Hungan Antara Fokus, Usaha, dan Performansi

HUBUNGAN ANTARA FOKUS, USAHA, DAN PERFORMANSI

Kalau ngelihat kategori analisa regresi (sebab-akibat) digambar atas, to be honest, saya akui bahwa saya sering masuk dalam kelompok “berbuat lebih banyak, kemudian stress“. Haha apes memang. Fokusnya ndak dapet, effortnya tinggi, dan performance nya kategori biasa-biasa aja. 😅

Dan yang buat wowing lagi, terkadang ini dilakukan biar “kelihatan kerja”. Kerja terus sebanyak-banyaknya, padahal malah ketika “do more then stress” ndak satupun yang mampu diselesaikan dengan baik. Ndak tuntas malah.

Yeah rite, saya faham katanya kerja itu cari duit, bukan cari muka. Ini kalimat sarkas tapi kadang saya fikir bener bangets. Ini harus saya sebutkan selalu dalem hati.. 😂

Positifnya sih kalau mampu mengerjakan semuanya ya bagus. Akan tetapi kalau ndak mampu mending balik kanan ngerjakan tasks BAU dan meningkatkan value dikualitasnya, gaes. Dikasih 4 kerjaan, jangan mikir ngerjakan 6 tasks atau 8 tasks kalau yang 4 aja kategori STD. Mau maksa ngerjain yang lain? Yakinlah, ini malah akan mengecewakan banyak pihak.

Lagian guys, we have the same 24 hours, rite? Sama-sama punya 24 jam yang sama kan yah. Kecuali jatah jam-nya ada yang sehari 28 jam, nah ini bisa jadi do some extra works for the rest (4 hours).

Hehe, sederhana aja kok. Kerjakan tasks BAU, fokus, fight for it, create much values there, baru nge-jump ke extra tasks.

Agak beda memang jadinya. Katanya: “Instead of asking how many tasks you can tackle given your working hours, ask how many you can ditch given what you must do to excel”. Haha, efektif dan fokus.

Back to the pictures. As you can see, kategori yang paling baik adalah “DO LESS, THEN OBSESS”. Yah, contoh Tn. Jiro Ono yang saya share kemarin misalnya. Oiyah, saya juga ndak dikelompok yang terbaik itu guys, masih mau mencoba kesana lah ini. Kalau mampu kwkwkw..

Hepi wiken eperiwan..

*fokus, effort, dan performance.. ✌️😁

.

Advertisements

Berharap Bukanlah Strategi

Ini agak sarkas, nyindir banget.. 🙏😆

Menurut saya, apa yang dibilang Chris Bradley, senior partner of McKinsey & Company, adalah realitas. Kalimatnya:

“BERHARAP BUKANLAH SEBUAH STRATEGY”.

Asem memang tapi apa adanya, gaes. Bicara strategi adalah hal yang nyata dan realistis. Ndak bisa bicara “eh itu ada peluang” dan berhenti disitu saja. Maksudnya berhenti di “tahu ada peluang” saja dan selanjutnya do nothing.

Jika merasa menemukan peluang (opportunities), baiknya dikalkulasi dengan benar berapa peluangnya. Ndak usah ragu juga ngitung effortnya. Sampai firm bener “peluang” dan “effort” berkebalikan kurvanya. Maksudnya ketika si peluang besar dan si effort ndak ikut-ikutan besar. Common knowledge-lah ini yah guys.

Ada beberapa hal yang disharing oleh Tn. Chris Bradley, agar ndak jatuh dikata “berharap” saja. Soalnya, again and again, berharap itu bukan strategy. Berikut gambarannya guys:

1# Don’t waste a strong trend

2# Reward noble failure

3# Revamp the approach to M&A

4# Check that your big move is big enough

5# Tackle the challenge of sticky resources

6# Ensure the strategy room is like a kitchen with the right menu

Dan sebagai penutup Tn. Bradley berpesan: you gotta to believe that hope is not a strategy. Ndak usah berhalu-halu siang bolong gini berharap dowank. Gali. Pastikan ada cahaya disana.

Oiya. Kalau mau baca detail kalimat nyindirnya Tn. Bradley, you can read here:

https://www.mckinsey.com/business-functions/strategy-and-corporate-finance/our-insights/the-strategy-and-corporate-finance-blog/hope-is-not-a-strategy

Demikian gaes, selamat berbuat sesuatu yang owhsem kawan-kawan semua. Ingetlah selalu ndak usah banyak-banyak berharap, mending gali dalem. Ndak worth it ya tinggalkan. Kalau cucok, bungkus!

