CAN YOU ADAPT A CHANGING LANDSCAPE?

Guys,

Hari ini banyak perusahaan yang bicara tentang TRANSFORMASI. Bicara tentang perubahan organisasi internally juga externally.

Well, kalau bicara “transformasi” baik dunia kerja atau tentang hidup, saya selalu teringet sama kalimat bunda Nancy Duarte yang bilang “venturing into the future is scarry”. Menakutkan dan mengkhawatirkan karena memang ndak ada kepastian.

When you jump into the abyss, for the “third curve”, atau kurva keberapalah you name it, selalu aja ndak nyaman. Ndak menyenangkan.

Berasa gulita. Walau percik-percik api yang namanya symptoms ada dimana-mana memberi petunjuk tapi yah masih gelap gitu guys. Where those wizzards hide our torch? Hentah kemana obor penerangnya disimpan.. 😆

Agree, that we should be ready for every circumstances. Harusnya yah kita siap. Akan tetapi, seberapa tinggi level confidence kita bersama to answer that we are ready. Atau sarkasnya: seberapa nyadar kita memahami kalau hari ini bisa jadi kita ndak punya apa-apa dan ndak faham apa-apa tentang ini.

Dan oh guys, pertanyaan selanjutnya, seperti digambar, jadi sangat relevan:

“CAN YOU ADAPT TO A CHANGING LANDSCAPE?”

Mampu ndak kita beradaptasi. Seperti tulisan saya “Salesman Nowadays”, mampukah kita marketer atau salesman untuk beradaptasi (adapt) dan merangkul (adopt) perubahan. Nah kalau itu udah clear, masalah yang tinggal adalah lanskap mana yang berubah dan eksekusi arahan untuk melompat kemana. 🙏☺️

https://id.linkedin.com/pulse/salesman-nowadays-parth-three-end-abdi-januar-putra

(Salesman nowadays part1 dan part2 lihat ditautan dibawah artikel diatas)

Lanjot guys..

Belakangan saya lumayan banyak membaca. Tentang digital, berkaitan dengan sales marketing, McKinsey insights, dan banyak juga tentang leadership. Many-many books lah guys. Be my goodreads budd. Kemaruk yah mungkin kesannya hihi. But I need this.

Perlu karena secara pribadi niatnya pengen “mempersiapkan” diri untuk petualangan baru kemasa depan. Iyah, untuk VUCA juga. Mungkin ndak bisa kasih insight banyak tapi yah minimal dilevel eksekusinya ndak memberatkan yang lain. Kalaulah ndak mampu yah jangan malah ngegangguin. 😆

Gitu aja kali guys.. ^_^

Have a nice day everyone. Tabik!

#selfreflect #transformation #VUCAworld

#keepreading #youarewhatyouread

#salamolahraga

Advertisements

QOTD – Aku Tau

Oh guys,

Ini taon lalu dikasih bajunya, baru hari ini dipakek. Soalnya sempat ngilang kemana ini baju ini.

Kalimatnya itu lho.

Sukak kali aku sama quotesnya ini woy.. 😆

“AKU TAU TAPI AKU SELOW”

Haha, selain jenaka juga penuh makna. Oiyah, makasih yah Yogi Warhols dan kang Ardi yang udah ngasih baju ini.

🙏😊

.

Presentation Zen – Garr Raynolds

Kalimatnya kayak gini..

“No matter how impressive technology becomes in the future, no matter how many features and effects are added, the technology of the soul has not changed.”

Yaps, ndak peduli juga seberapa mengesankannya teknologi presentasi kedepannya. Ndak peduli juga sudah berapa banyak fitur dan efek yang ditambahkan, akan tetapi TEKHNOLOGI JIWA ndak akan pernah berubah guys. Ho-oh, ini bicara UX sebenernya. Yes, what people feel. 😍

Tambahannya lagi, teknologi untuk ngasih presentasi seperti PowerPoint dan Keynote — dan Apps baru seperti Prezi — itu hanya berguna pada tingkat di mana tools itu membuat hal-hal menjadi lebih jelas dan lebih mudah diingat saja.

Intinya apa untuk what so called “teknologi jiwa” yah guys..

Yah maksudnya seberapa bagus teknologinya itu tetap berhenti sebagai “tools” saja. Yang hakiki adalah komunikasi itu sendiri dalam tataran kebutuhan manusia satu ke manusia lainnya. Hablum minannas gitulah. Mantabs Djiwa.. 😆

Btw guys, PRESENTATION ZEN ini salah satu buku favorit saya. Worthed to read-lah. Tuan Garr Raynolds tidak hanya bercerita tentang fungsi saja, tapi dia juga menekankan tentang keindahan, keseimbangan, yang dibaur dalam kesederhanaan.

Remember about “Really Bad Presentation”, yang ditulis tuan Seth Godin 15 tahun yang lalu, guys? Well, hari ini 2018 masih banyak juga orang-orang melakukan kesalahan yang sama. Ndak berubah banyak. Termasuk saya juga lho.. 😅

.

