan protes gadis kecil ini untuk kesamaan hak laki-laki dan perempuan membuat Taliban gerah.

Pada tahun 2012, di suatu siang ketika Malala diusia empat belas tahun, ketika dia menaiki bus pulang dari sekolah. Seorang tentara Taliban bertopeng dan bersenjatakan senapan naik bus dan bertanya: “SIAPA YANG BERNAMA MALALA? Katakan padaku, atau aku akan menembak semua orang di sini.

Malala maju. Dengan berani menengadahkan mukanya tepat kearah senapan. Wajahnya, walau diem tapi teguh mengisyaratkan pesan kalau perempuan juga berhak bersekolah. Ndak berapa lama, “DOORR..”, dan pria itu menembak Malala tepat di kepala. Dari jarak dekat. Semua penumpang bus lainnya terdiam. Bergeming. Menyaksikan Malala terjerambab bersimbah darah.

Malala mengalami koma dan hampir saja menghembuskan nafas. Taliban hari itu juga menyatakan secara terbuka bahwa jika Malala berhasil bertahan hidup, mereka akan membunuh dia dan ayahnya.

Apakah ini akhir ceritanya?

Hell, offcourse no guys..

Semua faham. Hari ini, Malala masih hidup. Dia masih berbicara menentang kekerasan dan penindasan terhadap wanita muslim. Menyuarakan persamaan hak untuk untuk mendapatkan pendidikan. Menulis dan berbagi sebanyak mungkin ide dan pemikirannya. Dunia yang lebih baik yang tidak mendikotomi gender.

Dan puncaknya, pada tahun 2014, Malala menerima Hadiah Nobel Perdamaian untuk mengapresiasi segala usahanya itu. Dan yah benar, kejadian ditembak diwajah oleh Taliban malah memberinya audiens yang lebih besar dan mengalirkan rasa empati dari mana-mana.

Dengan segala upaya mempertanyakan hak dan dengan segenap keberaniannya itu, menurut saya yah pantes banget Nobel perdamaian disematkan ke Malala. Pantes, sangat pantes guys.

Last words,

Saya pribadi, suka kalimatnya Malala yang digambar guys. Well, kalau difikir, hari ini, dinegara yang katanya carut marut ini, kita bisa menikmati pendidikan baik wanita ataupun pria. Kita bisa menjalankan ibadah dengan bebas.

Dan itu semua yang membuat saya bersyukur tinggal disini. Dinegara yang merdeka ini. Selamat pagi semua jiwa-jiwa muda dimanapun kelian berada.. 🙏☺️

.

Advertisements

Beli Buku: The Subtle Art Not Giving A Fcuk – Mark Manson

Oh guys..

Ini buku sudah 26 minggu nangkring di “Amazon Charts”. Iyah, buat saya penasaran apa bagusnya. Nah, dua minggu lalu sudah saya beli, tapi belum habis dibaca gaes. Biasalah, a cliche, too many books too little time wkwkw.. ✌️😅

Singkatnya, siapa yang ndak tertarik ketika dibilang tuan Mark Manson “Happiness Is a Problem”. Kemudian kalimatnya yang ngebahas “kamu tidak spesial”. Ini apa maksudnya?

Sengaja memporak porandakan semua anjuran untuk berfikiran positive. Meruntuhkan keyakinan untuk berbuat baik. Well, kalimat “the subtle art not giving a fcuk” beneran intriguing meh. Well, tuan Manson memutarbalikkan semua yang saya fahami. Sungguh backwards rule ini orang, gaes. 😂

Njrit, ini buku wort a read. Layak baca sungguh. Sekilas yah apa adanya. Candor. Authentically. Ntar kalau ada point yang bagus dibuku ini saya share dilini masa ini yah. Semoga punya waktu.. ^_^

Oiyah. Nyang mau baca, silahkan klik ditautan ini:

https://www.amazon.com/Subtle-Art-Not-Giving-Counterintuitive/dp/B01I29Y344

Have a nice weekend everyone! 🙏☺️

*lanjot naik tuk-tuks ke chatuchak market

Waktu Bekerja VS Penghasilan

Guys..

Ceritanya dimulai dari kantor.

Percaya ndak percaya. Sadar ndak sadar. Diakui atau tidak, “pekerjaan” selalu menconsume lebih banyak waktu kita lho guys. See the stats.

Ok, singkatnya begini. Dibeberapa kesempatan, beberapa temen ngajak diskusi terkait waktu kerja. Dan ini hal yang lumrah untuk dibincangkan untuk tipe pekerja kan yah? Yes, Diquadrant E gaes. You will only get 5% wealth. (Employee, Cashflow Quadrant, Kiyosaki).

Kalau menurut buku “work-rules” dan semua buku management solusinya yah umum saja. General. Hal ini balik-balik jawabannya hanya dua hal saja. “TIME MANAGEMENT” dan “PILIHAN”. Iyah nothing new untuk jawaban pertanyaan ini. Lalu apa yang mau dibahas?

