Jack Welch — 4E’s & 1P Framework

Kalau ngebaca buku Winning “Chapter-6: HIRING, what winners are made of” ini kayak ngejawab framework apa sih yang dibutuhkan untuk mengidentifikasi kebutuhan people yang akan mengisi posisi di organisasi juara (winning).

Nyang saya fahami, ini bukan hanya bisa untuk hiring saja, akan tetapi sesuai judulnya ini adalah framework “apa sih formula menciptakan para juara”. Gitu sih kayaknya hehe..

Fyi, Tn. Welch perlu bertahun-tahun untuk membuat framework ini solid. Butuh beberapa use case and business case at GE to make these statement proven. Yes, it is simple 4Es & 1P terapan.

And yeah rite, kayak biasa, saya coba meresumekan lembaran-lembaran bukunya untuk kalian pembaca lini masa yang niat belajarnya tumpah-tumpah.. 🙏😆

1# Positive (E)nergy

Gampang banget nandainya memang, those guys who have positive energy biasanya ekstrovert dan optimis. Selalu berfikiran positive pastinya.

Enthusiast juga & jarang ndak semangat. Biasanya ini secara personal memiliki banyak temen dan entah apa, kadang, tanpa diminta sering sok asik nimbrung pas lagi orang ngobrol.. 😉

Kalau dikerjaan jarang banget mengeluh. Nganggap kerjaanya itu playing ground. Dan mereka-mereka yg punya Positive Energy sangat memaknai hidupnya.

2# (E)nergize Others

Kalau ini menurut Tn. Welch adalah orang yg mampu memberi inspirasi ke team, untuk bahkan hal yang sedikit-hampir-ndak-mungkin. Dan tentunya juga berjibaku untuk menggapai that rather lil’ impossible things itu. ☺️

Kalau utk pekerjaan, saya merasa semua leaders harusnya punya kekuatan to inspiring and energize others.

Ini bukan hanya seperti jendral George Patton, bicara cepat dan berapi-api (Pattonesque speeches). Akan tetapi juga faham banget, dan having knowledge yang dalem tentang tujuan perusahaan, dan kemana bisnis organisasi ini leading to, dan membaginya ke all team.

3# (E)dge

Winners wajib punya kemampuan “mengiya-tidak” kan permasalahan yg complicated sekalipun. Memutuskan. Jangan juga jadi leaders bencong. Pas bagus saja membusungkan dada nah giliran failed malah blaming others. Kampret ini mah.

Seperti yang saya sampaikan ke team. Be nice to everyone by saying “yes” to everything malah kadang hurting other people twice. Dua kali karena, pertama ngasih harapan (PHP), dan kedua karena ndak bisa.

Perlu diinget juga, semua orang hanya punya jatah 24 jam sehari. Indulging yourself or getting me-time jadi kebentur sama mikirin work life ballance yang di-perceived ndak pernah ballance-ballance ituh.. 😉

Plin plan atau tipikal wishy-washy BUKAN sikap sang juara. Nyang kudu hati2, menurut buku WINNING itu adalah orang yg teramat pinternya dan terlalu banyak opsi. Ho-oh, too much options will kill you lah.

4# (E)xecute

Ini hal yg sering digaungkan atasan dari atasan saya, EKSEKUSI! Dan ini kenapa selalu disetiap plan program disini selalu kita tuliskan kapan started & tentunya kapan endingnya supaya bisa direview.

Wajib selesaikan apa yg sudah dimulai, itu sih intinya. Further more, kalau kerja keras ndak ngefect yah kerja cerdas. Begitu jg sebaliknya, sampai the tasks dikonsiderasi selesai (completion).

Iyah, kayak bapak management, Drucker bilang, eksekusi ditiap levellingnya beda tapi yah tetap ini selalu jadi yg utama.

5# (P)assion

Dan untuk melengkapi “what winners are made of” ada passion. Yaitu melakukan apapun pekerjaannya dengan sepenuh hati. Authentically, ndak bersandiwara. Segenap jiwa raga senang. Sekuat tenaga berusaha.

People with these characteristics suka belajar dan mengembangkan diri. Ngefreak banget untuk mencari tau. Niat-nya lebay kalau dilihat, tapi yah itu tadi, karena passion-nya tinggi.

Mungkin itu aja gais.

Salam hormat penuh cinta..

