Youth Nation By Matt Britton

Pertanyaan cerdas dari buku YouthNation yang buat saya jadi kefikiran.

HOW WE BUILD REMARKABLE BRAND IN YOUTH DRIVEN CULTURE?

Saya fikir apa yang dibilang sama Matt Briton, terkait "shareable experiences" itu TRUE banget. Nyangkut sama kalimat "how to build remarkable brand" kalimat diatas.

Nowadays. Semua brand fokus dalam menciptakan "shareability" dan "virality", to gaining maximum reach. Kalau berhasil kayak api membakar dalam sekam. Cepat, menjalar, dan meluas, melahap sampai habis. Ekuitas merek terkerek naik. End of story.

Lantas, bagaimana kalau gagal?

Well, kalau gagal intropeksinya berarti para salesman dan marketer kurang "mendengar". Kurang aware sama what happening. Bisa jadi terlalu mainstream & obselete. Sehingga banyak program bagus atau activities bagus tapi ndak ada yang berkerumun.

Crowd-nya saja ndak dapet bagaimana berharap produk dibeli anak-anak muda millenials itu? Apa khabar rejuvenate?

Again. It means, as principal we ain't mingled. Ndak baur sehingga buram market yang katanya rapidly change itu. Ndak bisa ngeraba kemana ngarahnya. Oiyah, jangankan membuat demand baru. Coba membaca demand kekinian hari ini saja tertatih. Maksa harus cara yang sama.

Oh dem, I do undertand, it ain't easy to make our brand remarkable. Ndak akan pernah mudah. Ndak usahlah remarkable. Ndak dianggap (perceived) sebagai brand towa atau uzur saja sudah bagus banget.

Hormat saya untuk semua salesman & marketer seantero negeri. Ndak gampang buat brand remarkable. Positifnya untuk itulah kita hadir dibumi ini, kan yah? Halah. 🙏😍

Radical Candor – Kim Scott

2 DIMENSIONS THAT MANAGER SHOULD UNDERSTAND

Menarik menurut saya pemahaman KIM SCOTT, yang nulis buku "Radical Candor". Menarik karena Ibunya mengatakan dua hal (dimensi) saja yang harus dilakukan seorang manager supaya bisa to think & behave like a leader.

Dua dimensi sebelum so called leader "motivating the team" dan ngunggah kata "inspiring" dienvironmentnya. ^_^

1# Care Personally

Nyang menjadi concern saya adalah ini kerjaan gitu lho. Kenapa ndak berhenti di "hubungan professional" saja. Dan kenapa juga kita harus faham kalau semua orang pendekatannya beda. Ndak bisa generalisir itu kuncinya. Investasi waktu sudah pasti.

Katanya: "It ain't enough to care only about people’s ability to perform a job." Nyang lebih mendasar bukan hanya faham kemampuan team apa saja. Mengenali secara personal masing-masihg individu diteam itu yang harus dilakukan.

Kalau bicara membuat tantangan dengan orientasi hasil saya tentu saja setuju. Workin' on it rite now. Akan tetapi peduli secara personal ke team and their environment kok ya aneh. Khawatirnya salah approach jatuhnya bisa kepo berlebih. Jangan sampai dibilang "mind your own business ya boss". Wontuno aja atasannya ini. 😅

In short, in this dimension, sebagai catetan saya. Dalam bekerja kita kudu mampu menciptakan hubungan (relationship) yang erat. Care personally will help you. Mampu berlaku & memperlakukan team layaknya manusia (humanis). Then those numbers (target atau apapun) will yours! ✌️😁

2# Challenge Directly

Selanjutnya, terkait dimensi kedua yaitu "challenge directly" adalah tentang bagaimana mampu terbuka ketika dichallenge langsung. Ndak marah ketika diberikan inputan. Berterima ketika dikasih ide atau saran.

Sederhananya, bersikap "terus terang" atas kesalahan yang dibuat dan "be authentic" ke team ndak semuanya bisa dilakukan.

Memberitahu kalau kerjaan bawahan ndak bagus itu sesuatu hal yang ndak mudah. Seringnya kepancing emosi ndak penting, tereak sana tereak sini. Meledak-ledak. Ini kebawah. Kalau ke atas gimana? Mengkoreksi atasan apa semua berani berterus terang. Dare to choose candor.

Apapun alasannya ngasih tau kalau atasan salah ndak mudah. Ndak akan pernah mudah. Selalu challenging. Selalu dibutuhkan keberanian. Dan yah, ndak semua orang berani. Bencong. Yah termasuk saya juga sih terkadang. ✌️😅

Yah, tapi sekali lagi, bukankah itu memang tugasnya seorang manager atau kewajiban kita as a leader? Sebagian bilangnya, bukankah untuk itulah kita dibayar professionally sebagai manager.. 😂

Yaps, bicara "terbuka" dan "terus terang" sering kali ngebuat ndak enak. Yang ngomong ndak enak, yang diajak bicara kurang lebih sama. Ini yang dibilang Jack Welch ponny tail's meeting. Ngangguk-ngangguk tapi dibelakang malah ngegosip. Bilang "IYA" didepan tapi sebenernya ndak setuju. Basi jadinya kan yah?

