Project A9 Amazon Dan Google

Adalah “project A9” atau “The Eve Project” yang sempat buat Google grogi, gaes.

Kejadiannya dimulai dipenghujung 2003, ketika Udi Manber dan Jeff Holden mengidekan membuat search engines saingan Google.

Project A9, atau stenografi “Algorithms” kalau istilah tuan Bezos, adalah sebuah project membuat mesin pencari untuk indexing milyaran produk Amazon. Sebenernya banyak technopreneur melakukan hal yang sama. Maksudnya membuat algorithma pencari untuk menyaingi Google.

Well, akan tetapi ini Amazon lho. Dibelakangnya ada tuan Bezos sang innovator bertampang goofy face. Dan Udi Manber sang pendekar algorithma bersama mereka. Jadi sangat beralasan banget para petinggi Mountain View panik ketika Amazon nge-publish kalau mereka lagi ngerangkai algortihma pencari.

Lagian, beritanya santer banget kalau A9 ini ndak hanya mesin pinter yang mempercepat indexing miliaran item Amazon tapi juga diperkirakan mampu mengcrawling sak ziliyon meleyon resources diinternet. Lebih rakus dan lebih efektif querynya daripada engine-nya Google. Gitu sih katanya.

Yah, mungkin bluffing tuan Bezos saja guys, tapi bagaimana kalau ini beneran.

Tuan Schmidt, sang CEO legend, tentu saja mengeluarkan jurus yang common: BELI A9 AT ANY COST. Kebiasaan jelek google memang, membeli apapun yang mengganggu market mereka. But, hey you know Bezos well. Bukan uang yang jadi sasaran sang rubah tua itu.

THEN WHAT GOOGLE’S DO

Yes, they walk another path, still, a very simple plan. Mereka merayu engineer yang jadi lead project A9 untuk bergabung ke Google. Hehe, A9 ndak dijual enjinier nya sekuat tenaga dibajak. Udi Manber yang paling utama diajak.

In short, awalnya tuan Manber dan para lead enginer menolak karena responsible to their team juga karena idealisme (yang ndak dijelaskan maksudnya apa). Akan tetapi ketika suatu malem duo founder Larry Page & Sergey Brin menyempatkan makan malem bareng mereka dengan beberapa tawaran, para lead engineer yang megang kunci baris koding A9 pun luluh.

In one bright shiny morning, those A9 engineers parked their cars at Google. Yes, for free offcourse. Kalau di Amazon selain jam kerjanya luar biasa wagelaseh, parkir untuk karyawan juga bayar. Ndak usah ngarep dapet free snack di Amazon. Semuanya punya price tags.

AT THE END GUYS.

To make long story short..

Ide pembuatan search engines dengan perhitungan komputasi canggih itu, yang sempat buat google galau gundah gulana, akhirnya UNFINISHED. Sebenernya selesai juga sih tapi ndak seheboh yang digembar-gemborkan tuan Bezos. Ahoy matey, Mountain View stay do the same business while Palo Alto kudu nyimpen mimpinya.

TERUS INTI CERITA INI APA SIH?

Awalnya saya mau ceritakan antara Google dan Amazon sangat jauh berbeda dalam memperlakukan karyawannya. Itu kenapa para engineers itu pindah. Sehingga outputnya juga ngaruh. But that’s not my point. Kalau tentang “how to treat your employee well” sama impactnya sih you guys udah faham bangets.

Nyang mau saya ceritakan adalah..

Sewaktu baca “Chapter-7 A Technology Company, Not a Retailer” buku “The Everything Store: Jeff Bezos” yang kefikiran saya malah KENAPALAH ITU PARA INSINYUR KOMPUTER PADA MANDAH. Kebujuk rayuan duo founder Google.

Oh you duo founder dem yu.. 😂

Bukan saya ndak percaya sama “Do No Evil” mereka. Bukan juga karena saya sering ketuker yang mana Sundar Pichai dan yang mana Satya Nadella, bukan itu lho guys.