Abdi J. Putra — ABIE

*Yes, I can hit the ground running! 🙏😍

Advertisements

In Fact, The Best Marketing Never Is

IN FACT, THE BEST MARKETING NEVER IS

Oh guys..

Bahkan, marketing terbaik itu tidak akan pernah ada (the best marketing never is). Ini kata Tn. Seth godin. Ya, saya bagaimanapun percaya. Karena logika saya bilang ada benarnya.

Bacot-nya, ugh again, marketing ghalibnya adalah tindakan murah hati untuk membantu orang lain, memberikan solusi dasar yang dibutuhkan. Yah, ini melibatkan penciptaan kisah-kisah yang authentic, kisah-kisah yang beresonansi dan menyebar. Lalu viral.

Dan ketika kisah-kisah itu menyebar, marketing akan memberi makna, hubungan, dan berbagai kemungkinan. Pembelian bukan jadi tujuan tapi impact dari memberikan jawaban kebutuhan.

Memberikan bantuan terhadap permasalahan. Ini adalah marketing yang terbaik: mensolusikan.

Gitu sih katanya..

Ndak pantes memang sih. Bicara marketing faktanya punya beberapa bentuk lain: the lies, scams, and the pressures.

Well, kita faham ini bagus untuk jangka pendek tapi ndak akan seperti bacaan yang tertulis dipojokkan ring tinju, EVERLAST.

Iya, ndak akan long lasting.. ✌️☺️

Deep respect..

Abdi J. Putra — ABIE

*marketers kaleng-kaleng..

*ditulis sepanjang rawabuntu – palmerah 😉

#marketing #everlast #sethgodin

Sharing To The B2B Team

Jumat kemarin, diminta sharing sama bang Ericson Sibagariang, VP Corporate Account Management Telkomsel.

In short, begitu di-introduce bg Eric (the leader), bahwasannya saya akan sharig, keringet saya langsung membanjir. Gugup tiada tara euy. Sak pipis lah, dan tetiba pengen lambaikan tangan ke kamera. Padahal sang VP sengaja buat saya rileks, but still grogi euy.. 😂

Latihan depan cermin beberapa kali sebelumnya, and do some shadow boxing (rehearsal), yang saya fikir bisa mengurangi gugup ternyata ndak terlalu ngefect. Asem memang itu Nancy Duarte. HBR nya Persuasive Presentation padahal sudah berulang saya baca. Ndak ngurangi badan ini “nderedek” juga. Gemetaran guys haha..

Iya saya faham banget, yang gak berhenti buat debar karena saya tahu persis yang dengerin pendekar sales B2B terbaik semua. Dari level Officer, Mgr, dan GM. Saya yg pendekar marketing banyak bacot ini jadi bingung apa pantes saya sharing didepan mereka. ✌️😆

To make long story short, guys. I share what Joey Coleman said about “Never Losing A Customer Again”, as requested. Cara supaya ndak kehilanggan pelanggan secara teori. Soalnya yang paling penting di “KAMU” nya. Iyes, YOU as the salesperson. (Time Magazine, 2006)

Saya juga coba sampaikan kenapa pesannya: LUPAKAN SAJA B2B atau B2C, BISNIS KEDEPANNYA MANUSIA KE MANUSIA. The equation should be the same: H2H (Human to Human). Apapun bisnisnya, siapapun pelanggannya.

…..

Ah, saya juga dapet PR sama sang VP untuk sharing “Bagaimana menjual dengan cara baru”. Ini challenge yang buat kepala berat. Soalnya yes you know, nothing new under the sun but CREATIVITY.

And yes, my fave, ketika bicara kreatifitas kalimat Tn. Godin yang saya pakai: “when was the last time you did something for the first time” to unlock creativities. Salah satu cara supaya kita stay kreatif.

Dan, untuk membuktikan kalimat Tn. Godin we do some tiktok challenge. Iya, iya alay memang.

Ah tapi guys, semua team B2B dari officer sampai VP, adalah orang-orang yang total tudemaks. Lihat aja sendiri betapa all outnya mereka hehe.. 🙏😍

Again, thanks bang @ericson sudah mengundang saya untuk sharing. Maaf kalau ndak menjawab apa-apa yang diminta.

Salam penuh hormat untuk kawan-kawan B2B yang selalu jumawa memberikan solusi korporasi.