Last words guys,

Again seperti yang dituliskan oleh ibu Kim. Speak your mind bukan menjadi kejujuran yang brutal, akan tetapi "keterbukaan" yang selalu bertanggung jawab. Bicara candor tapi tetap santun supaya berterima itulah yang menjadi tantangan. Kalau ndak mampu yah ndak papa, saya juga sama guys, lagi proses belajar.. ✌️😅

Well ndak mudah menjadi manager hari ini. Kemampuan untuk ngebangun kepercayaan dienvironment dengan "candor & authentic" dan sekaligus menjadi humanis itu yang menjadi kunci. Sisanya? Well the rest will follow. Akan ngikut katanya.

Semangat pagi semua leader apapun jabatannya. Remember one thing, manager is a title. If you have any team to managed then you are a manager too.. 🙏😍

#radicalcandor #leadership #manager #candor #berterusterang

Pernah guys..

Iyah, pernah waktu saya sedang ngajari bang Tala, my son 10 yo, pelajaran matematika. Si abang nanya ke saya:

"Pah, abang gak suka belajar sudut-sudut ini, abang sukanya hitung pecahan aja. Bisa gak yah pah besok ujiannya tentang pecahan saja?" Dia nyengir. Saya diem.

Well, saya orang tua yang gamang ini hampir saja marah. Soalnya saya faham ada 6 chapter yang harus dikuasai si abang malem itu untuk bisa menjawab soal-soal ujian besoknya. Kalau dia ndak faham bagaimana dengan nilainya nanti?

AKAN TETAPI, karena saya fikir anak-anak ndak bisa dipaksa jadinya saya coba senyum. Urung untuk marah. Saya jadinya malah teringet sama meme nyindir sistem pendidikan dimana gambarnya "ikan diminta untuk manjat". Bukan kemampuannya malah dipaksa. Absurd. 😍

Kefikiran. Benar memang seperti yang disampaikan dibanyak kajian, dari dini sudah harus diajarkan apa yang menjadi minat anak. Bahkan saya perhatikan banyak asuransi buat demo gratis mendeteksi minat anak dengan "finger print analysis". Biar kebaca dari kecil ini anak minatnya apa.

Saya setuju dengan mengawal bakat anak. Dan saya juga punya pemikiran semua anak harus belajar semuanya diawal. Dia harus punya basic knowledge yang kuat supaya nanti mendukung minat & bakatnya tadi.

Yang jangan itu adalah "memaksakan" si anak harus apa. Kita sebagai orang tuanya mengarahkan sih boleh saja, soal nanti pilihan anaknya itu apa yah diserahkan ke anaknya. Akan tetapi keilmuan dasar-nya sudah dipersiapkan dengan mateng.

Yah, apapunlah guys. Walau saya dan istri belajar sebagai orang tua-nya masih pakai sistem tambal sulam (kadang masih sering salah juga) TAPI seperti orang tua lainnya selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk anak-anak.

That's all parents. SELAMAT HARI ANAK SEMUANYA. Semoga faham kalimat Gibran "Anakmu bukanlah anakmu". Anak kita bukan milik kita, mereka adalah jiwa-jiwa milik masa depan. Demikian. 🙏😍

RIP – Chester Bennington

Album Linkin Park semuanya saya suka. Lagunya yang membahana, yang buat "Chester Bennington" sampai keluar urat leher ketika bertereak "SOMEWHERE I BELONG" itu yang paling seksi sungguh.

Ketika dia berteriak jadinya seperti disemangati. Hati ini kayak dibakar. Lebay yah kayaknya tapi just listen yourself, dengan desibel yang pas seperti dialirkan adrenaline tambahan. Buat kita berani. Membuat ketakutan sirna. Membuat yang ndak bisa kok kayaknya bisa.

I wanna heal, I wanna feel..

Like I'm close to something real

I wanna find something

I've wanted all along..

SOMEWHERE I BELONG!

Walau saya sangat menyesalkan karena pilihannya "suicide". Sama jijiknya lihat tuan Kurt Cobain sebenernya. TAPI ndak bisa dipungkiri kalau irama, nada, teriakan, dan kata-kata dilagu tuan Bennington & kawan-kawan LP menginspirasi saya. Menimbulkan kreatifitas diapapun yang saya kerjakan.

Rest In Peace tuan Bennington. Dimanapun you are belong tuan, LP will never be the same. Dengan segala hasil kreatifitas yang didorong sama suara tuan yang gereget banget, izinkan saya berduka cita dan menjura hormat.

#RIPChesterBenningtom
#Respect #LinkinPark

OPTION B – Sheryl Sandberg


Guys..

Pas lagi ngubek-ngubek kindle, dikasih suggestion buku Sheryl Sandberg. The latest one.

Saya sempat bingung. Ini buku berbeda dengan harapan saya diawal. Persepsinya ini buku tentang prioritas, how to make hard decisions, how to lead team, dan sejenisnya-lah. πŸ˜‚

Buku ini sedikit banyak bercerita tentang Dave Goldberg. Suami bunda Sandberg, ex-CEO Survey Monkey yang meninggal mendadak tahun lalu.