Okeh ginilah, ini sesempit pemikirannya saya saja. Ada 3 hal yang kudu dimengerti tentang dua variabel “waktu kerja” yang ditunjukkan digambar dengan variabel satunya lagi yaitu “pendapatan”.

1# JANGAN MENGELUH

Please, jangan pernah mengeluh kalau pendapatannya sesuai dengan waktu yang dihabiskan. Idealnya sih waktu yang dihabiskan sedikit tapi hasil yang dibawa pulang banyak. Haha, semua orang mah bakal milih opsi ini guys. Ah, tapi ndak usahlah kita ber-halu-halu hari gini.

Lantas kalau kenyataanya waktu yang dihabiskan lebih banyak dari pendapatan yang diterima gimana? Yah, pilihannya stay atau cabs dari situ. Jangan menjadi banci. Ndak berani lempar curicullum vitae (CV) keperusahaan lain eh kemana-mana hobinya curhat terus.

Please mbok jangan kekanakan. Mengeluh won’t help you. Percuma. Gadak gunanya. Iyah guys, ini #selfreminding juga. ✌️😆

2# COBA NIKMATI

Yeah rite, ini memang gampang ngemengnya, tapi prakteknya selalu kayak ngebalik telapak tangan (kingkong). Ndak seindah teorinya lho guys. Hiks. But relax, you ain’t alone. Idealnya kalau berhasil dilewati tahap pertama (ndak ngeluh), then langkah keduanya adalah “coba menikmati”.

Menikmati hukumnya sekali lagi jadi wajib karena kebayang tiap melek mata seharian yang dilakukan adalah gawean. Kalau bangun langsung marathon seharian nonton “My Love From The Star” dipojokan tempat tidur mungkin ndak bosen, tapi ini kerja bukan drakor. 😅

So berusahalah untuk menikmatinya walau ndak nikmat haha..

3# BERSYUKUR

And the last one, ini yang paling ultimate. Berkaitan dengan pendapatan, waktu yang dihabiskan, dan seluruh rangkaian cerita diatas adalah: BERSYUKUR!

Kadang yah mbok lihat kebawah juga. Menengadah ke atas bagus untuk memompa motivasi, dia bisa kayak gitu kenapa aku ndak bisa? Akan tetapi, kadang melihat kebawah juga perlu. Untuk melihat ternyata kita lebih “punya” dari yang lain.

Haha, memang benar. Bersyukur itu satu hal, dan berusaha untuk yang lebih baik itu hal yang berbeda menurut saya. Akan tetapi ketika keduanya ballance, then rasa “galau” jadi hilang. Sirna ditelan kegelapan malam.

Oh guys..

Hari ini bisa jadi kawan-kawan memang agak ngambang (mungkin juga gamang) memahami kalimat Conficius: “Choose a job you love, and you will never have to work a day in your life.” Ah tapi kalau ditarik benang merahnya, itu sekali pagi depends on us.

Jawabannya, to be honest, berhenti dikata “time management” dan kata “pilihan”.

Setuju ndak setuju silahkan komentar. Menjawab ndak menjawab ini pandangan saya saja. Kalau berkesan menggurui, saya mohon maaf, ini harusnya memarkomi. Soalnya saya di markom. Marketing komunikasi. Cheers.. 🙏😘

(Gambar diambil dari teaser “WORK RULES” yang ditulis LASZLO BOCK, Senior VP of People Operations di Google. Buku bagus untuk leader jaman now).

Boomerang – Agar Tak Pernah Ada Kata Saling Membenci

Lagu yang paling saya suka di Album Boomerang Disharmoni adalah “Agar Tak Pernah Ada Kata Benci“. Album lama (banget) ini memang. Kalau ndak salah taon 1996 keluar setelah Album KO. Iyah, lagu zombie ini, tetiba saya malah kangen lagu 21 tahun yang lalu ini.. 😂

Liriknya simple. Dan yah itu lagunya pakem rock ballads. Rhytm gitarnya ndak susah. Dan sound lead guitar nya juga ndak rumit. Ndak seperti biasanya “John Paul Ivan” ketika nge-partiture komposisinya. Minimalis agar tetap harmonis. JPI nahan diri. Kelihatannya sih begitu.. 😜

Selanjutnya, Roy Jeconiah juga at his best. Suaranya seperti yang kawan-kawan fahami semua, sengau ndak jelas gitu. Malesnya walau sengau tapi kok yah crunchy. Enak untuk didengerkan sambil pulang kantor sembari menikmati macetnya Polonia Avross menuju Medan Johor.

——

Dan biarkan saja, bunga cinta yang dulu pernah ada// 🌷

Dan tiada berganti, agar tak pernah ada kata saling membenci// 🌷

——

Unuk lengkapnya, silahkan didengarkan sendiri dilayanan “all you can hear” favorit kalian. Apple Music, Spotify, yang pasti ndak disarankan dengerin bajakan. Maju terus musik endonesia. Halah.. ✌️😆

Itu aja guys..

