Karakteristik Merek (Brand) – Marketing Komunikasi

Oh guys,

Yaps, sekali ini bicara tentang: BRAND.

Siapapun yang lagi ngebangun “brand” atau “merek” harusnya faham prinsipnya. Supaya ntar nyambung sama “how people see” dan “how people feel” untuk UX diujungnya.

Yah, pada dasarnya yang pertama harus mengenal karakter “brand” atau “merek” itu sendiri. (Okeh, ini berteori, yang mau ngantok silahkan wkwkwk). Actually based on Biel (1997), a brand has 3 characteristics. Saya coba ambil dari luar kedalem yah guys:

1# Augmented (Extrinsic)

Karakter ini sebagian bilang “ekstrinsik”, guys. Nyang mungkin harus difahami ini ngaruhnya ke competitive advantage ndak ngubah fungsi atau karakter inti. Sebagai contohnya: packaging, price, garansi, after sales service, extras (software).

2# Halo (Intrinsic)

Karakter ini adalah aspek yang digambarkan dan digemborkan ke pasar melalui markom (yaiy, this is my job). Ini berkaitan dengan imaji merek. Dan kampanye untuk promosi benefits apa yang didapat dari merek tersebut. Brand personality and Brand Association gitulah woy.

Dan katanya lagi kayak gini: “It is the halo characteristics that consumers use to distinguish one brand from another”. Yes, yang membedakan dikarakter yang ini.

3# Core

Karakter ini bicara tentang karakter fungsional. Ini adalah bagian inti seperti namanya. Sebagai contoh adalah bentuk, tekstur, rasa, performance, dan lainnya. Ini yang akan jati diri brand/merek itu sendiri. Kalau ini dirubah maka impactnya ke generic product atau service yang ditawarkan.

Well nuff said, guys.. 😊

Sebenernya mau nambahkan yang distate tuan Biel (1997) dan yang dicontohkan Prof John Egan guys. Ah tapi sudahlah, kalau faham basic-nya, sudah cukuplah itu untuk memulai nge-launch brand.

Well last words, siapa saja yang sedang coba mengkomunimasikan “brand” dengan “market”, satu yang harus difahami: market as you know it udah berubah. Artinya bisa jadi ndak harus sesuai konten dengan konteksnya. Pasarnya selalu dinamis.

Gitu aja kayaknya, guys.. 🙏😍

.

Advertisements

PreOrder Enlightenment Now – Steven Pinker

Guys..

Baru tak beli ini: “Enlightenment Now: The Case for Reason, Science, Humanism, and Progress”. Yah tapi preorder. Baru tanggal 13 Februari 2018 nanti dikirimkan ke Kindle Apps saya.

Well, Steven Pinker. Sang Professor cerdas berbahasa kekinian dari Harvard ini jaminan mutu. Bukunya pasti bagus ini. Walau di Goodreads banyak antrian currently reading tapi yah wort it to purchase-lah hehe. 😅

Oiyah, tuan Pinker menulis beberapa buku. Etapi saya punya satu doank. Yang tabula rasa (blank slate) itu. Ini buku kayaknya semua orang punya. A very recommended one. Buku ini fokus tentang beda “nurture” dan “nature”.

Okey, itu aja guys. Happy e-Reading semua pembaca lini masa yg berbahagia.. 🙏😁

.

READING IS DANGEROUS

Katanya membaca itu berbahaya. Sebaiknya tidak usah banyak-banyak membaca. Berikut coba dilihat tipe-tipe reading:

1# Heavy Reading

— Ini bahaya guys. Ada orang yang suka membaca dan bahan bacaanya beurat-beurat euy. Ini intelejensi-nya muncrat.

2# Speed Reading

— Hati-hati juga jika tipikal membacanya cepat. Bisa kebablasan. Bisa terlalu banyak informasi yang mengalir. Entah baik entah ndak tapi, yeah rite, too much data will kill you katanya. 😁

3# Over Reading

—Ini ini berle bacanya. Kinda so many books too little times. Atau jenis yang to read too much atau bisa dibilang “excessively”, guys.