Abdi J. Putra — ABIE

*your friendly neighborhood

Sharing With Internal Audit

Kamis kemarin..

Saya diminta teman-teman Internal Audit Telkomsel untuk sharing diacara NOBAR (Nongkrong Bareng) mereka.

Hehe, in short, semoga mereka tidak menyesal ngundang saya untuk berbagi “How to CRAFT Your Ideas”.

……

Saya coba sharing kenapa sih kita wajib “crafting ideas”. Kenapa hari ini spawning ideas itu obsolete. Usang, karena semua orang sudah punya ide kan yah.

Saya coba ngejawab kenapa yang selalu menang adalah orang-orang yang bisa mengemas idenya. Juga, kenapa sih setelah punya ide terus dikemas dan wajib disharing (dibagi) sekuat tenaga.

Kenapa juga TED’s slogan-nya “IDEAS WORTH SPREADING” atau apa yang dimaksud marketing guru, Seth Godin, bilang “IDEAS THAT SPREAD WINS”.

……

Ya, ya, apapunlah, mengemas ide-kita menurut saya penting. It will save your career, seperti yang saya ceritakan contoh beberapa teman baik saya.

Minimalnya guys, seperti yang saya sampaikan di ending, ide-ide brilianmu jangan dibiarkan “hanya kau, laptopmu, dan tuhan” yang tau. Share-lah, sebanyak-banyaknya. Sekuat tenaga.. 🙏😄

Abdi J Putra — ABIE

*Sharing is caring.

*You share, because you do care..!!

Never Lose A Customer Again – Joey Coleman

Saya fikir Joey Coleman bercanda.

Saya juga fikir Dr. McCann dan Aurora Modern Dentistry adalah imajinerinya Tn. Coleman.

….. get the positive vibes

Haha ternyata saya salah. Joe Coleman ndak bercanda, dan Dr. McCann is real dan bukan bahan halu untuk meng-construct bukunya dia. Yes, I already googling ‘bout Aurora Modern Denstistry, ternyata beneran ada. Dan memang mereka selalu dapet positive vibes dari semua pelanggan-nya. Ndak pernah ada yang komplain.

Well, you know, ndak perlu baca bukunya Joey Coleman untuk faham kenapa gadak orang yang riang gembira ke dokter gigi. Seperti banyak orang-lah, Tn. Coleman ngerasa ke dokter gigi itu menyeramkan. Selalu bad experiences. Apalagi kalau cerita mahkota gigi, kebayang seramnya.

Runut sekali Tn. Coleman bercerita mahkota gigi-nya yang harus diganti karena kebanyakan consume sugar and soar itu. Betapa secara experience dia kagum sama dokter dan kliniknya itu. Melebihi ekspektasinya.

….. all, last resume

One that intriguing meh guys, itu cerita Dokter Gigi sampai menghabiskan satu chapter sendiri dibukunya Tn. Coleman lho. “NEVER LOSE A CUSTOMER AGAIN”. Spesial banget yah.

Belakangan saya jadi faham maksud kalimat subtitle-nya “Turn any sale into lifelong loyalty in 100 days”. Bicaranya ndak hanya jualan tapi harus loyalty. Harus memikirkan disisi pelanggannya.

Dan kalimatnya Joey Coleman berikut menginspirasi saya..

“If a dentist can create a remarkable customer experience and earn lifelong loyalty, every business in every industry in the world can do the same.”

Yeah rite, tentu saja. IF A DENTIST CAN DO IT, WHY CAN’T YOU?

Salam Penuh Hormat,

Abdi J. Putra — ABIE

*Buku bagus, will get 5 from 5 stars! And you know, Tn. Joe Coleman adalah pencerita yang baik.

IF AIN’T BROKE, DON’T FIX IT

IF AIN’T BROKE, DON’T FIX IT

Ini menurut saya kalimatnya di jaman mbah kakung dulu waktu bekerja. Motto atau prinsip yang “seolah-olah” memberi pesan untuk berhemat atau ndak usah diperbaiki ntar malah makin rusak. Malah makin tambah biaya keluar.

Well, okelah dulu ini bisa jadi bener. Akan tetapi hari ini, sejak negara api menyerang desa konoha (halah), kalimat “kalau ndak rusak jangan diperbaiki” udah usang. Udah ndak lagi relevan sama sirkumstansi pekerjaan hari ini.