Akan tetapi menurut saya Google sudah sangat keterlampauan banget dominasinya. Hari ini ndak punya saingan blast mereka. Environment yang dibangun mereka ngikat banget. Buat nyaman tingkat dewa. Dan ini agak bahaya menurut saya.

Once Google failed megang prinsipnya, then kejadian kayak facebook nabrak privacy.

Again, poin saya adalah: Seandainya A9 selesai semewah dan secadas yang dibilang tuan Bezos, hari ini kita akan punya pilihan. Ndak penting sih, tapi psikologisya semua orang suka diberi pilihan.

Pilihan itu kayak gini. Dimana semua heboh main Mobile Legend lalu dipojokan sana mainnya AoV. Teros itu disebelahnya main PUBG, noh diujung malah Lineage Revolution2 anteng aja. Kalau yang ML rese’ kan bisa ganti games.

Pilihan itu misalnya lagi kayak gini. Boleh aja ndak suka Sama BTS dan bilang mereka benconk, kan tinggal ngeplaylist EXO yang lebih jantan. Atau BigBang sih hasek juga. Etapih, sebenernya sama aja sih yah. Soalnya sama-sama cantik mereka itu semua menurut saya wkwkw..

*siap2 digebuk fans BTS, EXO, BigBang

Last, tbh guys, saya seneng banget pakai Google product. HOW THE WORLD BE WITHOUT GOOGLE? Saya ndak bisa kebayang, gaes. Dan pertanyaanya lagi, HOW ABOUT IF GOOGLE BETRAY US? Ini saya lebih ndak kebayang lagi, gaes! 😭

Selamat berpuasa semuanya!

Terimakasih banget udah baca sampai bawah ini lho guys. Panjang sualnyah..✌️😆

Abdi J. Putra — ABIE

*Yeah, your friendly neighbourhood

#Google #A9 #Amazon #Booms

#TheEverythingStore #JeffBezos

#UdiManber #Algorithma

Advertisements

Apple & Valve: A Dream Gaming Collaboration

APPLE & VALVE: “A dream gaming collaboration”.

Suka sama berita ini gaes.. ^_^

Seperti yang kita fahami, Apple merevolusi gaming dilingkungan mobile. While Steam has done a similar for gaming on the Mac & PC. Yups, ini Steam yang dipakai bang tala dan dek agi pas mau main games di Lenovo bukan masakan..😅

Fyi, Steam dikembangkan Valve Corp.

Ide besarnya mereka sederhana: Mengizinkan para gamers untuk streaming bermain konten games yang ada di Mac atau PC, melalui ethernet atau pakai 5GHz wireless network.

In short, aplikasinya ini akan menjembatani para pemain game lingkungan windows untuk bermain diplatform iOS begitu juga harapan sebaliknya.

—————

Last, apapun bentuk kerjasamanya, ntar kita lihat siapa yang mampu mendatagkan kerumunan yang lebih ramai. Apakah mutual sama-sama dapet keuntungan (a dream gaming collaboration). Or else, yang satu untung sementara satunya lagi “Zonk”.

Tabik.

Hepi fasting eperiwan!

.

Corporate Culture: Google!

Oh gaes..

Kalau sengaja googling “Culture of Google” atau “Google Office” yang ditampilkan dipekiwan adalah bagaimana senengnya karyawan google sepedaan, lagi coding di “bean bags”, dipojokkan ada “lava lamp”, dan ruangan dominasi warna warni.

Yang disayangkan tuan Laszlo Bock, EVP Human Operations Google, adalah asumsi kalau itulah budaya perusahaan mereka. Padahal bukan itu intinya. Sayangnya. Banyak perusahaan kekinian yang meniru dan berhenti di bean bags, lava lamp, dan warna warni ruangan kantornya saja.

Those things are not the point,

Not even close! 😆

Adalah Stacy Sullivan, Chief of Culture Officer Google, bersama Laszlo Bock yang memdefinisikan aspek dari google corporate culture. Mereka mendapat masukkan dari banyak sumber seperti: brandix, costco, wegman, edward jones, and inspiring company lainnya.

Ada 3 aspek budaya di Google. Yeah, ketiga perspektif yang membahana menurut saya.

