Picasso, Wanita Muda, dan Tentang Value

Pernah..

Diceritakan ketika diusia senja, si cerdas seni sang perupa, PABLO PICASSO pulang kampung. Sang maestro duduk menghabiskan waktu disebuah cafe disudut dermaga pantai Málaga, Costa Del Sol (Spain). Menyaksikan keriuhan sore itu sambil mencoret-coret tissue serbet bekas.

Dia acuh tak acuh, menggambar apa pun yang membuatnya geli pada saat itu. Sebagai contoh dia mengoret-oret anak laki-laki kecil yang menarik penisnya ditempat basahan terbuka ditepi pantai. Dia juga menggambar wanita paruh baya yang topless (ndak berbusana atas).

Yaps, tentunya ini tuan Picasso. Dia menggambarkannya dengan nuansa kubikal (impresionis) yang jadi khasnya sang maestro. Picasso “melukis” diserbet ndak bersih, kelihatan noda kopi samar diujung kanan serbet itu, tapi Picaso cuek dan dia terus menggambar yang disuka.

Ndak sadar ada seorang wanita muda memandanginya dan memperhatikan kegiatan oret-oretnya dengan kagum. Setelah beberapa saat, Picasso menghabiskan kopinya, meremas serbetnya dan hendak melemparkan serbet oret-oret ke tong sampah, tapi wanita itu gegas menghentikannya.

“TUNGGU..” kata sang wanita.

“Bolehkah saya memilki serbet yang baru saja Anda gambar tuan? Saya akan membayar Anda untuk serbet itu.”

“Yaps, tentu saja..”

Jawab Picasso kalem.

“Dua puluh ribu dolar.”

Wanita muda itu tersentak ndak menyangka hanya serbet kotor akan semahal itu. Kemudian dia protes sambil bertanya:

“Apa tidak kemahalan. Kan hanya butuh waktu lima menit untuk menarik garis-garisnya sehingga jadi berupa itu.”

“Oh, No ma’am, tidak ibu..” kata Picasso.

“Well, sebenernya butuh waktu lebih dari enam puluh tahun untuk membuat karakter gambar seperti ini.” Picaso memasukkan serbet ke sakunya dan gegas keluar dari kafe meninggalkan wanita muda itu bengong.

_____ ini tentang values!

Yaps, agak kurang santun kayaknya tuan Picasso. Akan tetapi saya melihat sarkasmenya dia itu malah positif, gaes. Kenapa?

PERTAMA, Picasso faham valuenya berapa. Memvaluasi diri itu ndak gampang. Dia punya confidence level tinggi untuk itu, mahal memang.

KEDUA, dia meluruskan satu hal ketika si wanita muda bilang “hanya butuh 5 menit untuk menggambar itu”. Sang Maestro tersinggung, makanya dia langsung bilang kalau oretan-oretan serbet kotor itu butuh waktu 60 tahun untuk menggambarnya. Ndak instan lho!

Yaps, boleh dibilang ini bicara values!

Kalau bicara values pastinya ndak ujug-ujug langsung jadi. Kebayang kan yah, sudah berapa ribu lekukan garis dan sudah jutaan warna dan gradasinya yang dikanvaskan. Sehingga tuan Picasso punya karakter “lukisan & bentuk rupa” yang sampai hari ini di-aminkan banyak orang.

And last, katanya semua orang adalah seniman. Apapun hasil karya yang dicipta. Apapun value yang dimiliki, guys!

Itu aja dulu kayaknya. Selamat malam semua seniman yang ada didelapan penjuru mata angin. Please prepare yourself for something bigger. 🙏😍

.

Advertisements

The Subtle Art Of Not Giving A Fcuk – Mark Manson

Kalimat ini guys!

_______________

“The desire for more positive experience is itself a negative experience. And, paradoxically, the acceptance of one’s negative experience is itself a positive experience.”

_______________

Ada 13.118 orang termasuk saya meng-hilite hal yang sama. Iyah, paradoks!