4# Accelerated Reading

— membaca setelah ditrigger atau dipaksa wkwk.. Yah, be honest ini kayak kuliah. Ngerjain homework kudu baca jurnal dulu. Kalau ndak diakselerasi dan dipaksa yah nge-blank. Kalau ngarang juga ndak faham yang mau dikarang apa. 😅

5# Proof Reading

— Ini tipikal yang sengaja membaca untuk suatu pembuktian. Untuk satu landasan (dudukan teori) sehingga meng-construct opini atau fakta yang didiskusikan.

For last words..^_^

Yeah rite, MEMBACA ITU BERBAHAYA. Berbahaya karena tentu saja orang yang banyak membaca tidak bisa dijajah tidak bisa dibodoh-bodohi. Gimana mau diaturnya?

Lagi guys, MEMBACA ITU BERBAHAYA. Yoih, berbahaya karena biasanya yang banyak membaca pasti banyak juga bertanya banyak mengkritisi. Ini terlalu banyak membuat derai (noise), ndak buat nyaman kan yah.

— Again, ini sindiran satire yang bagus dari seniman, sang maestro gambar, “Grant Snider” guys. Self reminder for me to keep Iqra. Met hari minggu semua pembaca lini masa yang berbahagia.. 🙏😍

.

Alchemist – The Crystal Merchant & Santiago

Sang penjual pecah belah (The Crystal Merchant) bilang kayak gini:

“The Prophet gave us the Koran, and left us just five obligations to satisfy during our lives. The most important is to believe only in the one true God. The others are to pray five times a day, fast during Ramadan, and be charitable to the poor.”

Sang penjual ndak melanjutkan. Dia diem. Sang pemuda juga diem. Sesaat kemudian Santiago, si pemuda petualang pengembala kambing, melihat sang penjual pecah belah itu malah sesenggukan menangis. Si Pemuda jadi penasaran. Menunggu apa yang menjadi oblogasi kelima?

Soalnya sang penjual pecahbelah menjelaskan bahwasannya Alquran menjelaskan yang nomer satu adalah percaya hanya satu tuhan. Kedua shalat lima waktu, ketiga zakat, dan keempag puasa dibulan ramadhan. Itu aja. Dan yang kelima membuat sang penjual sesenggukan itu apa? What’s become the fifth obligation?

Sang pemida coba diem aja memperhatikan sang penjual pecahbelah larut dalam kesedihannya, dan berharap beliau melanjutkan kalimatnya. Dan yah, ndak lama sang penjual menjelaskan:

“Mecca is a lot farther away than the Pyramids. When I was young, all I wanted to do was put together enough money to start this shop.“

Nah, ternyata sang penjual pecahbelah terharu melihat si pemuda petualang, yang belel dan ndak punya uang sedikitpun itu tapi punya niat kuat ke mesir untuk lihat pyramid. Sang penjual pecahbelah itu kagum beneran kagum.

Si pemuda punya tekad kuat untuk pergi ke pyramid. Kayak ndak tau diri. Uang juga ndak punya. Tapi hal itu yang mengingatkan sang penjual pecahbelah kalau dia dan sipemuda punya niat yang sama. Bedanya dia “hanya berniat” tapi tidak bertekad kuat dan semangat untuk mewujudkan mimpinya untuk pergi ke “MEKAH”. Sementara si pemuda begitu gigihnya.

Satu hal, yang lantas dibisikkan ke hatinya saat itu juga adalah janji: “AKU AKAN PERGI KE MEKAH, seperti yang diperintahkan oleh Alloh”. Seperti tekad si Pemuda.