Salam olahraga semuanya..

— Sekarang, jangan tunggu besok. 🙏😍

JIRO ONO: LAKUKAN SEDIKIT & TEROBSESILAH

Selama lima puluh tahun terakhir, Tn. Jiro Ono, 91 years old, mengoperasikan kedai sushi Sukiyabashi Jiro. Lokasinya terselip di bawah jembatan di stasiun kereta bawah tanah di Tokyo.

Menuju kedai sushi Sukiyabashi Anda akan melihat didepannya pintu kayu terbuka, jalan lurus ke arah koridor sempit yang menyerupai gudang. Yes, begitu masuk Anda mungkin juga kecewa karena tak ada kertas menu satupun disana. Tn. Jiro Ono menyajikan persis 20 jenis sushi kepada sepuluh seat tamu yang duduk di depan dia biasanya meracik fresh sushi.

Ditempat itu ndak ada koktail pendahuluan, ndak ada tempura, dan yah tanpa lauk. Plain banget. Oh iyah, kamar mandi ada di koridor kereta bawah tanah, yah itu, numpang di toilet umum. Sounds like a recipe for failure. Ini failed banget kelihatanya, gaes.. 😅

Akan tetapi malah sebaliknya. Tn. Jiro Ono direcognize sebagai koki sushi terbaik di dunia guys. Menyandang peringkat mutakhir tiga bintang Michelin (Michelin Star itu kayak Piala Oscar didunia kuliner, penghargaan yang ambisius dan prestisius). Beliau ini sudah dianggap bintangnya para chef.

Yah, beliau telah mengabadikan hidupnya untuk menyiapkan dua puluh buah sushi saja. Dan memilih set kecil (menyajikan 20 jenis sushi) ini bukan suatu hal yang membuatnya berbeda. Apa yang membuat Tn. Jiro Ono berbeda?

Seperti yang diceritakan Tn. Morten Hansen dibukunya “Great at Work: How Top Performers Work Less & Achieve More” yang membuat beda adalah bagaimana fokusnya Tn. Jiro Ono. Sampai-sampai yah kita tau film dokumenter “Jiro Dreams of Sushi” dibuat dan jadi panutan seluruh chef sepenjuru bumi ini.

HOW TO PREPARE THE BEST SUSHI IN THE WORLD

Coba saya ceritakan sedikit bagaimana Tn. Jiro Ono mempersiapkan sushi sebelum buka toko setiap hari gaes.

Di pagi hari, putranya yang paling besar, yang telah dilatih ayahnya selama tiga puluh tahun, pergi ke pasar ikan untuk memilih satu buah tuna yang paling unggul. Sang anak ditugaskan untuk memilih tuna (dan bahan lain) yang terbaik dari seluruh pasar. Wajib yang terbaik. Pesan sang ayah, kalau tidak nemu satu potong ikan tuna terbaik, lebih baik ndak usah belanja. Ndak usah menghidangkan tuna dimenu hari itu.

Yah, again and again. Bagaimana Anda bisa menyajikan sushi superior jika Anda tidak memiliki satu pun potongan ikan terbaik? Dan untuk tugas utama membeli bahan diberikan ke putranya yang sudah dididiknya sendiri selama 30 tahun.

Fokus yang sama ketika menyiapkan gurita. Tn. Jiro mengajarkan untuk memijat gurita dengan tangan secara perlahan.

Ini bagian untuk memastikan sendiri tingkat kelembutannya sudah memadai. Berapa lama pijatan dilakukan? Tn. Jiro biasanya mencontohkan minimal pujatan sekitar 30 menit, bahkan untuk baby octopus puncak kelembutan akan dicapai ketika dipijat tangan selama 40–50 menit. Dan untuk tugas ini, biasanya diberikan ke chef yang lagi magang (yang bekerja di resto Tn. Jiro).

Chef magang yang lain, ada 8 orang, selama 10 tahun bekerja hanya diperkenankan mencuci dan menyiapkan ikan saja. Dan kalau lulus sehingga barulah dapet peran tambahan mempersiapkan sushi omelet. Dan untuk tahapan ini juga Tn. Jiro meminta chef magang untuk memasak 200 telur dadar (iyah, 200 ndak kelebihan nol), sebelum sang chef magang diizinkan untuk menyiapkan satu paket sushi yang disajikan kepada pelanggan. See that, ini dilakukan berulang selama puluhan tahun. 😅

Yah seperti itu yang diceritakan Tn. Hansen juga dibukunya. Ketika Anda hanya membuat dua puluh jenis sushi, Anda akan terobsesi dengan semuanya.