1# Find a compelling mission

2# Being transparent

3# Giving our people voice

Bagian yang paling menarik supaya bisa pragmatis (praktis & bermanfaat) untuk ketiga hal tersebut adalah “Do unto others as you would have them do unto you”. Yah, kalimat yang common yang sering kita dengar lho ini: “Perlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan.” Hasek.

Gitu aja kayaknya, gaes!

Tabik.. 😉

#googleculture #corporateculture

#workrules #laszlobock #stacysullivan

.

10 SIMPLE RULES – By Laszlo Bock

Kemarin diminta HCM sharing ke para agent of change Area Sumatera. Para agent ini sengaja dibentuk untuk menghembuskan “corporate culture” dilingkungan mereka. Program bagus menurut saya. Menularkan value-value positif.

Karena ini ngomongin tentang culture dipekerjaan, saya fikir buku “Work Rules” yang ditulis former Executive Vice President People Operations Google, Laszlo Bock, akan bagus untuk difahami bersama.

To make long story short, ada 10 aturan yang disimpulkan tuan Laszlo yang katanya penting untuk diterapkan diperusahaan atau organisasi hari ini. Dus, aturan-aturan ini dipercaya akan mengubah bagaimana kita menjalani hidup dan bagaimana kita memimpin dipekerjaan. Berikut guys:

#1. Give your work meaning

#2. Trust your people

#3. Hire people who are better than you

#4. Don’t confuse people development with managing performance

#5. Focus on the worst and the best (the two tails)

#6. Be frugal and generous

#7. Pay “unfairly”

#8. Nudge

#9. Manage the rising expectations

#10. Enjoy! Then go back to No.1 and start again

See #10 guys. YES. Apapun yang dilakukan, kita jangan lupa untuk menikmatinya. Jangan lupa kata FUN supaya tetap bisa ENJOY kan yah.. ^_^

Well, banyak hal yang menarik seputaran Corporate Culture Google yang saya coba share sesuai penuturan tuan Laszlo. Banyak yang angguk-angguk gitu kemarin gaes. Ndak faham mereka itu pada setuju atau pada ngantok. Kayaknya sih pada ngantok yah kwwkwk.. ✌️😂

Oiyah, kalau googling “Google Culture” akan kelihatan bean bags, lava lamp, atau free snacks untuk para Googlers. Dan kelihatan “seolah-olah” budaya perusahaan mereka yah itu. Eng, sebenernya bukan itu sih inti dari culture Google. Lebih dalem lagi, lebih nyentuh ke employeenya.

Next aja kali yah, saya akan share apa yang didefinisikan oleh Laszlo Bock terkait aspek apa aja yang mendefinisikan “Google Culture” sehingga sampai hari ini masih “megang” banget.

Tabik,

ABIE || @abepoetra

.

About People – A Story From Google

Ini ceritanya sehari sebelum Google IPO, 19 Agustus 2004. Yaps, sekitar 15 tahun yang lalu.

Malem itu Sergey & Larry sengaja memberi surat prospektus tambahan untuk para investors. Sebenernya notes atau surat ini ndak penting kalau diistilah kepemilikan, tapi bagi duo founders ini malah sangat penting.

Surat itu sebagai pernyataan sikap bahwa 1.907 karyawan mereka saat itu “do matter” banget. Maha penting dari semua asset. Itu kenapa mereka berdua maksa catetan itu harus dibacakan ketika diskusi final.

Saya ndak kutip semuanya, tapi penggalan kalimat mereka ini menginspirasi saya:

________

“Our employees, who have named themselves Googlers, are everything.

Google is organized around the ability to attract and leverage the talent of exceptional technologists and business people.

We have been lucky to recruit many creative, principled and hard working stars. We hope to recruit many more in the future. We will reward and treat them well.”

________

Yah, mereka bilang singkatnya kaya gini guys:

“Duhai para investors, sebelum kalian berinvestasi diperusahaan ini please difahami kalau karyawan kami (Googlers) adalah segalanya bagi perusahaan ini.”