Ahay guys, pribadi, saya salah satu dari jutaan orang yang terinspirasi sama percakapan Santiago dan Sang Penjual Pecahbelah (Crystal Merchant Owner at the hill). Mengingatkan obligasi ke-5, pergi ke tanah suci. Dan Insha Alloh ndak hanya berhenti di niat saja.

Aaminn.. 🙏☺️

— Percakapan Sang Penjual Pecahbelah dan Si Pemuda Pengembala diambil dari buku “The Alchemist” yang ditulis oleh begawan kata-kata “Paulo Coelho”.

.

Multitasking, Serial Tasking, and Automatic Pilot

Uhm..

Jadi sebenernya secara scientific ndak ada yang namanya “multi tasking”, yang ada adalah tasks yang dikasih “priority”. Variabelnya tentu saja waktu.

Gambarannya. Gitu selesai task-A pindah ke task-B, begitu seterusnya. Yeah rite, ini adalah “serial tasking” yang dilakukan runut based on priority gaes. Concious. Sadar kalau itu pilihan dan by design.

Pertanyaan umumnya adalah kenapa ada dua aktifitas yang bisa dilakukan sekaligus diwaktu yang sama ndak pakai “skala prioritas berurut”. Katakanlah, kita bisa ngobrol sambil menyeruput kopi hangat. Atau misalnya kayak sekarang kita bisa “baca postingan ini” sambil “berjalan” dan juga sambil “ngemil nasi goreng”. Halah.

Well, seperti yang dijelaskan digambar, itu bisa terjadi karena “habits yang berulang” sehingga menjadi “automatic pilot” atau “OTOPILOT”. Kalau secara terminologi neuro-sciencenya ini dimungkinkan karena bagian otak inti basal mengambil alih fungsi cortex. So, we can execute activities without even thingking about them. Ndak pakai mikir.

Jadi yang menjadi catetan apa?

Well, kesimpulannya yah please stop berlagak bisa multi tasking. Karena menurut research malah akan jadi berantakan semua yang sedang dikerjakan. Berantakan guys. Apapun terminologinya. Something that you need to do is one thing: serial tasking. Ahai.. 😉

Dan pertanyaan yang hakiki paling mendasar adalah “seberapa cepat” bisa menyelesaikan task yang diberikan?

Demikian guys. Selamat malam semua pembaca lini masa yang lagi mengemban amanah perusahaan. Inget satu hal, lakukan serial tasking yang diberikan dengan sangat cepat.. ^_^

(Picture taken from “Principles”, a book from Ray Dalio.)

Bye Bye Scoop, Welcome Gramedia Digital

Yeah rite,

Bulan November tahun lalu saya complain ke SCOOP karena Majalah TEMPO & Apple Magazine ndak bisa didownload. Yang buat heran yang jawab kok Gramedia bukan Apps Foundry kayak biasanya. Eh ternyata memang udah siap-siap mau pindah.

Sebenernya memang udah saya duga lama. Sejak taon 2013 kalau ndak salah Gramedia bertransformsi. Salah satu initiative programnya adalah melakukan funding distartup penyedia buku elektronik.

Pilihannya pada saat itu adalah “wayang” dan “scoop”. Mereka niatnya inject 21M ke salahsatunya. Dipilih Scoop karena Wayang dianggap ndak siap. Kalah banyak varian buku dan varian majalah yang kerjasama. Eh btw wayang kayaknya mati suri, entah kemana rimbanya yah? 😆

Ndak faham berapa Gramedia bayar untuk mengakusisi keseluruhan Scoop (soalnya semua logo and brand identity ganti). Nyang pasti 3 hari yang lalu, icon Scoop di iPhone saya berubah menjadi huruf “G” besar warna biru. Iconnya Gramedia Digital.

Well, what a nice move menurut saya. Memang sudah seharusnya ngarah kesana. Jualannya digital. Soalnya kalau ndak gitu bakal mati. Yaps, supaya built to last. Bye bye Scoop, Welcome Gramedia Digital.. ^_^

Happy e-Reading everyone.. 🙏😍

.