Apa yang dibilang tuan “Mark Manson”, author of “the subtle art of not giving a fcuk”, adalah tentang negasi (ingkaran) yang menurut saya authentic banget. Suatu pemikiran yang somehow kurang ajar tapi apa adanya. Pemikiran yang merdeka tentang menjalani hidup dan pekerjaan.

Kampret memang ini tuan Manson. I do give a fcuk to his words.. 😂

_____ the backwards law!

Ndak usah didebat. Ngebacanya ndak usah pakai denial dulu. Kayak paragraph pertama yang saya quotes di atas. Keinginan positive akan menimbulkan pengalaman negatif. Malah sebaliknya harapan negatif endingnya akan positif. Beneran “MIND FCUK” ini lho hehe. Matek. 😂

Ini yang dibilang sang ahli filsafat “Alan Watts” terkait dengan “the backwards law”. Idenya: semakin dikejar, eh malah semakin ndak puas. Makanya disarankan untuk “not give a fcuk”. Subtley kedua. Saya mikirnya ini lah kok kerasa bener juga yah.

Our culture today is obsessively focused on unrealistically positive expectation. Kalimat yang ndak realistis menurut tuan Mason adalah: Be happier. Be healthier. Be the best, better than the rest. Be richer, Be smarter, faster, sexier, more popular, dan kalimat ngawang-ngawang lainya.

Penjelasannya: kecenderungannya untuk mencoba kaya dan mencari uang sebanyaknya karena you feel that you don’t have enough money already. Berdiri didepan cermin dan berusaha mengafirmatif kalau kita cantik karena, again, you feel as though you ain’t beautiful already.

_____ such an irony!

Haha, ironisnya kata tuan Manson, yang mana membuat saya jadi ngambang bin bimbang. Kalimat “be richer” atau “be good looking” adalah kalimat yang mem-fiksasi untuk menjadi yang bukan jati diri kita. Membuat kita ndak authentic. Menolak kenyataan yang ada dan malah jadi palsu.

Kalimatnya yang mebuyarkan pemahaman umum, yang tuan Mason bilang ironis:

_______________

When we force ourselves to stay positive at all times, we deny the existence of our life’s problems. And when we deny our problems, we rob ourselves of the chance to solve them and generate happiness.

_______________

See that guys, jika memaksakan diri bersikap positif malah menyangkal adanya masalah. Malah hilang kesempatan untuk menyelesaikannya dan menciptakan kebahagiaan. Ah, entahlah..

Last words from meh..

Kalau baca kata penganternya dan mencermati diksi yang dipakai kelihatan seolah-olah tuan Manson lagi marah, kalimatnya berasa sarkas banget. Yaps, dia lagi mengajarkan kita untuk “be authentic” dan mengajarkan “be yourself”. Menerima negativity.

Again, bagaimanapun cara berceritanya. Atau apapun cara pandangnya. Buku ini sangat menarik untuk jadi insight yang membumi. Mengkatarsis kebiasaan yang terkadang dipelintir memjadi dogma. Please merdekakan fikiran sebelum membacanya.

Banyak hal yang menarik sebenernya untuk disharing, tapi nantilah kalau sempat. Dan saya jadi faham kenapa buku ini selama berbulan-bulan nangkring sebagai “best buy” di chartnya Amazon. Itu aja guys, salam olahraga semuanyah.. 🙏😍

Malala Yousafzai & Nobel Perdamaian

Oh gaes..

Pada tahun 2008, Taliban menguasai Lembah Swat, sebuah daerah terpencil di Pakistan timur laut. Taliban menerapkan agenda dan propaganda mereka. Yeah, ndak ada televisi, ndak ada ada film, ndak ada perempuan yang diizinkan keluyuran diluar dengan bebas. Parahnya, ndak ada anak gadis yang diperbolehkan untuk bersekolah.

Sejarah mencatet, tahun itu 2009, seorang gadis Pakistan berusia sebelas tahun bernama “MALALA YOUSAFZAI” mulai berbicara menentang larangan sekolah tersebut. Dia terus menghadiri sekolah setempat, mempertaruhkan nyawa dia dan ayahnya. Dia juga menghadiri konferensi di kota-kota terdekat.