Yah, demikianlah. Penggalan kalimat yang ditulis oleh duo founders itu membuat semua morale Googlers went up. Membuat para karyawan pada saat itu (2004) mengerti kalau mereka tidak sedang dijual. Membuat para Googlers firm kalau mereka tetap bisa berkreasi dan berinovasi kapan saja.

Yeah rite guys..

Kalau hari ini kawan-kawan semuanya adalah seorang leader yang punya orang-orang yang bekerja untuk tujuan bersama, cerita Duo founder Google ini harusnya punya tempat.

Last words..

Saya suka yang dibilang Jack Welch “Before you are a leader, success is all about growing yourself. When you become a leader, success is all about growing others”. Yes, ini bukan tentang kita lagi, tapi tentang orang-orang yang kita lead.

Tabik.

Abdi J. Putra — ABIE

Add my IG here: @abepoetra

Leadership: Your Action Define Your Impact

Saya suka sama campaign #YouMatter guys. Karena seharusnya memang if you are a leader then you should understand that all people is matter. Ini bicara tentang leadership. Semua orang adalah penting.

Then, kalau all people matter, what should leaders do? Apa sih yang harus dilakukan leaders kekinian? ☺️

Well, saya ndak gitu faham juga gaes. But have you ever read about 4E’s and 1P punya Jack Welch. Yes gaes, salah satunya adalah “Energize Others”. Tuan Welch bilang sebagai leaders harus punya kemampuan meng-energikan. Apakah itu bawahannya, atasannya, juga athmospherenya.

Dalam kata lain memberikan semangat. Do you brighten up your co-worker’s mood? Or do co-coworkers feel down after interacting with you? Susah nge-jawabnya. Ini aselinya self reflect lho.. 😂

Nah, malesnya memberi semangat ke orang lain itu kitanya harus punya semangat dulu. Iya donk. Sama kayak harus membahagiakan orang lain yah harus bahagia dulu. How come you can energize others, motivate them, while kita sendiri masih gamang didalem. ✌️😂

Oiyah, back to pict. Dalam hal ini leaders didalam suatu organisai seharusnya punya ruang untuk menyemangati circle-nya atas & bawah dalam hal mendapatkan positif impact. Karena defaultnya “YOUR ACTIONS, DEFINE YOUR IMPACTS” ini bisa sama-sama diarahkan.

Gitu sih katanya guys..

Hepi wiken duhai kalian yang do care banget sama people, iyah kalian, kalian yang mampu memberikan impact positive dienvironment tempat kalian bekerja. Yes, Adam Grant bilang kalian itu “Givers”.

#YouDoMatters

#KamuPentingKamuPenting

#SelfReflects 🙏😆

Be Brave & Start Over Again

Sketch ini mengingatkan saya sama satu hal yang harusnya dilakukan semua orang: BE BRAVE ENOUGH TO MAKE MISTAKES. Atau menjadi berani untuk berbuat salah. Saya sendiri sebenernya sama. Bencong. Banyak ndak beraninya untuk sesuatu yang baru.

And gaes. Berani sebenernya bukan menghilangkan rasa takut itu sendiri, akan tetapi malah harus merasakannya sampai ke sumsum dan membuat gemetar. Memikirkannya kedalam sanubari sehingga takut sungguh takut. Cemas sungguh cemas. Khawatir pastinya khawatir.

Setelah phase menikmati ketakutan dilewati, kata tuan Mark Manson (The Subtle Art Not Giving a F*ck), bisanya kita malah bisa firm mengukur konsekuensi yang dihadapi. Dan biasanya ternyata tidak seseram yang dibayangkan. Solusinya hanya sesimple memeluknya dan mengakui kalau kita takut.

Ah tapi, eventhough everything goes wrong, sebenernya hanya satu hal saja yang harus dilakukan. Seperti sketch tuan Snider itu:

“JUST TAKE OUT A BLANK PAGE AND START OVER AGAIN.”

Demikian kayaknya guys. Semoga kita menjadi pribadi-pribadi yang berani berbuat walah kadang salah. Daripada ndak berfaedah menunggu then do nothing, better do something.

Selamat hari senin semuanya. 🙏

#selfreminding #reflect

.