John Coltrane — I Want to Speak to Their Souls

Saya ndak gitu kenal John Coltrane. Saya juga baru dengar lagu-lagu beliau yang genrenya jazz itu di youtube. Bener memang, rhytm-nya lumayan membius. Iramanya juga magis.

Akan tetapi bukan musiknya itu yang jadi point saya.

Saya suka sama apa yang dibilang Tn. Coltrane. Sang jenius musik yang milih Sax untuk dijadikan pasangan hidup itu bilang kayak gini, gaes..

“PLAY THE MUSIC, AND I WANT TO SPEAK TO THEIR SOUL”

Kalimatnya itu yang jadi kefikiran. Kefikiran karena niat Tn. Coltrane bermain musik itu membuat iramanya membahana kemana-mana.

Kalimatnya yang bilang “Ketika bermain musik, aku ingin berbicara dengan semua jiwa-jiwa mereka” ini dalem. Menggugah dan menginspirasi.

Ini ngingetkan saya, gaes. Apapun yang kita lakukan dengan tujuan “speak to the soul” ini akan selalu beyond passion. Ndak hanya minat, bakat, persisten, tapi juga spiritual di-combine jadi satu.

Demikian guys. Selamat hari sabtu semua pembaca lini masa. 🙏☺️

#speaktothesoul #johncoltrane #gavinaungthan #creativestruggle #zenpencils

Advertisements

PRESENTER IS A SAILOR

“PRESENTER IS A SAILOR”

Itu yang dibilang bunda “Nancy Duarte” dibukunya “Resonate”. Presenter adalah seorang pelaut yang mengajak para audience berpetualang.

Katanya para pelaut wajib mengenali “The Big Idea” untuk mengajak semua audiences mengikuti journey yang sedang dibawakan.

Soalnya ndak mudah menjadi “pelaut” lho guys. Kebayang kan yah susahnya bagaimana sang presenters memindahkan dari satu persepsi ke persepsi yang diharap.

Ya, You will face what Capt. Haddock (Tintin Series) always said: SEJUTA TOPAN BADAI. Poin saya adalah ini ndak gampang hehe..

Ah, even secara lahiriah you are a story teller, menurut saya, memahami ide besar ini akan berguna bangets untuk dijadikan wawasan tambahan.

Nah, kalau penting lalu apa sih 3 hal yang menjadi ciri dari big pictures-nya guys? Yes, you can see these, gaes:

— A big idea must articulate your unique point of view.

— A big idea must convey what’s at stake.

— A big idea must be a complete sentence.

Yes, orang dateng untuk mendengarkan kita bicara. Karena mereka juga pengen melihat perspektif kita terhadap subjek yang dibawa. Melihat bagaimana enthusiast nya kita memaparkan gagasan. Enthusiast akan menunjukkan takaran berapa orang yang akan follow. Makin tinggi biasanya makin banyak yang akan ikut masuk kedalam kapal.

Oiyah lanjut..

Sebagai contoh judul “NASIB LAUTAN KITA” ini dibilang bunda Duarte sebuah topik biasa; that’s not a big idea. Kurang gede idenya. Akan menjadi besar idenya ketika judulnya diganti menjadi “POLUSI DISELURUH DUNIA MEMBUNUH LAUTAN DAN KITA”. Bandingkan.

Yes, compelling title. It just needs to be your point of view on the subject rather than a generalization. Gitu sih katanya, gaes.

____ end

Kalau punya waktu saya akan sharing “kenapa drama itu penting banget”.

Kenapa story teller wajib tau runutan cerita, dan lainnya. Yah, kayak biasa ndak usah ditunggu soalnya nulis sak sempatnya aja hehe.. 😊

#presenterissailor #nancyduarte #resonate #books #weekend #wiken #goodbook #presenter

Asking Questions – Grant Snider

ASKING QUESTION – GRANT SNIDER

Saya selalu suka bagaimana “Grant Snider” memvisualisasikan ide. Ndak hanya provokatif tapi juga menginspirasi. Yes, berulang kali saya bilang “The Shape of Ideas” salah satu buku favorit saya.

Hehe, entah kenapa, suka ulang-ulang bacanya. Seperti kepanggil kreativitas saya kalau baca bukunya tuan Snider ini guys. Idenya beneran ke-shaping. Halah. ✌️😁

Oiyah, this time, sang artis men-sketch tentang “asking questions”. Penjabarannya jelas dan menjawab pertanyaan itu sendiri.

Bagian yang paling saya suka:

“Bahkan meskipun kau faham pertanyaan yang diajukan, jawabannya bisa jadi mengejutkanmu.” Haha, ini seringnya bener bangets.

And gaes..

Menurut saya contentnya renyah, cerdas, sekaligus jenaka. Cekidot.. 😆

.

Review Buku: The Design Thinking Playbook

Oh gaes..

Buku “The Design Thinking Playbook” ini baru banget. Baru 3 Mei 2018 kemarin dipublish “Wiley”. Saya beli. Biasalah, beli versi Amazon kindle banyak diskon. 😉

Yang membuat saya membeli buku ini karena Michael Lewrick pengarang bukunya ini seperti meresume beberapa buku terkait “design thinking” dan membuatnya menjadi langkah-langkah mudah yang di breakdown jadi terap-able. Gampang dilakukan. Di preambule juga sudah dijelaskan.

Akan tetapi..