Dia juga menulis secara online (BBC, under pseudonym) kalimat-kalimat pertentangan mewakili kegundahan saat itu. Salah satu contohnya Malala menulis “HOW DARE THE TALIBAN TAKE AWAY MY RIGHT FOR EDUCATION?”. Kalimat berani membahana (yang konyol?) yang mempertanyakan kesamaan hak untuk pendidikan.

Cerita mengalir, bisa ditebak aktifitas untuk mendapatkan hak pendidikan dan protes gadis kecil ini untuk kesamaan hak laki-laki dan perempuan membuat Taliban gerah.

Pada tahun 2012, di suatu siang ketika Malala diusia empat belas tahun, ketika dia menaiki bus pulang dari sekolah. Seorang tentara Taliban bertopeng dan bersenjatakan senapan naik bus dan bertanya: “SIAPA YANG BERNAMA MALALA? Katakan padaku, atau aku akan menembak semua orang di sini.

Malala maju. Dengan berani menengadahkan mukanya tepat kearah senapan. Wajahnya, walau diem tapi teguh mengisyaratkan pesan kalau perempuan juga berhak bersekolah. Ndak berapa lama, “DOORR..”, dan pria itu menembak Malala tepat di kepala. Dari jarak dekat. Semua penumpang bus lainnya terdiam. Bergeming. Menyaksikan Malala terjerambab bersimbah darah.

Malala mengalami koma dan hampir saja menghembuskan nafas. Taliban hari itu juga menyatakan secara terbuka bahwa jika Malala berhasil bertahan hidup, mereka akan membunuh dia dan ayahnya.

Apakah ini akhir ceritanya?

Hell, offcourse no guys..

Semua faham. Hari ini, Malala masih hidup. Dia masih berbicara menentang kekerasan dan penindasan terhadap wanita muslim. Menyuarakan persamaan hak untuk untuk mendapatkan pendidikan. Menulis dan berbagi sebanyak mungkin ide dan pemikirannya. Dunia yang lebih baik yang tidak mendikotomi gender.

Dan puncaknya, pada tahun 2014, Malala menerima Hadiah Nobel Perdamaian untuk mengapresiasi segala usahanya itu. Dan yah benar, kejadian ditembak diwajah oleh Taliban malah memberinya audiens yang lebih besar dan mengalirkan rasa empati dari mana-mana.

Dengan segala upaya mempertanyakan hak dan dengan segenap keberaniannya itu, menurut saya yah pantes banget Nobel perdamaian disematkan ke Malala. Pantes, sangat pantes guys.

Last words,

Saya pribadi, suka kalimatnya Malala yang digambar guys. Well, kalau difikir, hari ini, dinegara yang katanya carut marut ini, kita bisa menikmati pendidikan baik wanita ataupun pria. Kita bisa menjalankan ibadah dengan bebas.

Dan itu semua yang membuat saya bersyukur tinggal disini. Dinegara yang merdeka ini. Selamat pagi semua jiwa-jiwa muda dimanapun kelian berada.. 🙏☺️

.

Beli Buku: The Subtle Art Not Giving A Fcuk – Mark Manson

Oh guys..

Ini buku sudah 26 minggu nangkring di “Amazon Charts”. Iyah, buat saya penasaran apa bagusnya. Nah, dua minggu lalu sudah saya beli, tapi belum habis dibaca gaes. Biasalah, a cliche, too many books too little time wkwkw.. ✌️😅

Singkatnya, siapa yang ndak tertarik ketika dibilang tuan Mark Manson “Happiness Is a Problem”. Kemudian kalimatnya yang ngebahas “kamu tidak spesial”. Ini apa maksudnya?