Ketika Anda fokus melakukan hal yang sedikit dan jadi terobsesi, keduapuluh jenis sushi itu akan menjadi duapuluh bagian materpiece yang lezat. Tn. Jiro Ono menyalurkan seluruh energinya ke masing-masing jenis sushi. Dan well, ohsem banget, beliau menghabiskan waktu seumur hidup untuk menyempurnakannya. Respect.

SEBAGAI TAKEAWAYS

Obsessed (keinginan kuat) untuk menjadi yang paling unggul itu wajib fokus. Dan ini bisa diterapkan dalam berbagai bentuk pekerjaan, tergantung pada bidang apa kita gawenya gaes. Melakukan sedikit misalnya hanya 20 jenis sushi yang dipilih dari ratusan bahan sushi yang berbeda. Kemudian terobsesi bertahun-tahun untuk menjadikan sempurna sehingga label “GREAT WORKS” didapet.

Sarannya sih: DO LESS, then OBSESS.

Misalnya lagi gini. Jika kita adalah salesman panci. Kita wajib faham karakter dan value panci yang akan dijual, khatam kilogramnya berapa sehingga kita bisa memilihkan panci mana yang pas. Ini namanya focus and do less.

Kemudian faham seberapa nyaman genggaman panci ketika digenggam pelanggan yang ukuran badannya beda-beda, terus by exprience faham vurnability pantat panci ketika dikawinkan dengan panggangan, lalu bagaimana tingkat kegosomgam ketika menggunakan bakaran bara api, atau kompor gas rinai api biru seberapa tahannya gimana, itu namanya obsessed, guys!

AGAIN AND AGAIN

Kalau ngelihat Ernest Hemmingway yang buat ratusan draft tulisan baru dipublish satu yang terbaik, kemudian ngelihat Alfred Hitchcock butuh 70 kali nge-take satu adegan mandi di film Psycho yang less than 10 seconds, ngegambarin bagaimana mereka fokus do less dan terobsesi. Yeah rite, jadi kebayangkan yah Tn. Alva Edison ngebuat bohlam lampu gak sekali cetak langsung jadi bohlam. It needs time. Fokus do less. Dan terobsesi.

Iyah, cerita sepanjang ini sebenernya mau hilang kalau story of Jiro Ono menginspirasi saya gaes. Menginspirasi bahwa sebenernya ndak ada yang instan, butuh waktu lama. Wanna be great. Do something that you love most, then obsessed. Ndak usah berhalu-halu ngerjain semuanya. Gitu sih katanya.

Semangat melakukan “great things” semua pembaca lini masa. Oiyah satu lagi, TERIMAKASIH lho guys sudah membaca sampai bawah ini. Lapyu.. 🙏☺️

#GreatWorks #HowTopPerformers

#WorkLessAndAchieveMore

#MortenHansen #Books

#JiroOno #Chef #Sushi

Tabik,

Abdi J. Putra — ABIE

*your friendly neighborhood

*kerja keras bagai horse ndak jaman lagi 😆—

Nyinyirnya Pemain Mobile Legends

Belakangan sering main games Mobile Legends (ML), gaes.

Well, sebenernya kebawa pengaruh anak saya Bang Tala sama Dek Agi. Lagian, dikantor juga sering buat ML competition yang dibuat sama anak-anak digital, yang mana peminatnya ternyata warbiasak dan wagelaseh. Hampun dah.

Yah, singkatnya maenlah anak mudanya. Dan belik beberapa skin yang cakep-cakep. Gitu main eyalah saya seringnya malah kenak komplain:

“OH DASAR ZILONG NUB, SKIN BAGUS GADAK SKILL”

Itu pas saya pakai skin Glorious General. Belum lagi kalau makai yang legends kayak Chanbanpo Commander haha habis saya. Yes, saya skill ndak punya tapi sikil (kaki) saya punya wkkwwk. Sebagai informasi “nub” atau “noob” diambil dari kata “newbie” atau “pemain pemula”. Oh dem.