Ini mungkin perasaan saya aja kali.. 😅

IMHO bangets, menurut saya cara bertutur Tn. Lewrick terlalu datar. Kalimat yang dipilih juga segendang penarian. Rata air ndak menginspirasi sedikitpun. Kurang menggerakkan. Halah.

Secara tujuan untuk “memvisualkan” design thinking itu apa dapet banget. Soalnya buku ini didukung banyak gambar. Coloring notes untuk takeaways juga buat kita membacanya ndak bosen.

Akan tetapi graphic & visual bagus dibuku ini ndak menolong. Karena, cmiiw, penjelasan Tn. Lewrick ini terlalu panjang lebar dan yeah somehow campur aduk gitu. Ndak runut. Menurut saya buku playbook itu seharusnya menggunakan bahasa yang ringan, kalau bisa jenaka, dan fun. Namanya juga playbook kan yah. ✌️😁

Btw, saya baru sampai di chapter 2.6, how to prepare the organization for a new mindset, masih belum khatam bacanya. Dan ekspektasi saya agak berlebihan dengan chapter ini, ndak jumpa dengan apa yang saya harapkan. Malah saya mikirnya rada ndak nyambung dengan judul besar.

Kebayang bicara “mempersiapkan organisasi dengan mindset baru” harusnya bisa diexplore pakai contoh real. Misalnya kalau Google terlalu mainstream untuk dijadikan contoh, Tn. Lewrick bisa cerita tentang Wegmans atau Brandix. Yah yang real lah sebagai contoh. Bukan hanya nyebut “some organizations” atau “many companies” yang terlalu general. Ndak menggugah. 🙏😂

Oiya, fyi, buku ini hanya ada 3 chapter utama saja, guys. See these:

1# Understand Design Thinking

2# Transform Organization

3# Design The Future

Yes, kalau yang nge-fave sama buku “Value Proposition Design” oleh Osterwalder. Atau “100 things designer needs to know about people” punya Susan Weinschenk yang penuh dengan visual ndak usah terlalu banyak berharap sama buku Tn. Lewrick ini yah gaes. Beda.

Soalnya walau visual nya sama kuatnya, dan juga coloringnya juga sama bagusnya, tapi ndak menginspirasi seperti dua buku dengan visual bagus yang saya sebutkan di atas. Ndak clear karena terlalu panjang dan berbelit. Yah, begitulah.

Sure, there are good things in this book. Untuk kamu yang baru baca buku design thinking (ideation) ini bagus untuk starting point. Penguatan “how to design a program” bagus diceritakan disini. Lagian kurang menarik untuk diceritakan bukan berarti buku ini ndak bermanfaat. Hehe.. 😊🙏

Itu aja gaes. Kalau untuk saya nilai buku ini 3 dari 5 bintang. Lumayan untuk bikin cantik GoodReads list saya wkwkw.. 😆

.

Presentation Zen – Garr Raynolds

Kalimatnya kayak gini..

“No matter how impressive technology becomes in the future, no matter how many features and effects are added, the technology of the soul has not changed.”

Yaps, ndak peduli juga seberapa mengesankannya teknologi presentasi kedepannya. Ndak peduli juga sudah berapa banyak fitur dan efek yang ditambahkan, akan tetapi TEKHNOLOGI JIWA ndak akan pernah berubah guys. Ho-oh, ini bicara UX sebenernya. Yes, what people feel. 😍

Tambahannya lagi, teknologi untuk ngasih presentasi seperti PowerPoint dan Keynote — dan Apps baru seperti Prezi — itu hanya berguna pada tingkat di mana tools itu membuat hal-hal menjadi lebih jelas dan lebih mudah diingat saja.

Intinya apa untuk what so called “teknologi jiwa” yah guys..

Yah maksudnya seberapa bagus teknologinya itu tetap berhenti sebagai “tools” saja. Yang hakiki adalah komunikasi itu sendiri dalam tataran kebutuhan manusia satu ke manusia lainnya. Hablum minannas gitulah. Mantabs Djiwa.. 😆

Btw guys, PRESENTATION ZEN ini salah satu buku favorit saya. Worthed to read-lah. Tuan Garr Raynolds tidak hanya bercerita tentang fungsi saja, tapi dia juga menekankan tentang keindahan, keseimbangan, yang dibaur dalam kesederhanaan.

Remember about “Really Bad Presentation”, yang ditulis tuan Seth Godin 15 tahun yang lalu, guys? Well, hari ini 2018 masih banyak juga orang-orang melakukan kesalahan yang sama. Ndak berubah banyak. Termasuk saya juga lho.. 😅

.

PreOrder The Infinite Game – Simon Sinek

Guys,

Dua hari yang lalu Simon Sinek diakun Instagrammnya @simonsinek meng-announce cover untuk buku barunya yang berjudul: THE INFINITE GAME. Dipersilahkan siapa yang mau belu, tapi preorder untuk buku ini.

Well, malem ini, sembari nunggu dokter saya purchased bukunya. Ini pasti buku bagus, seperti buku tuan Sinek lainnya.

Nah yang ndak diperhatikan tetnyata preordernya sampai tgl 16 Oktober 2018 nanti baru available guys. Biasanya preorder paling lama 3 bulan ini setengah taon. Haha..

Ntar oktober kalau udah auto-delivered akan saya coba review yah. Kayaknya seruw ini. 🙏😁

.