PreOrder The Infinite Game – Simon Sinek

Guys,

Dua hari yang lalu Simon Sinek diakun Instagrammnya @simonsinek meng-announce cover untuk buku barunya yang berjudul: THE INFINITE GAME. Dipersilahkan siapa yang mau belu, tapi preorder untuk buku ini.

Well, malem ini, sembari nunggu dokter saya purchased bukunya. Ini pasti buku bagus, seperti buku tuan Sinek lainnya.

Nah yang ndak diperhatikan tetnyata preordernya sampai tgl 16 Oktober 2018 nanti baru available guys. Biasanya preorder paling lama 3 bulan ini setengah taon. Haha..

Ntar oktober kalau udah auto-delivered akan saya coba review yah. Kayaknya seruw ini. 🙏😁

.

Marketing Chronicles – Nimish V Dwivedi

Ini buku marketing yang judulnya sungguh memikat: MARKETING CHRONICLES. Saya yang gawe-nya dimarketing & sales langsong purchase it now. Nah, kemarin pas beli buku tuan Nimis V Dwivedi ini saya kebayang buku lama yang sudah difelemkan “The Chronicles of Narnia”. Ndak nyambung memang.. 😆

Btw guys, tuan CS Lewis kreator of Narnia, dan tuan Hans Christian Andersen bacaan favorit saya waktu kecil. Rata-rata minjem diperpus atau pinjem temen, ndak beli. Dulu pas SD & SMP belom ada internet. Halah, ini info ndak berfaedah juga.. ✌️😂

_____ Back to “Marketing Chronicles”

Additional wording dijudulnya, yang buat tambah nafsu bacanya, ada embel-embel “marketing insight from the Pre-Smartphone and Post-Smartphone Eras”. Teros secara tampilan juga OK. See that, faham kenapa sor awak sama buku ini.

Eh, akan tetapi, tampilan juga judul terkadang ndak menjamin isinya menarik untuk dibaca. Jadi singkatnya, ADA 3 (TIGA) HAL yang menjadi catetan saya:

PERTAMA. Ndak ada yang baru yang cukup ngasih insight. Bener ini adalah hasil riset tuan Dwivedi yang mana berisikan hal aktual masa sebelum dan sesudah smartphone. Sebuah compendium yang rapi tapi untuk saya kurang gereget. Ah, be honest boring udah ketebak alurnya diprakata.

KEDUA. Bahasa yang dipakai terlalu melebar. Yaps, ndak stright-tu-depoin. Ndak praktis dan terlalu boros kata-kata. Ndak renyah. Saya ndak ngerti siapa editornya tapi untuk menceritakan satu hal remeh yah ndak perlu dibuat satu chapter juga. Ini imho lho yah. KIS nya ndak dapet. Keep it simple.

KETIGA. Ini skup-nya ndak global, walau dijudulnya global insight. Ndak usah berharap terlalu banyak. Ini ceritanya seputaran negara India. Yeah rite, beberapa tempat dan contoh saya ndak faham dimana, pastinya di India. Behaviour dan culture juga buat mumet. Mau googling juga males soalnya yah dipoin dua tadi.

_____ last words

Haha, agak menyesal juga membaca buku tuan Nimish V Dwivedi ini guys, beliau ketelampauan bertele-telenya. Wasting ma time banget. HEY YOU, KEMBALIKAN WAKTU SAYA YANG HILANG. Ohmegod.

Btw, bisa jadi saya salah. Ndak mampu melihat strong point buku ini. Kecerdasannya cekak. Bisa jadi pas baca mood saya lagi ndak pas. SINGKATNYA, please you guys, yang udah baca buku ini bantu saya untuk tunjukkan menariknya buku ini dimana. 🙏☺️

Tabik,

Add my IG: @abepoetra.

Minimalism is Simple – Grant Snider

Oh guys,

MINIMALIS ITU SEDERHANA

Gitu sih judul sketch note tuan Grant Snider sang maestro cerdas tukang gores. Berikut adalah rambu-rambu “menjadi minimalis” menurut beliau yang harus difahami

— Enyahkan yang ndak penting

— Buat lebih terstruktur

— Hidden Meaning itu ilusi, gosah dicari

— Fahami artinya “solid”

— Menghilanglah diantar “Patterns”

— Jangan khawatir “Ruang Kosong”

— Usahakan tetap “clean”

— Jadikan “Bold & Colorfull”

— jangan terlalu ekspresif

— Sedikit itu Banyak

And last words from him: “But, Less is More Difficult than it Looks”. Boom.. 😅

Bener membuat sesuatu yang simpel tapi “beautifully design” itu jelas ndak gampang. Kalau ada yang bilang gampang itu mulutnya minta di-cabe.. 😂

Akan tetapi yah wajib dikejar. Kenapa? Karena utopia-nya para designer adalah “Simplicity is the ultimate form of sophistication”. Kesederhanaan adalah bentuk terbaek dari kesempurnaan. Yah begitulah kalau mau dipandang.

Gitu aja guys..

Hevenais wiken para designer yang lagi mendesign sesuatu yang “sederhana tapi sophisticated”. Semangat yaks.. ✌️😍

.