Kadang komentar kasar yang saya juga ndak faham maksudnya apa gaes..

“NGEHE NUB, ZILONG AJNG JGN NGEBUFF”

Belakangan saya tau ”ngehe” itu apa dan kenapa “ngebuff” itu ada timingnya. Teros “AJNG” itu ternyata “Anjing”.

Intinya sih, saya ndak faham ini kenapa anak-anak ML ngomongnya pada lantam dan ganas sekali. Kadang kepikiran mau emosi balik tapi lah teringet itu pasti yang main seumuran bg Tala (only 12 yo) jadi saya yah sabar aja banyak-banyak istighfar wkwkwkw..

Palingan saya ngejawabnya “Maaf KK Saya Nub” eh tambah emosi malah saya dimaki lagi. Kadang kayak ustadzh saya jawab towa gituh “Eh ini ibumu yg ngajarin ngomong kasar gitu“. Dan ndak ngefect juga. Yang ngeflaming malah nambah darah tinggi. Hiks. Ndak jelas juga ini orang semua. Nyinyir semuanya.

Sampai kemarin lebaran. Ketika saya sengaja buka buku 10 skin atau berapa gitu di vault, bang Tala bilang “Ih papah sultan banget“. Ndak gitu ngerti maksudnya si abang tapi saya malah jadi kepikiran punya bahan jawaban ketika di offense, gaes.

Sudah dipraktekkan beberapa kali dan kayaknya manjur lho gaes. Once ketika ada yang bilang “woy lu menang skin dowank” atau “skin aja bagus main jelek”, dan sebangsanya, saya lantas jawab sopan:

“IYAH MAAF KK, SAYA SULTAN BANYAK SKIN. MAAF YAH”

Dan ini manjur. Ajaibnya, ndak ada yang berani komentar lagi. It works. Dan biasanya in the end of pertandingan saya malah di add-friend sama yang ngeflaming. Karena mungkin dikira sultan beneran. Ndak sekali tapi 5 apa 6 kali kejadian lho gaes.

Bener memang kata anak saya sultan itu sakti. Kalau istilahnya mereka: SULTAN MAH BEBAS. CUMAN SULTAN YANG BOLEH APA AJA LHO PAH. Iya deh iya. Ini jadi solusi (sementara) untuk menghindari nyinyirnya ML players yang ngelihat skin bagus skill rendah kayak saya hehe.. ^_^

Btw, sebenernya mau nyeritain tentang SULTAN (DylandPros) yang beli skins legends sekaligus, yah hampir 30K diamonds. Saya juga mau share kenapa harusnya si botak “Jess No Limit” yang pantes disebut Sultan. TAPI KAYAKNYA NDAK SEMPAT lho gaes, ini mau Mabar sama si bang Tala dan dek Agi dulu.

Haha gitu aja dulu, ini tulisan ndak penting plus ndak berfaedah sebenernya ndak usah diambil hati..✌️😂

Great At Work – Morten T. Hansen

Nyang buat terngiang dikepala Tn. Hansen adalah apa yang disebutnya Natalie’s Question. Pertanyaan tentang Natalie, kolehanya di Boston Consulting Group.

Seperti yang ditutur, saat itu Tn. Hansen dan Natalie sama-sama anak baru di BCG. Mereka berdua sama-sama cerdas. Sama-sama bagus performansinya. Menonjol diantara para cerdas cendekia yang bekerja disana. Menjadi TOP PERFORMERS diperusahaan tersebut.

Sebenernya yang jadi pertanyaan Tn. Hansen dulu (dan baru kejawab hari ini) adalah “spending time” dalam bekerja. Tn. Hansen heran kenapa Ms. Natalies di recognize “superb” juga. Sama seperti beliau. Okelah Natalie pinter dan cekaran, tapi to be honest tuan Hansen menganggapnya pelit waktu.

Natalie itu ndak begitu terlalu kerja keras. See, Nat’s kerja hanya jam 08.00 to 18.00 (60 jam) maksimal ndak lebih. Sementara Tn. Hansen ndak jarang stay dikantor. Bisa ngabiskan 90 jam seminggu.

Artinya rata-rata 15 jam sehari untuk bekerja selama 6 hari. Beneran kerja keras gaes.

Dan pada akhirnya tuan Hansen sadar kuncinya bukan dibanyak jam-nya tapi dikualitas dan produktifitas. Bagaimana bekerja seefektif mungkin dan menaikkan produktivitas yang harusnya dituju.