Kalimat “Facing Adversity, Building Resilience, & Finding Joy” yang menjadi slogan menjadi gambaran buku ini. Berkisah betapa beratnya hidup dijalani ketika sendirian tanpa suami. Memballance-kan work & life yang ndak pernah ballance-ballance itu harus bagaimana? πŸ˜‚

Secara personal (juga pekerja) yang ditimpa musibah ya memang harus segera bangun. Melakukan kesalahan karena lagi tidak siap manusiawi. Berani mengaku ketika “do mistakes” karena membaurnya antara personal life dan pekerjaan itu yang harus dilakukan. Yaps, fokus ke solusinya daripada berkutat dimasalahnya.

Bunda Sheryl Sandberg juga bilang gambaran organisasi yang tangguh (a resilient one) adalah organisasi yang memiliki budaya meng-encourage individuals yang ketimpa musibah ataupun orang-orang yang melakukan kesalahan karena musibah itu, apapun bentuknya.

Well, nuff said, Sheryl Sanberg juara. Walau sempat galau. Leader para technocrat ini harus mampu fast recovery. Dan semua aktifitas, ide, juga kegiatan untuk recovery yang dilakukan sang bunda, menurut saya menginspirasi. 

Salam! πŸ™β˜ΊοΈ

Currently Reading – GoodReads


Guys..

Di aplikasi GoodReads saya, ada 79 buku yang antri duduk manis untuk dibaca. Haha, numpuk. Terlalu ambisius memang kalau pakai prinsipnya Hemmingway. The exhilarating sometimes terrifying meh. Oh dem, true banget. πŸ˜…

Sederhana memang kalimat persuasif yang bilang “if you can read 3-4 books per-month, then you gotta to purchase 8, twice”. Ini jatohnya palingan 5 or less yang kebaca, ndak heran reading list numpuk. Ada yang carryover dari tahun lalu. Haha, matek! πŸ˜‚

Banyak yang bilang “semakin banyak membaca, semakin banyak yang lupa”. Atau sinikal banyak yang khawatir akan jadi “terlalu teoritis, malah lupa eksekusi”. Haish, I’m not that kind of person. Harusnya semua faham kalimat 4E’s nya tuan Jack Welch sang CEO legend yang udah mendefine jelas untuk ini. πŸ™β˜ΊοΈ

Ah entahlah, kadang juga saya ndak faham yang dibaca tentang apa. Sering juga malah kerasa makin “empty” atau ngeblank ini buku ngebahas apa. Haha, tersesat dichapter-chapter tak bertuan. Halah. πŸ˜‚

Makanya beberapa kali hal yang menarik dari buku itu saya tuliskan. Bukan hanya untuk “BERBAGI” saja lho guys. Ini supaya saya-nya juga belajar dan faham. Katanya lagi guys: IKATLAH ILMU DENGAN MENULISKANNYA. 

Yah, walau ndak teriket semua, minimalnya nyantol dikitlah. Dikit aja udah cukup daripada ndak ada yang nyangkut. Gitu kayaknya, ini postingan gaya thok, jadi sebaiknya ndak usah dikomentari haha ^_^

We Must Move From Numbers Keeping Scores!


Oh guys, 

Apapaun ukuran yang dipakai, ghalibnya, “data” dan “experiences” adalah kuncinya. Ndak bisa dipisahkan kayak konseptual YIN & YANG. Keseimbangan yang harus ditapaki semua marketer digital.

Kebayang gini, ndak usahlah risau bayangin yang aneh-aneh. Bicara apapun trendnya selalu “data is where you start” dan kalimat tambahannya “experience is where you end“. Dimulai dari data dan berujung ke experiences. In the name of “enhancing the Customer Journey”. 

Haha sounds simple, rite? Plain banget kayaknya. Believe meh, it always hard to implement. Butuh konsistensi. Kalau hanya bisa bacot saja kayak saya mah gampang guys wkwkwk.. βœŒοΈπŸ˜‚

Again. Dan itu kenapa David Walmsley, sang head of multichannel, begawan distribusi Marks & Spencer bilang:

“We must move from numbers keeping score to numbers that drive better actions”.

Soalnya bauran pemasaran (marketing mix) dinafas transformasi digital kalimat “numbers keeping score” seringkali ndak lama. Cenderung instan malah. Beda kalau yang disasar adalah kalimat “numbers that drive better actions”. 

Kalimat terakhir “angka untuk aksi yang lebih baik” sejatinya para pemasar digital harus fahami dan lakukan. Soalnya cenderung long lasting. Dan iyah setuju. Ngebangun fundamental pastinya ndak gampang. Ndak kayak makan opor lebaran yang bisa dipastikan ada minggu ini ditiap pintu rumah.. 

Haha, selamat idul fitri day-3 semua penjaja digital. Iyah, ini saya agak lebar-an (badannya) beneran deh guys.. πŸ™πŸ˜‚