Sengaja memporak porandakan semua anjuran untuk berfikiran positive. Meruntuhkan keyakinan untuk berbuat baik. Well, kalimat “the subtle art not giving a fcuk” beneran intriguing meh. Well, tuan Manson memutarbalikkan semua yang saya fahami. Sungguh backwards rule ini orang, gaes. 😂

Njrit, ini buku wort a read. Layak baca sungguh. Sekilas yah apa adanya. Candor. Authentically. Ntar kalau ada point yang bagus dibuku ini saya share dilini masa ini yah. Semoga punya waktu.. ^_^

Oiyah. Nyang mau baca, silahkan klik ditautan ini:

https://www.amazon.com/Subtle-Art-Not-Giving-Counterintuitive/dp/B01I29Y344

Have a nice weekend everyone! 🙏☺️

*lanjot naik tuk-tuks ke chatuchak market

Waktu Bekerja VS Penghasilan

Guys..

Ceritanya dimulai dari kantor.

Percaya ndak percaya. Sadar ndak sadar. Diakui atau tidak, “pekerjaan” selalu menconsume lebih banyak waktu kita lho guys. See the stats.

Ok, singkatnya begini. Dibeberapa kesempatan, beberapa temen ngajak diskusi terkait waktu kerja. Dan ini hal yang lumrah untuk dibincangkan untuk tipe pekerja kan yah? Yes, Diquadrant E gaes. You will only get 5% wealth. (Employee, Cashflow Quadrant, Kiyosaki).

Kalau menurut buku “work-rules” dan semua buku management solusinya yah umum saja. General. Hal ini balik-balik jawabannya hanya dua hal saja. “TIME MANAGEMENT” dan “PILIHAN”. Iyah nothing new untuk jawaban pertanyaan ini. Lalu apa yang mau dibahas?

Okeh ginilah, ini sesempit pemikirannya saya saja. Ada 3 hal yang kudu dimengerti tentang dua variabel “waktu kerja” yang ditunjukkan digambar dengan variabel satunya lagi yaitu “pendapatan”.

1# JANGAN MENGELUH

Please, jangan pernah mengeluh kalau pendapatannya sesuai dengan waktu yang dihabiskan. Idealnya sih waktu yang dihabiskan sedikit tapi hasil yang dibawa pulang banyak. Haha, semua orang mah bakal milih opsi ini guys. Ah, tapi ndak usahlah kita ber-halu-halu hari gini.

Lantas kalau kenyataanya waktu yang dihabiskan lebih banyak dari pendapatan yang diterima gimana? Yah, pilihannya stay atau cabs dari situ. Jangan menjadi banci. Ndak berani lempar curicullum vitae (CV) keperusahaan lain eh kemana-mana hobinya curhat terus.

Please mbok jangan kekanakan. Mengeluh won’t help you. Percuma. Gadak gunanya. Iyah guys, ini #selfreminding juga. ✌️😆

2# COBA NIKMATI

Yeah rite, ini memang gampang ngemengnya, tapi prakteknya selalu kayak ngebalik telapak tangan (kingkong). Ndak seindah teorinya lho guys. Hiks. But relax, you ain’t alone. Idealnya kalau berhasil dilewati tahap pertama (ndak ngeluh), then langkah keduanya adalah “coba menikmati”.

Menikmati hukumnya sekali lagi jadi wajib karena kebayang tiap melek mata seharian yang dilakukan adalah gawean. Kalau bangun langsung marathon seharian nonton “My Love From The Star” dipojokan tempat tidur mungkin ndak bosen, tapi ini kerja bukan drakor. 😅

So berusahalah untuk menikmatinya walau ndak nikmat haha..

3# BERSYUKUR

And the last one, ini yang paling ultimate. Berkaitan dengan pendapatan, waktu yang dihabiskan, dan seluruh rangkaian cerita diatas adalah: BERSYUKUR!

Kadang yah mbok lihat kebawah juga. Menengadah ke atas bagus untuk memompa motivasi, dia bisa kayak gitu kenapa aku ndak bisa? Akan tetapi, kadang melihat kebawah juga perlu. Untuk melihat ternyata kita lebih “punya” dari yang lain.