Berangkat dari itu semua kenapa Tn. Morten Hansen melakukan beberapa riset dan menuangkannya dalam buku “GREAT WORK, how top performers work less and achieve more”. Beliau mengajak kita pembaca yang bekerja untuk memahami esensi bekerja itu dimana.

Kalimat berikut di bawah saya kasih notes dikindle. Sengaja. Selain suka kalimatnya juga menurut saya bisa menjadi takeaways untuk difahami. See here:

Top performers did less and more: less volume of activities, more concentrated effort.

Aha, katanya top performers melakukan “sedikit” dan “banyak”. Sedikit maksudnya dalam melakukan aktifitas, dan banyak berkonsentrasi ke usahanya. Cakep! And we know already, yes, hari ini yang dibutuhkan adalah kerja cerdas. Persis seperti yang Natalie lakukan.

Well, tuan Hansen juga menjelaskan para pemimpin perusahaan yang punya persepsi keliru: the longer you held meeting the more you will be appreciated. Saban hari meeting malah ngganggu di eksekusinya. Kebanyakan diskusi eksekusinya kapan?

Well, saya juga sama..

Kadang ndak efektif dan ndak smart dalam bekerja. Tulisan ini sebenernya #selfreflect dan #selfremind supaya ndak terjerambab jadi leader yang salah perceived “kerja lama biar dibilang bagus”. Ini leader kampret namanya.

Next, saya sharing (singkat aja) terkait 7 hal yang diresearch oleh tuan Hansen. Nyang diconduct ke 5000 orang dengan berbagai disiplin pekerjaan dan jabatan. Etapi ndak usah ditunggu, soalnya ini sharing sesempatnya aja hehe. Ciao.

Project A9 Amazon Dan Google

Adalah “project A9” atau “The Eve Project” yang sempat buat Google grogi, gaes.

Kejadiannya dimulai dipenghujung 2003, ketika Udi Manber dan Jeff Holden mengidekan membuat search engines saingan Google.

Project A9, atau stenografi “Algorithms” kalau istilah tuan Bezos, adalah sebuah project membuat mesin pencari untuk indexing milyaran produk Amazon. Sebenernya banyak technopreneur melakukan hal yang sama. Maksudnya membuat algorithma pencari untuk menyaingi Google.

Well, akan tetapi ini Amazon lho. Dibelakangnya ada tuan Bezos sang innovator bertampang goofy face. Dan Udi Manber sang pendekar algorithma bersama mereka. Jadi sangat beralasan banget para petinggi Mountain View panik ketika Amazon nge-publish kalau mereka lagi ngerangkai algortihma pencari.

Lagian, beritanya santer banget kalau A9 ini ndak hanya mesin pinter yang mempercepat indexing miliaran item Amazon tapi juga diperkirakan mampu mengcrawling sak ziliyon meleyon resources diinternet. Lebih rakus dan lebih efektif querynya daripada engine-nya Google. Gitu sih katanya.

Yah, mungkin bluffing tuan Bezos saja guys, tapi bagaimana kalau ini beneran.

Tuan Schmidt, sang CEO legend, tentu saja mengeluarkan jurus yang common: BELI A9 AT ANY COST. Kebiasaan jelek google memang, membeli apapun yang mengganggu market mereka. But, hey you know Bezos well. Bukan uang yang jadi sasaran sang rubah tua itu.

THEN WHAT GOOGLE’S DO

Yes, they walk another path, still, a very simple plan. Mereka merayu engineer yang jadi lead project A9 untuk bergabung ke Google. Hehe, A9 ndak dijual enjinier nya sekuat tenaga dibajak. Udi Manber yang paling utama diajak.

In short, awalnya tuan Manber dan para lead enginer menolak karena responsible to their team juga karena idealisme (yang ndak dijelaskan maksudnya apa). Akan tetapi ketika suatu malem duo founder Larry Page & Sergey Brin menyempatkan makan malem bareng mereka dengan beberapa tawaran, para lead engineer yang megang kunci baris koding A9 pun luluh.

In one bright shiny morning, those A9 engineers parked their cars at Google. Yes, for free offcourse. Kalau di Amazon selain jam kerjanya luar biasa wagelaseh, parkir untuk karyawan juga bayar. Ndak usah ngarep dapet free snack di Amazon. Semuanya punya price tags.

AT THE END GUYS.

To make long story short..