Semangat pagi semua jiwa-jiwa muda yang seumuran saya. Setuju, Boomerang hilang nyawa ketika tuan JPI sama tuan Roy Jeciniah cabs. Ndak gereget. Jadinya band rock kategori average. IMHO. 😅

Anies Baswedan & Istilah Pribumi Non Pribumi

Ah entahlah, gaes..

Pak Anies Baswedan ini adalah favorit saya. Soalnya dia cerdas cendekia, dan dalam berbahasa juga beliau selalu santun. Adem lihatnya.

Heran juga kenapa beliau sampai mengatakan kalimat yang mengkotakkan “pribumi” dan “non-pribumi”, yang beliau sampaikan diawal beliau dilantik kemarin itu. Kalau memang mau kayak negara tetangga malaysia, rasisme etnis dilegalkan saja (affirmative action), dibawa ke ranah undang-undang. 😉

Ah apapun maksudnya beliau guys,

Saya fikir beliau pasti faham segregasi etnis itu ndak benar. Ndak negarawan bangets. Sengaja atau ndak sengaja, dimasa internet zaman now, yang mana orangnya pada lebay-lebay kayak saya, sudah harusnya bapaknya ndak memicu hal-hal yang sensitif.. 🙏😍

Semoga tetap amanah pak.

Ai still lapyu pak. Muachh.. 😘😘

(Gambar diambil ndak izin dari TEMPO)-

You Drown By Staying There

Guys..

Saya setuju sama “Edwin Louis Cole” yang bilang kayak gini:

“You dont drown by falling in the water; you drown by staying there”.

 

drowning.jpg

Analoginya jelas.. 🙏

Yaps, yang buat lara, yang buat nelangsa bukan karena terjatuh dikubangannya. Seringnya yang terasa menyedihkan itu berlarut dikubangan dan ndak mau muv-on guys. Drowning jadinya. Kelelep!

Ndak gampang memang. Perih memang. Akan tetapi baiknya kita keluar dari kubangan. We gotta leave it. Try to forget it. Sekuat tenaga bergerak.

Again, selalu saya ulangi kalau saya terinspirasi sama yang dikatakan “Pramoedya Ananta Toer” sang pujangga kandidat peraih nobel sastra. Beliau bilang ada dua hal yang harus dilakukan untuk menapaki boemi manusia ini:

1. Iqra (membaca)
2. Hijrah (Muv-on)

Apapun bahasanya akan sama dengan gambar yang ada diquotes, duhai para pembaca lini masa.

Then, the last words. Agak aneh kalau membiarkan diri kita diam saja tenggelam dikubangan. Kalau kata “kubangan” refers to “kegagalan”, “cobaan”, atau “masalah” atau apapun namanya itu, then you gotta to move guys. Hijrah. Titik.

#SelfReminder #Reflect
#Jumat #Hijrah #MoveOn

Tabik..

Review Buku: Find Your WHY – Simon Sinek

Oh gaes..

Sama seperti jutaan orang lainnya, saya sangat terinspirasi tuan Simon Sinek. Yaps, siapa yang tidak? ☺️

Kalimat-kalimatnya di TED dan tulisan dibuku-bukunya ambisius membius saya guys. Kalimatnya mengenergikan. Sebagai seorang LEADER wajib untuk stay “enthusiast”, “be positive”, and gotta to understand what “golden circle” means. Kenapa harus dimulai dengan “WHY”. 😉

findyourway.jpg

Oiyah, fyi, digambar buku Simon Sinek terbaru yang ditulis bareng David Mead dan Peter Docker. Mereka bertiga menuliskan how to “FIND YOUR WHY”. Inspiring words yang ditulis & diguide untuk bisa terap-able lah. Saya baru sempat baca, padahal dah dibeli pas lebaran kemarin.

Bukunya mereka bungkus dalam 7 chapters yang compelling ditiap langkahnya. Nyang udah baca buku ini faham kalimat berikut:

Every one of us has a WHY, a deep-seated purpose, cause or belief that is the source of our passion and inspiration.

Coba mengulangi kalimat “alesan kenapa bangon pagi turun ranjang kudu semangat”. Terus pertanyaan “apa yang menjadi motivasi hari-hari menjalani hidup dan tentunya pekerjaan”. Kenapa ndak goyang ketika ditimpa kegagalan. Aha, satu yang paling saya suka “kenapa harus selalu antusias dan positive”.

Yaps guys, saya setuju. Semua orang faham “THE WHAT” point, dan sebagian lagi beruntung faham sampai “THE HOW”. Akan tetapi ini bicara neokorteks, gan. Yang bertanggung jawab sama “bahasa”. Dan kalau bicara “THE WHY” seperti tuan Sinek bilang tentang limbic brains. Dimana “trust”, “loyalties”, & “decision making” berada.

Yah begitulah. Ini lanjutan dari buku “Start With Why”, guys. Nyang mendasar dibuku ini, kita diajarkan how to get our WHY. Kenapa menemukan why itu penting. Sebagai leader, ini buku penting untuk dibaca. Rekomen banget dah.. 😊

Selamat hari minggu jiwa-jiwa yang selalu mencari WHY-nya dimanapun berada! 🙏