Haha, memang benar. Bersyukur itu satu hal, dan berusaha untuk yang lebih baik itu hal yang berbeda menurut saya. Akan tetapi ketika keduanya ballance, then rasa “galau” jadi hilang. Sirna ditelan kegelapan malam.

Oh guys..

Hari ini bisa jadi kawan-kawan memang agak ngambang (mungkin juga gamang) memahami kalimat Conficius: “Choose a job you love, and you will never have to work a day in your life.” Ah tapi kalau ditarik benang merahnya, itu sekali pagi depends on us.

Jawabannya, to be honest, berhenti dikata “time management” dan kata “pilihan”.

Setuju ndak setuju silahkan komentar. Menjawab ndak menjawab ini pandangan saya saja. Kalau berkesan menggurui, saya mohon maaf, ini harusnya memarkomi. Soalnya saya di markom. Marketing komunikasi. Cheers.. 🙏😘

(Gambar diambil dari teaser “WORK RULES” yang ditulis LASZLO BOCK, Senior VP of People Operations di Google. Buku bagus untuk leader jaman now).

Boomerang – Agar Tak Pernah Ada Kata Saling Membenci

Lagu yang paling saya suka di Album Boomerang Disharmoni adalah “Agar Tak Pernah Ada Kata Benci“. Album lama (banget) ini memang. Kalau ndak salah taon 1996 keluar setelah Album KO. Iyah, lagu zombie ini, tetiba saya malah kangen lagu 21 tahun yang lalu ini.. 😂

Liriknya simple. Dan yah itu lagunya pakem rock ballads. Rhytm gitarnya ndak susah. Dan sound lead guitar nya juga ndak rumit. Ndak seperti biasanya “John Paul Ivan” ketika nge-partiture komposisinya. Minimalis agar tetap harmonis. JPI nahan diri. Kelihatannya sih begitu.. 😜

Selanjutnya, Roy Jeconiah juga at his best. Suaranya seperti yang kawan-kawan fahami semua, sengau ndak jelas gitu. Malesnya walau sengau tapi kok yah crunchy. Enak untuk didengerkan sambil pulang kantor sembari menikmati macetnya Polonia Avross menuju Medan Johor.

——

Dan biarkan saja, bunga cinta yang dulu pernah ada// 🌷

Dan tiada berganti, agar tak pernah ada kata saling membenci// 🌷

——

Unuk lengkapnya, silahkan didengarkan sendiri dilayanan “all you can hear” favorit kalian. Apple Music, Spotify, yang pasti ndak disarankan dengerin bajakan. Maju terus musik endonesia. Halah.. ✌️😆

Itu aja guys..

Semangat pagi semua jiwa-jiwa muda yang seumuran saya. Setuju, Boomerang hilang nyawa ketika tuan JPI sama tuan Roy Jeciniah cabs. Ndak gereget. Jadinya band rock kategori average. IMHO. 😅

Anies Baswedan & Istilah Pribumi Non Pribumi

Ah entahlah, gaes..

Pak Anies Baswedan ini adalah favorit saya. Soalnya dia cerdas cendekia, dan dalam berbahasa juga beliau selalu santun. Adem lihatnya.

Heran juga kenapa beliau sampai mengatakan kalimat yang mengkotakkan “pribumi” dan “non-pribumi”, yang beliau sampaikan diawal beliau dilantik kemarin itu. Kalau memang mau kayak negara tetangga malaysia, rasisme etnis dilegalkan saja (affirmative action), dibawa ke ranah undang-undang. 😉

Ah apapun maksudnya beliau guys,

Saya fikir beliau pasti faham segregasi etnis itu ndak benar. Ndak negarawan bangets. Sengaja atau ndak sengaja, dimasa internet zaman now, yang mana orangnya pada lebay-lebay kayak saya, sudah harusnya bapaknya ndak memicu hal-hal yang sensitif.. 🙏😍

Semoga tetap amanah pak.

Ai still lapyu pak. Muachh.. 😘😘

(Gambar diambil ndak izin dari TEMPO)-