Ide pembuatan search engines dengan perhitungan komputasi canggih itu, yang sempat buat google galau gundah gulana, akhirnya UNFINISHED. Sebenernya selesai juga sih tapi ndak seheboh yang digembar-gemborkan tuan Bezos. Ahoy matey, Mountain View stay do the same business while Palo Alto kudu nyimpen mimpinya.

TERUS INTI CERITA INI APA SIH?

Awalnya saya mau ceritakan antara Google dan Amazon sangat jauh berbeda dalam memperlakukan karyawannya. Itu kenapa para engineers itu pindah. Sehingga outputnya juga ngaruh. But that’s not my point. Kalau tentang “how to treat your employee well” sama impactnya sih you guys udah faham bangets.

Nyang mau saya ceritakan adalah..

Sewaktu baca “Chapter-7 A Technology Company, Not a Retailer” buku “The Everything Store: Jeff Bezos” yang kefikiran saya malah KENAPALAH ITU PARA INSINYUR KOMPUTER PADA MANDAH. Kebujuk rayuan duo founder Google.

Oh you duo founder dem yu.. 😂

Bukan saya ndak percaya sama “Do No Evil” mereka. Bukan juga karena saya sering ketuker yang mana Sundar Pichai dan yang mana Satya Nadella, bukan itu lho guys.

Akan tetapi menurut saya Google sudah sangat keterlampauan banget dominasinya. Hari ini ndak punya saingan blast mereka. Environment yang dibangun mereka ngikat banget. Buat nyaman tingkat dewa. Dan ini agak bahaya menurut saya.

Once Google failed megang prinsipnya, then kejadian kayak facebook nabrak privacy.

Again, poin saya adalah: Seandainya A9 selesai semewah dan secadas yang dibilang tuan Bezos, hari ini kita akan punya pilihan. Ndak penting sih, tapi psikologisya semua orang suka diberi pilihan.

Pilihan itu kayak gini. Dimana semua heboh main Mobile Legend lalu dipojokan sana mainnya AoV. Teros itu disebelahnya main PUBG, noh diujung malah Lineage Revolution2 anteng aja. Kalau yang ML rese’ kan bisa ganti games.

Pilihan itu misalnya lagi kayak gini. Boleh aja ndak suka Sama BTS dan bilang mereka benconk, kan tinggal ngeplaylist EXO yang lebih jantan. Atau BigBang sih hasek juga. Etapih, sebenernya sama aja sih yah. Soalnya sama-sama cantik mereka itu semua menurut saya wkwkw..

*siap2 digebuk fans BTS, EXO, BigBang

Last, tbh guys, saya seneng banget pakai Google product. HOW THE WORLD BE WITHOUT GOOGLE? Saya ndak bisa kebayang, gaes. Dan pertanyaanya lagi, HOW ABOUT IF GOOGLE BETRAY US? Ini saya lebih ndak kebayang lagi, gaes! 😭

Selamat berpuasa semuanya!

Terimakasih banget udah baca sampai bawah ini lho guys. Panjang sualnyah..✌️😆

Abdi J. Putra — ABIE

*Yeah, your friendly neighbourhood

#Google #A9 #Amazon #Booms

#TheEverythingStore #JeffBezos

#UdiManber #Algorithma

Apple & Valve: A Dream Gaming Collaboration

APPLE & VALVE: “A dream gaming collaboration”.

Suka sama berita ini gaes.. ^_^

Seperti yang kita fahami, Apple merevolusi gaming dilingkungan mobile. While Steam has done a similar for gaming on the Mac & PC. Yups, ini Steam yang dipakai bang tala dan dek agi pas mau main games di Lenovo bukan masakan..😅

Fyi, Steam dikembangkan Valve Corp.

Ide besarnya mereka sederhana: Mengizinkan para gamers untuk streaming bermain konten games yang ada di Mac atau PC, melalui ethernet atau pakai 5GHz wireless network.

In short, aplikasinya ini akan menjembatani para pemain game lingkungan windows untuk bermain diplatform iOS begitu juga harapan sebaliknya.

—————

Last, apapun bentuk kerjasamanya, ntar kita lihat siapa yang mampu mendatagkan kerumunan yang lebih ramai. Apakah mutual sama-sama dapet keuntungan (a dream gaming collaboration). Or else, yang satu untung sementara satunya lagi “Zonk”.

Tabik.

Hepi fasting eperiwan!

.