Hari ini dengan gaung “baik saja tidak cukup” requirement-nya semua orang faham apapun itu yah sarannya bisa diperbaiki lagi. Proses kerja, business model, pelayanan, produktifitas, you name it lah, banyak hal yang bisa direview dimana ujungnya adalah efektif dan efisien.

Yah, bener walau gadak yang rusak tapi semua menehemen guru percaya “there is always a room for improvement”. Selalu ada ruang untuk perbaikan. Selalu ada cara yang lebih baik. Selalu ada metoda yang lebih mumpuni. Berubah terus.

Oiya, terakhir..

Kalau masih ada orang yang pakai moto “kalau ndak rusak gosah diperbaiki” di atas..

Tolong kasih tahu sama orang tersebut kalau mobil listrik sudah lama dibuat bahkan sudah dicampakkan Ellon Musk ke angkasa. Kalau ndak faham juga, minimalnya kasih tau Amazon itu bukan “book store” tapi udah jadi “the everything store”.

Hehe, selamat memperbaiki apapun itu kawan-kawan pembaca lini masa.

Hormat Saya, ABIE.

McKinsey: Apa Arti Digital Sebenarnya?

Menurut saya, McKinsey itu agak kurang ajar ketika mendefinisikan “digital itu sebenernya apa”. Kebayang ketika para cerdas cendekia disana itu bilang kayak gini (terkait apa itu digital):

______

DIGITAL is less of a thing and more of a way of doing business.

DIGITAL itu tidak terlalu penting, digital itu lebih merupakan cara melakukan bisnis.

______

See guys. Kelihatan kan kenapa saya bilang para ahli nujum itu kurang ajar. Soalnya, imo, terlalu sederhana definisi digital yang mereka sepakati.

Sounds receh gitu. Ndak serumit biasanya mereka untuk meng-koinkan sesuatu. McK lho ini. Definisi mereka biasanya pakai exhibit atau pakai cohort yang suka buat bingung. Dan ini, iya kali ini kok gamblang sekali.. 😆

Btw, guys..

Jujur aja, hari ini banyak yang masih gamang ketika ditanya “digital itu apa”. Digital dalam konteks organisasi perusahaan.

Googling juga ndak nolong, malah ngebuat kita makin confused dengan banyak konteks dengan konten yang ndak menjawab. Yes, kali ini pekiwan (halaman satu-nya) juga ndak ngebantu. Too much information will kill you.

_____ KEKELIRUAN PENGERTIAN

Beberapa kali saya melakukan survey. Yah, survey ala-ala. Saya menanyakan beberapa teman tentang “apa itu digital”. Dan yah sama dengan saya jawabannya “pindah dari proses analog ke digital” atau jawabannya “pindah dari pekerjaan offline ke online”. Beberapa bilang “ini terkait ON-OFF angka 1 dan angka 0 (binary)”. Well, apa masok barang itu?

Ya pemahaman yang teman-teman saya sebutkan itu ndak salah. Akan tetapi ndak menjawab pengertian digital dalam terminologi organisasi (bisnis).

Pengertian “analog to digital” ini lebih ke proses atau istilahnya hari ini “digitization”. Yah hampir benar tapi kurang tepat.

Dan kalau jawabannya “offline to online” ini sebenernya sudah dilakukan 15 tahun apa 20 tahun yang lalu gitu guys. Yeah, ketika rombongan Onno W Purbo, RMS ibrahim, dan lainnya mendaftarkan UI-NETLAB sebagai protokol Indonesia pertama.

Teros kalau bicara “terkait binary” yah that’s what computer dari awal-awal dibuat kan yah? Kata digital dari digitus. Ini lebih jaoh lagi taonnya. Walau itu memang ndak salah tapi ndak menjawab konteksnya.

Not even close. 😂

Kalau ada yg nanya digital itu apa sih sebenernya, pakai jawaban McK berikut:

“DIGITAL ADALAH SALAH SATU CARA DALAM MELAKUKAN BISNIS”

Iyes sesimple itu aja. Ndak usah ditambahi atau dikurangi. Dan yang mau iqra artikel-nya berikut:

https://www.mckinsey.com/industries/high-tech/our-insights/what-digital-really-means

Yang mau versi bahasa dari tautan di atas, silahkan drop emailnya dikomentar. Saya akan email.

Salam penuh cinta.. 🙏😍